Kalah Bersaing dengan Algoritma Media Sosial, Masih Yakin Sekolah Sudah Cukup?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
foto ilustrasi algoritma nan mempengaruhi pendidikan di Indonesia(Sumber: Chat GPT AI).

Setiap kali kualitas pendidikan Indonesia dipertanyakan, kurikulum nyaris selalu menjadi sasaran perubahan. Namun, di era algoritma media sosial, tantangan pendidikan tidak lagi hanya berasal dari ruang kelas, melainkan juga dari sistem digital nan setiap hari membentuk langkah belajar, berpikir, apalagi mengambil keputusan para peserta didik. Di tengah derasnya arus digital, muncul pertanyaan nan lebih mendasar: apakah perubahan kurikulum saja cukup ketika peserta didik justru lebih banyak belajar dari algoritma media sosial dibandingkan dari ruang kelas?

Algoritma Media Sosial Kini Menjadi Ruang Belajar Kedua

Realitasnya, ruang belajar generasi muda tidak lagi terbatas pada sekolah. Setelah bel pulang berbunyi, mereka kembali "belajar" melalui TikTok, Instagram, YouTube Shorts, hingga beragam platform digital lainnya. Algoritma secara terus-menerus menyajikan konten nan dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Akibatnya, waktu nan dihabiskan untuk membaca, berdiskusi, alias berpikir mendalam semakin berkurang.

Laporan Digital Indonesia 2025 menunjukkan bahwa jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai lebih dari 139 juta orang. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran bahwa media sosial sekarang telah menjadi lingkungan belajar kedua bagi jutaan remaja. Bedanya, ruang digital tidak mempunyai kurikulum, guru, ataupun sistem nan memastikan info nan diterima betul-betul mendidik.

Di sinilah tantangan pendidikan berubah. Persoalan hari ini bukan lagi sekadar gimana menyusun kurikulum nan lebih baik, melainkan gimana membikin proses belajar tetap relevan ketika perhatian peserta didik terus diperebutkan oleh algoritma.

Literasi Digital Lebih Penting daripada Sekadar Menghafal

Fenomena nan sekarang sering disebut brain rot menjadi salah satu akibat dari kondisi tersebut. Istilah ini merujuk pada menurunnya keahlian berkonsentrasi, berpikir kritis, dan mengolah info secara mendalam akibat paparan konten digital nan serba singkat dan berulang. Siswa terbiasa memperoleh jawaban secara instan, tetapi semakin jarang diajak memahami proses di kembali jawaban tersebut.

Kehadiran kepintaran buatan (AI) semakin mempercepat perubahan langkah belajar. AI bisa membantu mencari informasi, merangkum materi, apalagi menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan detik. Teknologi ini tentu membawa banyak manfaat. Namun, ketika AI digunakan hanya sebagai jalan pintas, peserta didik berpotensi kehilangan kesempatan untuk melatih keahlian bernalar, mengevaluasi informasi, dan menyusun argumen secara mandiri. Belajar menjadi aktivitas memperoleh hasil, bukan lagi proses membangun pemahaman.

Di sisi lain, perubahan digital juga memengaruhi keahlian sosial generasi muda. Interaksi nan semakin banyak berjalan melalui layar membikin empati sering kali terkikis. Fenomena cyberbullying, ujaran kebencian, penyebaran hoaks, hingga budaya saling menghakimi menjadi bukti bahwa kecakapan digital tidak selalu diikuti oleh kecakapan sosial. Data Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional (I-NAMHS) nan menunjukkan tingginya proporsi remaja dengan masalah kesehatan mental semakin mengingatkan bahwa tantangan pendidikan tidak hanya berangkaian dengan prestasi akademik, tetapi juga kesehatan psikologis dan keahlian membangun relasi nan sehat.

Kurikulum Tidak Lagi Menjadi Satu-satunya Penentu Pembelajaran

Dalam konteks inilah Kurikulum Abad ke-21 sebenarnya mempunyai relevansi nan kuat. Kurikulum ini membawa perubahan paradigma dari pembelajaran nan berpusat pada mahfuz menuju pengembangan keahlian berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Empat kompetensi tersebut memang dibutuhkan untuk menghadapi bumi nan semakin kompleks.

Namun, persoalannya bukan terletak pada konsep kurikulumnya. Persoalan terbesar justru berada pada langkah belajar nan tetap sering mempertahankan pola lama. Di banyak ruang kelas, pembelajaran tetap didominasi pidato satu arah, tugas nan berorientasi pada nilai, serta penilaian nan mengukur keahlian mengingat dibandingkan keahlian menganalisis. Di sisi lain, kehidupan digital peserta didik menawarkan pengalaman nan jauh lebih interaktif, cepat, dan menarik. Akibatnya, sekolah sering kali kalah bersaing dalam merebut perhatian siswa.

Jika kondisi ini terus berlangsung, pergantian kurikulum sebanyak apa pun tidak bakal memberikan akibat nan signifikan. Kurikulum hanyalah kerangka. nan menentukan keberhasilannya adalah gimana pengalaman belajar betul-betul mengubah langkah berpikir peserta didik.

Karena itu, nan perlu diperbarui bukan hanya isi kurikulum, melainkan juga strategi pembelajarannya. Model seperti Project-Based Learning dan Problem-Based Learning menjadi krusial lantaran mendorong siswa mencari info dari beragam sumber, berdiskusi, menguji gagasan, dan menghasilkan solusi atas persoalan nyata. Dalam proses tersebut, siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi belajar mempertanyakan, menganalisis, dan mengambil keputusan.

Literasi digital juga tidak cukup dimaknai sebagai keahlian menggunakan teknologi. nan jauh lebih krusial adalah keahlian memahami gimana algoritma bekerja, kenapa suatu konten muncul di beranda, gimana mengenali misinformasi, serta gimana memanfaatkan AI secara etis dan bertanggung jawab. Peserta didik perlu dididik untuk tidak langsung percaya pada info nan muncul pertama kali, tetapi terbiasa memverifikasi sumber dan mempertanyakan keabsahan informasi.

Hal nan sama bertindak dalam penguatan empati. Empati tidak tumbuh melalui pidato tentang nilai-nilai moral, melainkan melalui pengalaman nyata bekerja sama, berdialog, mendengarkan pendapat orang lain, dan terlibat dalam penyelesaian masalah di lingkungan sekitar. Pembelajaran nan memberi ruang bagi kerjasama dan refleksi jauh lebih efektif membangun karakter dibandingkan sekadar penyampaian teori di dalam kelas.

Sekolah Harus Mengubah Cara Belajar

Namun, sekolah juga tidak mungkin bekerja sendiri. Algoritma media sosial bekerja selama dua puluh empat jam sehari, sementara sekolah hanya mempunyai waktu beberapa jam dalam satu hari. Apa nan dipelajari siswa di kelas dapat dengan mudah tergeser oleh konten digital nan mereka konsumsi di luar sekolah. Oleh lantaran itu, keluarga, masyarakat, platform digital, dan pemerintah mempunyai tanggung jawab nan sama dalam menciptakan ekosistem belajar nan sehat.

Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan sekadar memperbarui kurikulum. Tantangan nan sesungguhnya adalah mengubah langkah belajar agar bisa membentuk peserta didik nan tetap kritis di tengah banjir informasi, bijak memanfaatkan teknologi, dan tetap mempunyai empati di tengah budaya digital nan serba cepat. Selama pembelajaran tetap berorientasi pada mahfuz dan penyelesaian tugas semata, sekolah bakal terus kalah dalam memperebutkan perhatian generasi muda. Kurikulum boleh berganti, tetapi tanpa perubahan langkah belajar, algoritma bakal selalu lebih dulu membentuk langkah berpikir mereka.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan