Kaitan Frailitas dan Demensia: Kondisi Fisik Lemah Percepat Gejala Pikun

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Kondisi Fisik Lemah Percepat Gejala Pikun Ilustrasi.(Magnific)

KONDISI medis nan umum tetapi sering terabaikan dapat membantu mengidentifikasi orang-orang nan berisiko terkena demensia bertahun-tahun sebelum indikasi muncul. Menurut penelitian terbaru, kondisi nan disebut sebagai frailitas (kerapuhan fisik) mempunyai kaitan erat dengan onset demensia nan lebih dini.

Frailitas merupakan kondisi medis nan ditandai dengan penurunan ketahanan bentuk dan peningkatan kerentanan terhadap penyakit. Studi ini menemukan bahwa perseorangan nan mengalami frailitas condong didiagnosis demensia lebih cepat, apalagi pada mereka nan mempunyai tingkat patologi otak mengenai Alzheimer nan relatif rendah.

Penelitian nan diterbitkan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry ini menganalisis info dari 1.614 orang dewasa lanjut usia nan berperan-serta dalam Rush Memory and Aging Project di Illinois, Amerika Serikat. Para peserta diikuti selama rata-rata nyaris 24 tahun untuk memandang gimana frailitas memengaruhi usia pemeriksaan demensia.

Diagnosis 2-3 Tahun Lebih Awal

Para peneliti menggunakan indeks frailitas nan mencakup beragam ukuran kesehatan dan kegunaan tubuh. Peserta dengan skor 0,25 alias lebih tinggi diklasifikasikan sebagai golongan frailitas. Hasilnya menunjukkan bahwa perseorangan dalam golongan ini menerima pemeriksaan demensia sekitar dua hingga tiga tahun lebih awal dibandingkan mereka nan tidak mengalami frailitas.

Hubungan ini diamati pada laki-laki maupun wanita, tanpa memandang tingkat pendidikan alias apakah peserta membawa gen APOE ε4, nan merupakan salah satu aspek akibat genetik terkuat untuk penyakit Alzheimer.

Untuk mendalami hubungan tersebut, peneliti juga memeriksa subkelompok nan terdiri dari 906 peserta nan menjalani autopsi otak setelah meninggal dunia. Mereka membandingkan tingkat frailitas dengan jumlah neuropatologi di otak.

Menariknya, pada orang dengan tingkat patologi otak mengenai demensia nan rendah, frailitas dikaitkan dengan usia pemeriksaan demensia nan nyaris 10 persen lebih awal. Namun, asosiasi nan sama tidak terlihat pada mereka nan sudah mempunyai tingkat patologi otak menengah alias tinggi.

Pentingnya Ketahanan Fisik

Temuan ini menunjukkan bahwa frailitas dapat berkontribusi pada demensia melalui jalur nan beraksi secara independen dari perubahan otak nan biasanya mengenai dengan penyakit neurodegeneratif. Dengan kata lain, kesehatan bentuk dan ketahanan seseorang secara keseluruhan dapat memengaruhi kapan indikasi demensia menjadi nyata.

Dr. David Ward, rekan penulis studi dan peneliti kedokteran geriatri di University of Queensland, menyatakan bahwa frailitas sering kali berkembang secara berjenjang sehingga tanda-tanda awalnya mudah terlewatkan.

Tanda-tanda Awal Frailitas:

  • Berjalan lebih lambat
  • Penurunan kekuatan fisik
  • Aktivitas nan berkurang
  • Kelelahan nan terus-menerus
  • Waktu pemulihan nan lebih lama setelah sakit

"Pendekatan terbaik untuk mencegah alias mengurangi frailitas adalah kombinasi dari aktivitas bentuk rutin, terutama latihan kekuatan, dan diet nan memastikan asupan protein nan memadai," ujar Dr. Ward kepada Newsweek.

Ia juga menyarankan agar lansia secara rutin meninjau penggunaan obat-obatan dengan master dan mendiskusikan pengelolaan kondisi kronis secara lebih efektif. Meskipun studi ini tidak membuktikan bahwa membalikkan frailitas secara otomatis mencegah demensia, menjaga kesehatan bentuk dan ketahanan berpotensi besar menunda munculnya indikasi klinis demensia. (Newsweek/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia