Kaisar Ini Terobsesi Hidup Abadi, Tapi Malah Mati Sebelum Usia 50

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Jakarta -

Kaisar pertama China, Qin Shi Huang pernah begitu terobsesi dengan kehidupan abadi. Namun, dia justru meninggal saat usianya belum menginjak 50 tahun.

Dikutip Ensiklopedia Britannica, Qin Shi Huang lahir sekitar tahun 259 sebelum masehi. Dia adalah kaisar pertama China, ialah dinasti Qin (221-207 SM) nan dianggap sebagai pendiri kekaisaran China.

Adapun Qin Shi Huang awalnya terlahir dengan nama Zhao Zheng. Ia merupakan putra dari Zhuangxiang (yang kemudian menjadi raja negara Qin di barat laut China.

Ketika Zheng, pada usia 13 tahun, secara resmi naik takhta pada tahun 246 SM, Qin sudah menjadi negara terkuat. Dari sini kemudian muncul kesempatan untuk menyatukan seluruh area China dalam satu kekaisaran. Hingga kemudian kekaisaran China pun terbentuk. Ia kemudian mengembangkan pemerintahan birokrasi dan organisasi militer nan kuat sebagai dasar filosofi kekaisarannya.

Untuk menandai pencapaiannya, Zheng mengambil gelar suci para penguasa legendaris dan memproklamirkan dirinya sebagai Qin Shi Huang (Kaisar Berdaulat Pertama). Dengan kepercayaan diri nan begitu besar, dia menyatakan bahwa dinastinya bakal memperkuat selama 10.000 generasi.

Membangun China

Sebagai kaisar, dia memulai serangkaian reformasi nan bermaksud untuk membangun manajemen nan sepenuhnya terpusat, sehingga menghindari munculnya pemerintahan lain. Ia membagi negara menjadi 36 distrik militer, masing-masing mempunyai pengurus militer dan sipilnya sendiri.

Ia juga mengeluarkan perintah untuk standardisasi segala aspek kehidupan rakyat, dari masalah timbangan pedagang, ukuran peralatan dan panjang poros gerobak hingga bahasa tulis dan hukum.

Pembangunan jalan dan kanal dimulai pada eranya. Benteng-benteng nan didirikan untuk pertahanan terhadap invasi barbar dari utara dihubungkan untuk membentuk Tembok Besar China.

Obsesi Kehidupan Abadi

Selama masa kekaisarannya, Qin Shi Huang suka sekali melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaannya. Selain untuk melakukan inspeksi lantaran ketertarikannya pada sihir dan alkimia. Dari sana, dia begitu terobsesi pada kemungkinan para mahir sihir alias kimia nan bisa memberinya ramuan keabadian.

Setelah kegagalan ekspedisi ke pulau-pulau di Laut Timur pada tahun 219, kaisar berulang kali memanggil para penyihir ke istananya.

Tahun Kematian Sang Kaisar

Tahun-tahun terakhir kehidupan Qin Shi Huang didominasi oleh ketidakpercayaan masyarakat nan terus meningkat. Bahkan sempat ada beberapa kali upaya pembunuhan terhadapnya. Semua disebabkan lantaran kehidupan kaisar layaknya dewa nan terisolasi dari penderitaan rakyatnya.

Pada tahun 210, Qin Shi Huang meninggal bumi saat melakukan kunjungan inspeksi. Ia meninggal saat usianya 49 tahun. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman raksasa nan dipahat dari support gunung dan dibentuk sesuai dengan pola simbolis kosmos.

Makam ini kemudian dibangun selama 38 tahun (246-208 SM) dan kemudian dikenal sebagai situs Patung Prajurit Terakota. Patung tentara ini dibuat sebagai simbol penjaga kaisar dalam keabadiannya. Makam ditemukan dimulai pada tahun 1974, dan kompleks tersebut ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987.

Qin Shi Huang hingga hari ini dikenal sebagai salah satu pemimpin di bumi nan begitu terobsesi dengan keabadian. Namun, dia justru meninggal saat usianya belum menginjak usia 50 tahun.

(rdp/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News