Seorang petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) meninjau akomodasi tenda jamaah calon haji Indonesia di Mina, Mekah, Arab Saudi, Sabtu (23/5/2026) waktu setempat. Kementerian Haji dan Umrah mengecek secara langsung kesiapan jasa akomodasi di tenda Mina(Antara/Citro Atmoko)
JEMARI Supriadi, 53, bergerak cekatan memeriksa kembali isi tas di perspektif bilik hotelnya di area Syisyah, Mekah, Minggu (24/5) pagi. Satu per satu bekal seperti beberapa balut makanan ringan, obat-obatan pribadi, seuntai tasbih, sajadah kecil, hingga kitab angan saku dengan tepian mulai lusuh sebagai penanda sahih bahwa lembarannya telah berulang kali dibuka dipastikan tak tertinggal.
Sekilas, kesibukan itu tampak seperti persiapan perjalanan biasa. Namun, bagi jutaan jemaah haji nan bersiap bergerak ke Arafah pada 9 Zulhijah (Senin), tas mini itu bakal menjadi saksi perjalanan spiritual paling krusial dalam hidup mereka.
Bagi jemaah haji Indonesia, fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) merupakan ujian sesungguhnya. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sejak jauh hari mengingatkan bahwa fase ini menuntut kesiapan bentuk prima.
Jemaah kudu menghadapi mobilisasi besar-besaran dari hotel menuju tenda Arafah, bergeser pada tengah malam ke hamparan terbuka Muzdalifah, hingga menempuh perjalanan kaki berkilo-kilometer di Mina di bawah sengatan terik untuk melontar jumrah. Sebuah rangkaian ritual nan menuntut ketahanan tanpa kompromi.
Namun, Supriadi memilih tantangan nan lebih berat. Ia menjadi satu dari sedikit jemaah Indonesia nan memutuskan melaksanakan sunnah Tarwiyah dengan berangkat lebih awal menuju Mina. Minggu (24/5) sore, langkahnya bakal menjadi pembuka perjalanan menuju fase paling krusial dalam ibadah haji.
Secara tradisi, ibadah Tarwiyah dilakukan dengan bermalam (mabit) di Mina menjelang wukuf. Jemaah bertolak dari Mekah pada 8 Zulhijah dan bergeser ke Arafah keesokan hari untuk menyambut puncak haji pada 9 Zulhijah.
Keputusan menjalankan sunnah Tarwiyah tentu membawa akibat bentuk dan mental nan tidak ringan. Bermalam dalam keheningan ibadah di Mina sebelum berasosiasi dengan arus besar jemaah menuju Arafah memerlukan pengelolaan stamina nan matang.
"Fisik kudu betul-betul dijaga ketat. Sejak Jumat (22/5) di Mekah, saya sangat membatasi aktivitas keluar pada siang hari. Minum air tidak boleh menunggu haus, dan persediaan oralit selalu siap di dalam tas," ujar Supriadi saat ditemui Media Indonesia di sela-sela persiapannya.
Di kembali kesiapannya, terselip motivasi pribadi nan membikin laki-laki paruh baya itu kian antusias menantang cuaca ekstrem. Berdasarkan manifes penerbangan, jika seluruh rangkaian Armuzna melangkah lancar dan dia bergeser ke Madinah, Supriadi dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada 2 Juli.
"Tanggal 2 Juli itu pas hari ulang tahun saya," ujarnya dengan senyum merekah, menutupi sisa ketegangan menjelang keberangkatan.
Sementara Supriadi memilih jalur Tarwiyah, persiapan berbeda ditempuh Rochani, 74. Jemaah asal Indonesia itu mengambil jalur Haji Ifrad, metode nan mendahulukan penyelenggaraan ibadah haji secara penuh sebelum menunaikan umrah setelah seluruh prosesi Armuzna rampung.
Sejak tiba di Mekah pada Jumat (22/5), Rochani belum sekalipun menanggalkan dua helai kain putih tanpa jahitan dari tubuhnya. Menjaga kain ihram tetap suci sekaligus menahan diri dari beragam larangan ihram selama berhari-hari di tengah cuaca ekstrem menjadi ujian tersendiri.
"Kami nan datang menjelang puncak haji banyak nan pilih haji ifrad," kata dia.
Bagi Rochani, kesiapan bentuk untuk menghadapi Armuzna telah dipersiapkan sejak memutuskan mengambil jalur Ifrad. Kini, fokusnya tertuju pada penguatan mental. Menjelang pergerakan Armuzna, dia memilih lebih banyak berdiam di bilik hotel, melantunkan talbiyah dan zikir, seraya meminimalkan hubungan dengan hiruk-pikuk di luar.
Keteguhan Supriadi dan Rochani menjadi potret mini perjuangan jemaah haji Indonesia di periode puncak ibadah. Di sisi lain, Kementerian Haji dan Umrah berbareng PPIH terus mengintensifkan edukasi perlindungan bentuk bagi jemaah.
Sengatan panas dan ancaman dehidrasi menjadi musuh nyata. Suhu udara di luar tenda diperkirakan menembus 44 hingga 45 derajat Celsius saat puncak haji berlangsung. Dalam kondisi demikian, menjaga kebugaran bukan lagi sekadar ikhtiar, melainkan syarat utama agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan selamat hingga tuntas, sebuah bingkisan tak ternilai setelah melewati ujian Armuzna. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·