MI/Seno(Dok. Pribadi)
GOMISHAN sebuah nama nan mungkin tidak bakal pernah saya dengar seumur hidup jika tidak menghadiri undangan maulid. Kota mini di Bandar Turkaman, jauh di utara Iran, itu menyimpan wajah nan jarang dibayangkan bumi ketika mendengar nama Iran. Penduduknya suku Turkaman dengan kebanyakan pengikut Ahlusunah. Mereka hidup berdampingan di negeri nan lebih dikenal sebagai negeri Syiah beretnik Persia.
Acara maulid baru dimulai selepas Isya. Saya duduk di antara wanita Turkaman nan bahasanya sama sekali tidak saya pahami. Hanya Atefeh, wanita muda nan paling fasih berkata Persia di sana, nan sesekali menerjemahkan jalannya acara. Ketika tavashih, puji-pujian untuk Nabi dalam bahasa Turkaman, mulai dilantunkan, mata Atefeh berkaca-kaca. Saya menatapnya dan tiba-tiba menyadari, ada jenis kerinduan nan tidak memerlukan penerjemah.
Di pengujung majelis, saya berpelukan dengan Atefeh dan perempuan-perempuan Turkaman itu. Bahasanya tak saya mengerti, tetapi kehangatannya terasa akrab, seperti pelukan sesama jemaah selawatan di kampung saya. Dua kebudayaan, dua bahasa, tetapi satu napas nan sama: kerinduan kepada seorang manusia nan wafat 14 abad lalu, tetapi tidak pernah betul-betul pergi dari hati orang-orang nan mencintainya.
Pengalaman tersebut membawa saya kembali pada masa kecil, ketika saya duduk berdempetan di lantai surau, mendengarkan selawat nan bersahut-sahutan, sementara ibu-ibu membagikan nasi dan lauk nan mereka masak sejak subuh. Ternyata, kerinduan nan saya temukan di pelosok Iran itu bukan sesuatu nan asing. Namun, kerinduan nan pernah tumbuh berbareng saya sejak kecil.
Lalu pertanyaan itu muncul, apa nan membikin kerinduan kepada seseorang nan telah berjarak 14 abad silam bisa menembus sekat bahasa, suku, apalagi mazhab? Barangkali jawabannya bukan semata pada seremoni maulid, melainkan pada sosok nan teladan cintanya tetap hidup jauh setelah dia wafat.
Salah satu bunyi nan paling kuat menghidupkan kerinduan itu seorang penyair sufi berjulukan Jalaluddin Rumi. Menariknya, keluasan cinta dan pandangan Rumi nan sering dianggap toleran dan inklusif justru tidak lahir dari sikap menjauh dari Islam. Franklin D Lewis, dalam Rumi: Past and Present, East and West, menunjukkan bahwa spiritualitas Rumi berakar kuat pada tradisi Islam nan dia pelajari sejak kecil, termasuk pada teladan Nabi Muhammad. Kerinduan spiritual Rumi, dengan demikian, jalan nan semakin dalam menuju Nabi nan menjadi teladannya.
Rumi sendiri menyatakannya dengan sangat tegas dalam salah satu rubainya dari Divan-e Syams,
“Aku hamba Al-Qur’an selama nyawa tetap ada dalam diriku, saya debu di periode pintu Muhammad sang Terpilih. Jika seseorang mengutip perkataanku selain ini, saya berlepas diri darinya dan dari ucapan itu.”
Pernyataan itu nyaris seperti sebuah ikrar. Di kembali keluasan pemikiran dan bahasa cintanya, Rumi menempatkan dua perihal sebagai injakan nan tak tergoyahkan: Al-Qur’an dan kesetiaan kepada Nabi Muhammad.
RUH SEMESTA: MELAMPAU SOSOK HISTORIS
Bagi Rumi, pembicaraan tentang Nabi Muhammad tidak berakhir pada kehidupannya sebagai manusia nan lahir di Mekah, menerima wahyu, dan menyampaikan risalah. Di kembali sosok historis itu, Rumi memandang prinsip nan jauh lebih dalam, dimulai bukan dari sejarah, melainkan dari cinta.
Dalam kisah Mikraj, Rumi menuliskan bahwa cinta Tuhan dan rahasia kecintaan-Nya kepada sang Kekasih menjadi karena utama tersingkapnya seluruh tabir penciptaan. Pada malam pertemuan itu, tulis Rumi, Tuhan berfirman kepada Nabi: “Jika bukan karenamu, tidak bakal Kuciptakan semesta.” Ungkapan nan dikenal sebagai Laulaka ini, bagi Rumi, bukan sekadar pujian tentang keistimewaan Nabi, melainkan penegasan bahwa pembuatan bukan peristiwa kosmologis nan berdiri sendiri, melainkan peristiwa cinta dan Muhammad adalah titik tempat cinta itu mencapai kesempurnaannya.
Di tempat lain dalam Matsnawi, Rumi menggambarkan cinta sebagai kekuatan nan bisa mendidihkan lautan, melumatkan gunung menjadi debu, membelah langit, dan mengguncang bumi. Namun, di antara segala kedahsyatan itu, dia menulis satu baris nan menjadi inti pandangannya: berbareng Muhammad, cinta menemukan pasangan sejatinya. Karena cinta itulah, tulis Rumi, langit dan bumi diciptakan, agar manusia memahami sungguh tingginya cinta itu sendiri. Rumi apalagi menyebut Muhammad sebagai 'sang Penguasa Laulak' rahasia nan menjadi inti seluruh alam semesta.
Dari titik itulah pandangan bumi Rumi tentang Nabi menemukan bentuknya nan paling utuh: jika alam semesta ada lantaran cinta Tuhan kepada Muhammad, kehadiran Nabi bukan sekadar peristiwa nan telah berlalu, melainkan daya nan terus-menerus menghidupkan seluruh eksistensi. Rumi menuliskannya dengan lugas:
“Sibaklah tabirmu, wahai Muhammad, karena bumi hanyalah jasad, dan Engkaulah ruh nan menghidupkannya.” (Matsnawi, jilid 4, bait 1454)
Dalam kosmologi Rumi, jasad tanpa ruh hanyalah bangkai. Ia ada, tapi tidak hidup, tidak bergerak, tidak merasa. Dengan menyebut bumi sebagai jasad dan Nabi sebagai ruhnya, Rumi menempatkan Muhammad sebagai sumber kehidupan nan terus mengalir sampai hari ini.
WAJAH HUMANIS SANG NABI
Dari cinta nan menciptakan semesta itulah, Rumi kemudian menunjukkan sisi lain dari Mustafa nan barangkali paling menyentuh: bukan hanya Nabi sebagai kekasih Tuhan alias ruh nan menghidupkan dunia, melainkan juga Nabi nan datang begitu dekat dengan penderitaan manusia biasa.
Rumi menulis dalam Matsnawi jilid 6, bait 482.
“Sebaik-baik manusia adalah dia nan berfaedah bagi manusia lain, wahai tuan. Jika engkau bukan batu, kenapa berada di padang tandus?”
Perumpamaan itu sederhana, tetapi tajam. Batu ada, tetapi tidak memberikan keteduhan, dia hanya diam. Bagi Rumi, menjadi manusia berfaedah menghadirkan sesuatu bagi kehidupan orang lain dan Mustafa adalah teladan tertinggi dari prinsip itu. Ia menerima wahyu dari langit, tetapi wahyu itu selalu dibawanya kembali kepada manusia di bumi.
Humanisme Nabi dalam pembacaan Rumi tidak berakhir pada pendapat absurd tentang kebaikan. Ia masuk ke wilayah nan sangat konkret: gimana seseorang memperlakukan orang nan kedudukannya lebih rendah. Dalam Matsnawi jilid 6, bait 3974-3975, Rumi menulis, dengan nada menegur dirinya sendiri:
“Sungguh saya malu di hadapan Nabi nan mulia, ketika beliau berkata, ‘Berilah mereka busana sebagaimana busana nan kalian kenakan.’ Mustafa juga beramanat kepada umatnya, ‘Berilah makan mereka nan berada di bawah tanggungan kalian, sebagaimana makanan nan kalian makan’.”
Pesan nan tampak sederhana itu menyimpan pendapat mendalam tentang martabat manusia: bahwa perbedaan posisi sosial tidak boleh menjadi argumen untuk mengurangi kemanusiaan seseorang. Ukuran kemanusiaan seseorang terletak pada gimana dia memperlakukan mereka nan berada di bawah kuasanya.
Ada pula corak kasih nan lebih hening, mengetahui sesuatu tentang seseorang, tetapi memilih untuk tidak mempermalukannya. Dalam Matsnawi jilid 3, bait 162-163, Rumi menulis:
“Ketika Mustafa bisa mencium sesuatu dari kejauhan, gimana mungkin dia tidak mengetahui apa nan keluar dari mulut kita? Ia tentu mengetahuinya, tetapi memilih menutupinya dari kita.”
Nabi memberi manusia sesuatu nan sangat berharga: ruang untuk berubah. Seseorang boleh mempunyai masa lampau nan kelam, tetapi masa lampau bukan berfaedah seluruh dirinya.
Pada titik paling mendalam, Rumi menautkan kenabian dengan kebebasan. Dalam Matsnawi
jilid 6, bait 4540-4542, dia bertanya, “Siapakah Maula? Dialah nan membebaskanmu, nan melepaskan belenggu perbudakan dari dirimu.” Belenggu nan dimaksud jauh lebih dalam, ialah ego, keserakahan, dan ketakutan bakal penilaian orang lain.
Semua gambaran ini, kebermanfaatan, martabat, perlindungan, kebebasan, mengarah pada satu pusat nan sama: manusia. Semakin dekat Mustafa kepada langit, semakin dalam pula kepekaannya terhadap bumi.
MAULID SEBAGAI PERAYAAN KEMANUSIAAN
Mungkin di sinilah maulid menemukan maknanya. Dari selawatan di surau kampung hingga tavashih di desa-desa Iran, kita tidak hanya mengenang kelahiran Nabi, tetapi juga mengingat kembali langkah beliau memperlakukan manusia. Bagi Rumi, mencintai Mustafa tidak cukup dengan mengaguminya. Cinta itu semestinya membikin kita lebih peduli kepada mereka nan lemah, menjaga martabat orang lain, dan memberikan ruang bagi mereka untuk bangkit.
Di Indonesia, kerinduan itu bisa diwujudkan dengan langkah nan sederhana: datang untuk kerabat nan sedang kesulitan, membantu mereka nan terdampak oleh bencana. Misalnya, peristiwa gempa bumi baru saja mengguncang Flores dan sekitarnya di NTT, ada saudara-saudara kita nan kehilangan rumah, rasa aman, apalagi orang-orang nan mereka cintai. Pada saat seperti itu, datang dan membantu mereka, tanpa terlebih dulu bertanya tentang kepercayaan alias latar belakang mereka, menjadi langkah menerjemahkan cinta nan selama ini kita lantunkan dalam selawat.
Bagi Rumi, mencintai sang Nabi bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut namanya, melainkan juga tentang keahlian kita untuk peka dan merasakan penderitaan sesama. Jika maulid hanya membikin kita semakin fasih melantunkan selawat, tetapi tidak membikin kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain, barangkali ada sesuatu nan belum selesai dalam langkah kita mencintai Nabi.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·