Juventus Gagal ke Liga Champions, Luciano Spalletti Kritik Mental Pemain dan Sindir Torino

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Juventus Gagal ke Liga Champions, Luciano Spalletti Kritik Mental Pemain dan Sindir Torino Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, mengkritik mental pasukannya usai seri musuh Torino sekaligus mengecam larangan atribut hitam-putih di stadion.(Juventus)

PELATIH Juventus, Luciano Spalletti, menegaskan para pemain nan tidak mempunyai kepribadian kuat tidak layak bermain untuk The Bianconeri. Kritik pedas ini dilontarkan sang pembimbing setelah Juventus menutup musim 2025/26 dengan hasil seri 2-2 kontra rival sekota mereka, Torino, nan membikin Juve kudu puas finis di ranking keenam dan hanya mendapat tiket Europa League.

Laga berjudul Derby della Mole di Stadio Grande Torino ini juga diwarnai kericuhan dahsyat antarsuporter sebelum laga dimulai, hingga membikin sepak mula tertunda selama satu jam. Seorang suporter Juventus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, sementara tribun tandang dikosongkan oleh fans Juve sebagai corak protes.

Dalam konvensi pers pascapertandingan, Spalletti mengungkapkan kekecewaannya lantaran timnya membuang kelebihan dua gol.

"Saya adalah pembimbing nan kudu memeriksa apa nan terjadi. Kami sempat mengendalikan permainan; di pertandingan seperti inilah Anda memandang karakter orang-orang dan gimana kami terbentuk di dalam. Di pertandingan seperti ini, Anda mencari sesuatu nan lebih. Tidak sama rasanya mempunyai dua poin lebih banyak alias dua poin lebih sedikit," ujar Spalletti kepada Sky Sport Italia.

Spalletti sepakat dengan Direktur Olahraga Damien Comolli mengenai rencana perombakan skuad di bursa transfer musim panas demi menambal kelemahan tim. Ia menekankan perlunya mendatangkan pemain nan mempunyai mentalitas baja.

"Saya pikir karakter selalu membikin perbedaan. Terkadang, kepribadian menyatu. Itu adalah sesuatu nan sama pentingnya dengan kekuatan bentuk dan teknik. Kepala seorang pesepak bola tidak boleh berubah saat menghadapi tim tertentu. Dia bisa menang alias kalah, tetapi kudu selalu mempunyai sikap nan sama," lanjutnya.

"Setiap orang mempunyai keraguan tentang performa saat turun ke lapangan. Ketika Anda tetap terikat pada keraguan ini, Anda menjadi ragu-ragu, jadi Anda kudu melepaskannya dan membikin keputusan. Itulah solusinya. Semua orang mempunyai keraguan, tetapi keputusan kudu dibuat. Jika Anda mempunyai terlalu banyak keraguan, Anda tidak mempunyai cukup karakter, dan Anda tidak bisa bermain untuk Juventus lantaran inilah nan membikin perbedaan."

"Anda tidak mengajarkan kepribadian. Anda bisa mengajarkan strategi dan teknik, tetapi karakter susah untuk dipelajari. Kami mengalami pasang surut."

Di akhir wawancara, Spalletti menyampaikan pesan support untuk suporter Juventus nan sedang kritis di rumah sakit. Ia juga mengecam keras kebijakan kontroversial Torino sebelum laga nan melarang penonton mengenakan atribut Juventus di dalam stadion.

"Kita semua sedang menunggu berita terbaru dari rumah sakit, berambisi fans ini bisa pulih secepat mungkin," pungkas Spalletti.

"Namun, jika sehari sebelum pertandingan, ada pernyataan absurd nan melarang mengenakan warna hitam-putih di tribun, maka masalahnya adalah mereka nan mengatakan beberapa warna kudu dikecualikan, lantaran pada akhirnya, kita menyakiti diri kita sendiri. Dengan semua upaya nan kita lakukan untuk meningkatkan sepak bola. Ada ribuan anak-anak malam ini, dan memberi tahu seorang anak bahwa dia tidak boleh mengenakan syal hitam-putih adalah perihal nan absurd, dan kita kudu menentang ini lantaran itu tidak baik." (Football-Italia/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia