Ilustrasi seorang wanita dengan jerawat di wajah.(Dok. Magnific)
JERAWAT nan muncul tiba-tiba setelah mengonsumsi makanan alias minuman manis rupanya bukan sekadar dugaan belaka. Sejumlah penelitian telah menemukan adanya hubungan antara pola makan tinggi gula alias makanan dengan indeks glikemik tinggi terhadap kemunculan jerawat di kulit.
Meski demikian, makanan manis bukanlah satu-satunya aspek penentu kondisi kulit seseorang. Berdasarkan info dari American Academy of Dermatology (AAD), makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dengan cepat.
Kondisi lonjakan gula darah ini diduga memicu perubahan biologis dalam tubuh nan meningkatkan produksi minyak pada kulit serta memicu peradangan. Kedua aspek inilah nan berkedudukan besar dalam pembentukan jerawat.
Daftar Makanan dengan Indeks Glikemik Tinggi
Penting untuk diketahui bahwa makanan dengan indeks glikemik tinggi tidak hanya terbatas pada permen alias cokelat. Beberapa jenis asupan lain nan dapat menyebabkan kenaikan gula darah secara sigap meliputi:
- Minuman bersoda dan minuman dengan pemanis tambahan.
- Roti putih.
- Kentang.
- Makanan olahan (processed food).
- Beberapa jenis sereal sarapan.
Kaitan Antara Gula, Insulin, dan Jerawat
Ketika kadar gula darah melonjak, tubuh merespons dengan memproduksi hormon insulin. Peningkatan insulin ini kemudian memengaruhi hormon lain dan proses biologis nan berangkaian dengan produksi sebum alias minyak alami kulit.
Produksi minyak nan berlebihan dapat membikin folikel rambut lebih mudah tersumbat. Jika penyumbatan tersebut disertai dengan peradangan, maka jerawat bakal terbentuk. Harvard Health juga mencatat bahwa makanan tinggi gula berpotensi memperburuk kondisi kulit melalui sistem hormonal ini.
Namun, para mahir menekankan bahwa penelitian nan ada saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa makanan tertentu secara langsung menyebabkan jerawat pada setiap perseorangan secara seragam.
Jerawat Adalah Kondisi nan Kompleks
Mengutip Mayo Clinic, jerawat merupakan kondisi kulit kompleks nan terjadi ketika folikel rambut tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati. Selain pola makan, terdapat beragam aspek lain nan saling berkaitan, di antaranya:
- Faktor genetik alias keturunan.
- Perubahan hormon (seperti saat masa pubertas alias siklus menstruasi).
- Aktivitas kuman pada kulit.
- Tingkat peradangan dalam tubuh.
Oleh lantaran itu, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula merupakan langkah bijak untuk menjaga kesehatan tubuh secara umum, namun bukan berfaedah seseorang kudu menghindari seluruh makanan manis demi mendapatkan kulit bersih.
Pengelolaan jerawat tidak hanya berjuntai pada perubahan pola makan. Perawatan kulit harian dan pengobatan medis tetap diperlukan, terutama bagi mereka nan mengalami jerawat kategori sedang hingga berat.
Sebagai langkah preventif, Anda disarankan untuk menjaga pola makan seimbang, membatasi makanan olahan, serta menerapkan rutinitas perawatan kulit nan sesuai. Jika jerawat terus muncul, meradang, alias meninggalkan jejak nan mengganggu, berkonsultasi dengan master ahli kulit adalah langkah nan lebih tepat daripada sekadar menyalahkan satu jenis makanan tertentu.
(American Heart Association (AHA), Harvard Health, Mayo Clinic, American Academy of Dermatology (AAD)/H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·