Jembatan Baru Sungai Yalu Resmi Dibuka, Hubungan Dagang Tiongkok-Korea Utara Menguat

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Jembatan Baru Sungai Yalu Resmi Dibuka, Hubungan Dagang Tiongkok-Korea Utara Menguat Jembatan nan melintasi Sungai Yalu, menghubungkan Tiongkok dan Korea Utara(AFP/MICHAEL ZHANG)

SETELAH tertunda selama satu dekade, jembatan jalan raya nan menghubungkan Tiongkok dan Korea Utara akhirnya resmi dibuka. Media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa pengoperasian prasarana ini menjadi sinyal kuat membaiknya hubungan jual beli dan diplomatik antara kedua negara tetangga tersebut.

Jembatan Baru Sungai Yalu membentang sepanjang 3 kilometer, menghubungkan kota perbatasan Dandong di Tiongkok dengan Sinuiju di Korea Utara. Proyek ini diproyeksikan menjadi rute darat utama untuk perdagangan bilateral, menggantikan Jembatan Persahabatan Sino-Korea nan sudah berumur puluhan tahun dan dibangun pada masa pendudukan Jepang (1937-1943).

Simbol Pemulihan Hubungan

Peluncuran jembatan ini sebenarnya dijadwalkan pada 2014. Namun, pembangunannya sempat terhenti tanpa pemisah waktu setelah Korea Utara menghentikan pengerjaan jalan dan akomodasi bea cukai akibat mendinginnya hubungan dengan Beijing saat itu. Kini, situasi telah berubah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menyatakan bahwa jembatan tersebut merupakan "fasilitas krusial untuk konektivitas" nan bakal memfasilitasi perdagangan serta pertukaran antar-masyarakat. Langkah ini sejalan dengan pemulihan nilai perdagangan kedua negara nan sempat terpuruk akibat pandemi.

Indikator Detail Informasi
Nama Infrastruktur Jembatan Baru Sungai Yalu
Panjang Jembatan 3 Kilometer (1,9 mil)
Nilai Dagang 2025 (Tahun Lalu) US$ 2,7 Miliar (Sekitar Rp42,3 Triliun)
Status Penundaan Tertunda sejak 2014 (10 tahun)

Tantangan Sanksi dan Pengaruh Regional

Meski jembatan telah dibuka, para mahir memprediksi peningkatan perdagangan tidak bakal terjadi secara drastis dalam waktu singkat. Kang Jun-young, guru besar studi Tiongkok di Hankuk University of Foreign Studies, menyebut bahwa hukuman PBB terhadap program nuklir Pyongyang tetap menjadi penghalang utama.

Selain itu, Pyongyang dilaporkan cemas terhadap potensi banjir produk impor Tiongkok nan dapat mendominasi pasar domestik mereka.

"Tiongkok menyadari kekhawatiran ini, sehingga perdagangan kemungkinan besar bakal tumbuh secara bertahap," ujar Kang.

Persaingan Pengaruh dengan Rusia

Pengamat memandang langkah Beijing mempercepat pembukaan jembatan ini sebagai upaya untuk menegaskan kembali pengaruhnya atas Pyongyang. Hal ini terjadi di tengah semakin mesranya hubungan Korea Utara dengan Rusia akibat perang di Ukraina.

Sebagai perbandingan, bulan lalu, Rusia dan Korea Utara juga telah membuka jembatan jalan raya pertama mereka nan bisa menampung hingga 300 kendaraan per hari. Rusia apalagi dilaporkan telah mengirimkan lebih dari 1 miliar barel minyak pada tahun 2024 sebagai hadiah atas pasokan senjata dan pasukan dari Pyongyang.

Leif-Eric Easley, guru besar di Ewha University, Seoul, menilai pembukaan jembatan ini membuktikan bahwa kunjungan Presiden Xi Jinping ke Pyongyang pada Juni lampau bukan sekadar simbolis.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa penundaan panjang proyek ini menunjukkan sungguh sulitnya Korea Utara sebagai mitra kerja sama, apalagi bagi sekutu terdekatnya seperti Tiongkok. (bbc/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑