Jelang Perundingan Damai di Pakistan, Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Militer Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), sehari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Foto: FADEL ITANI/AFP

Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diwarnai ketegangan pada Jumat (10/4). Padahal, negosiasi tenteram dijadwalkan digelar pada Sabtu (11/4) di Pakistan.

Ketegangan itu mencakup tuduhan AS bahwa Iran melanggar janji untuk membuka Selat Hormuz. Di sisi lain, sekutu utama AS, Israel, melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda Iran bakal mencabut blokade total di Selat Hormuz. Penutupan selat tersebut menyebabkan pengedaran daya bumi terganggu.

Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, pada 1 Maret 2026. Foto: Sahar AL ATTAR / AFP

Iran menyatakan, serangan Israel ke Lebanon menjadi penghambat bagi mereka untuk mencabut blokade di Selat Hormuz.

Adapun Donald Trump, melalui unggahan di media sosial, naik pitam lantaran Iran tidak membuka blokade Selat Hormuz.

Dalam unggahan terpisah, Trump berjanji aliran minyak bakal segera kembali lancar. Namun, dia tidak mengungkapkan langkah konkret nan bakal diambil untuk menormalkan kembali pengangkutan minyak.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato nan disiarkan televisi mengenai bentrok Timur Tengah dari Cross Hall, White House (1/4/2026). Foto: Alex Brandon / POOL / AFP

Sedangkan realita di lapangan berbeda. Dalam 24 jam setelah pengumuman gencatan senjata awal pekan ini, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal pengangkut peralatan curah kering nan berlayar melalui selat tersebut.

Sementara itu, Israel pada Jumat ini mengumumkan serangan ke 10 titik di Lebanon nan merupakan letak peluncuran rudal. Pada malam sebelumnya, rudal-rudal dari Hizbullah ditembakkan ke arah Israel.

Pada Kamis (9/4), Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan Iran bakal membalas dendam terhadap pihak-pihak nan menyebabkan perang.

Mojtaba Khamenei, putra kedua Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, mengunjungi instansi Hizbullah di Teheran, Iran, 1 Oktober 2024. Foto: Kantor Pemimpin Tertinggi Iran/WANA via REUTERS

“Kami tentu tidak bakal membiarkan para agresor pidana nan menyerang negara kami lolos dari hukuman. Kami pasti bakal menuntut tukar rugi atas setiap kerusakan nan ditimbulkan,” kata Mojtaba, seperti dikutip dari Reuters.

Di Pakistan, pemerintah setempat bergerak sigap mempersiapkan negosiasi tenteram AS-Iran. Perundingan ini bermaksud mengakhiri bentrok secara permanen.

Iran mengusulkan 10 poin usulan penyelesaian perang. Poin-poin tersebut mencakup mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, pengakuan kewenangan Iran untuk pengayaan nuklir, pencabutan sanksi, serta penghentian serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui pernyataan resmi meminta agar kesepakatan tenteram AS-Iran juga mencakup pelucutan senjata Hizbullah.

“Negosiasi bakal konsentrasi pada pelucutan senjata Hizbullah dan membangun hubungan tenteram antara Israel dan Lebanon,” kata Netanyahu.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan