JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kondisi likuiditas industri perbankan tanah air tetap dalam kategori kondusif dan sangat memadai. Kepastian ini diungkapkan seiring kekhawatiran pasar mengenai rencana penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah dari bank-bank pelat merah (Himbara) serta perubahan suku kembang simpanan nan sempat bergolak dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjabarkan bahwa ketahanan likuiditas secara umum ditopang oleh fondasi rasio-rasio finansial nan kokoh. Meski terdapat penurunan persentase rasio likuiditas akibat tingginya laju angsuran nan melampaui pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), tren tersebut dinilai wajar lantaran merefleksikan peran aktif perbankan dalam memacu perekonomian nasional.
"Sampai dengan Juni 2026, likuiditas perbankan tetap cukup ample dengan LCR sebesar 182,75 persen, rasio AL/NCD mencapai 101,92 persen, dan AL/DPK sebesar 23,08 persen nan berada jauh di atas threshold minimal masing-masing. Penurunan rasio likuiditas pada Juni 2026 akibat pertumbuhan angsuran nan lebih tinggi dibandingkan DPK tetap tergolong wajar demi mendorong pertumbuhan ekonomi," urai Dian dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (16/8/2026).
Sebagai catatan, rasio LCR perbankan pada Juni 2026 berada jauh di atas threshold 100 persen, meski sedikit turun dari posisi Mei 2026 nan sebesar 186,54 persen. Begitu pula dengan rasio AL/NCD nan bergeser ke level 101,92 persen (Mei 2026: 108,20 persen) serta rasio AL/DPK di level 23,08 persen (Mei 2026: 24,74 persen), di mana keduanya tetap jauh melampaui pemisah kondusif regulator masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen.
Meskipun ketahanan likuiditas industri secara agregat dinilai sangat memadai, sebaran likuiditas antarbank diakui tetap bervariasi secara individual. OJK mengimbau pelaku industri untuk jeli dalam menyusun strategi mitigasi guna mengantisipasi penarikan biaya besar seperti SAL pemerintah dari bank-bank Himbara.
"Kondisinya likuiditas dapat bervariasi pada masing-masing bank berjuntai pada struktur pendanaan, profil bisnis, serta strategi pengelolaan aset dan liabilitas nan diterapkan. Oleh lantaran itu, tantangan likuiditas beberapa bank tidak mencerminkan kondisi industri secara keseluruhan, dan kami terus memantau intensif melalui pendekatan pengawasan berbasis risiko," jelas Dian.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·