Petugas melakukan pengecekan takaran Minyakita di pasar tradisional, beberapa waktu lalu.(MI/Depi Gunawan)
STOK minyak goreng rakyat alias Minyakita di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi mulai menipis di tengah rencana pemerintah meningkatkan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Dalam nyaris dua pekan terakhir, pedagang mengaku hanya menerima pasokan sekitar 10 dus Minyakita per minggu. Jumlah tersebut jauh berkurang dibandingkan pasokan biasanya mencapai 50 hingga 100 dus per minggu.
"Biasanya saya dapat 50-100 dus Minyakita setiap minggu, sekarang hanya 10 dus. Di Pasar Atas hanya ada tiga Rumah Pangan Kita (RPK) nan mendapat pasokan. Memang barangnya sedang sulit," kata Hanna Subiarti, pedagang sembako di Pasar Atas Cimahi, Jumat (5/6).
Hanna mengaku tidak mengetahui penyebab berkurangnya stok Minyakita di pasaran. Padahal, produk minyak goreng bersubsidi tersebut menjadi salah satu nan paling banyak dicari masyarakat lantaran harganya relatif lebih terjangkau dibandingkan merek lainnya.
Ia juga telah mendengar rencana pemerintah untuk meningkatkan HET Minyakita. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi berakibat langsung terhadap nilai jual di tingkat konsumen.
"Konsumen pasti keberatan lantaran komoditas lain sudah lebih dulu naik. Ditambah sekarang daya beli masyarakat condong menurun, sementara jumlah pembeli nan datang ke pasar juga terus berkurang," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan, Koperasi, UMKM, dan Perindustrian Kota Cimahi, Indra Bagjana membenarkan hambatan pasokan Minyakita di pasaran. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Bulog mengenai kondisi tersebut.
"Iya betul, suplai dari Bulog memang sedang sulit. Distribusinya dari Bulog langsung ke pedagang lantaran statusnya sebagai pemasok tingkat pertama," ungkap Indra.
Namun demikian, pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab tersendatnya pasokan Minyakita ke para pedagang. Menurut Indra, aspek teknis pengedaran menjadi kewenangan Bulog.
Ia juga memastikan HET Minyakita tetap merujuk pada ketentuan nan bertindak saat ini, ialah Rp15.700 per liter. Adapun nilai baru nan direncanakan pemerintah pusat hingga sekarang belum resmi diumumkan.
"Saya tidak hafal teknisnya seperti apa sampai peralatan tidak tersedia di lapangan. Itu menjadi ranah Bulog," tambah Indra. (DG/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·