Jejak Panjang Blok Gas Raksasa Natuna yang Kini Resmi Dikelola Hashim

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah resmi mengumumkan pemenang lelang Wilayah Kerja (WK) alias blok minyak dan gas bumi (migas) Tahap I Tahun 2026. Dari sejumlah blok nan ditawarkan, salah satu nan menjadi perhatian adalah WK Natuna D-Alpha, blok gas raksasa nan sekarang resmi dikelola perusahaan di bawah Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo.

WK Natuna D-Alpha dimenangkan oleh PT Nations Petroleum melalui sistem penawaran langsung. Perusahaan tersebut merupakan bagian dari golongan upaya Arsari Group nan dimiliki Hashim Djojohadikusumo.

Penetapan pemenang tersebut menjadi bagian dari hasil lelang enam WK migas nan diumumkan pemerintah. Secara keseluruhan, enam WK migas tersebut mempunyai total komitmen pasti untuk tiga tahun pertama senilai US$141,512 juta, serta bingkisan tanda tangan sebesar US$1,6 juta.

Penetapan pemenang lelang tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 108.K/MG.4/DJM/2026 tanggal 17 September 2026.

Berdasarkan keterangan resmi Kementerian ESDM, enam WK migas nan ditetapkan pemenangnya terdiri atas dua WK melalui sistem lelang penawaran langsung, ialah WK Sapukala dan WK Natuna D-Alpha.

Sementara itu, empat WK lainnya ditetapkan melalui sistem lelang reguler berasas area studi ABT 2025, ialah WK Bengara II, WK Pesut Mahakam, WK Puri, dan WK Rupat.

Dengan ditetapkannya pemenang tersebut, pemerintah memberikan kepastian baru bagi pengembangan sejumlah wilayah kerja migas strategis, termasuk Natuna D-Alpha nan selama bertahun-tahun menjadi salah satu wilayah dengan potensi sumber daya gas terbesar di Indonesia.

Sejarah Natuna D-Alpha

Wilayah Kerja (WK) Natuna D-Alpha mempunyai sejarah panjang dalam upaya pengembangan persediaan migas raksasa Indonesia. Blok nan berada di lepas pantai Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, tersebut telah melewati sejumlah perubahan operator dan skema pengelolaan sebelum kembali ditawarkan pemerintah kepada investor.

Sejarah pengembangan Natuna D-Alpha bermulai pada 1973 ketika operator asal Italia ialah AGIP menemukan kandungan gas di Lapangan AL nan kemudian dikenal sebagai Natuna D-Alpha. Wilayah ini disebut mempunyai potensi hidrokarbon nan sangat besar, dengan perkiraan sumber daya gas lebih dari 200 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/ TCF).

Potensi tersebut kemudian menarik minat ExxonMobil. Pada 1980, ExxonMobil mendapatkan kewenangan pengelolaan wilayah Natuna D-Alpha. Namun, pengembangan lapangan tersebut menghadapi beragam tantangan lantaran tingginya kandungan karbon dioksida (CO2) dalam gas Natuna.

Setelah bertahun-tahun tidak kunjung dikembangkan secara komersial, pemerintah akhirnya menghentikan perjanjian ExxonMobil pada 2007. Lalu pada 2008, pemerintah menyerahkan pengelolaan Natuna D-Alpha kepada PT Pertamina (Persero).

Pertamina kemudian berupaya mencari mitra untuk mengembangkan lapangan gas raksasa tersebut. Dalam prosesnya, Pertamina menggandeng sejumlah perusahaan migas internasional. ExxonMobil kembali masuk berbareng Pertamina dan Total dalam upaya pengembangan Natuna D-Alpha.

Sejalan dengan perihal itu, Lapangan ini kemudian diubah namanya menjadi East Natuna alias Natuna Timur. Dalam perkembangan berikutnya, Petronas juga masuk ke dalam konsorsium tersebut. Namun, Petronas kemudian digantikan oleh perusahaan migas asal Thailand, PTT Exploration and Production (PTT EP), pada 2012.

Meski telah melibatkan sejumlah perusahaan migas besar dunia, pengembangan East Natuna kembali buntu. Konsorsium nan dibentuk untuk mengembangkan lapangan tersebut akhirnya berhujung pada 2017.

Setelah konsorsium tersebut berakhir, pemerintah kembali menugaskan Pertamina untuk melanjutkan upaya pengembangan East Natuna. Namun, pengembangan lapangan tidak kunjung terealisasi secara komersial.

Hingga akhirnya pada 2022, Pertamina mengembalikan pengelolaan proyek East Natuna kepada pemerintah. Pengembalian tersebut dilakukan lantaran proyek dinilai memerlukan investasi nan sangat besar, terutama untuk menangani tingginya kandungan CO2.

East Natuna Dipecah Jadi Tiga Wilayah Kerja

Setelah pengelolaan East Natuna dikembalikan kepada pemerintah, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan skema baru untuk kembali menawarkan potensi migas di area East Natuna kepada investor.

Pemerintah memecah Blok Natuna menjadi tiga wilayah kerja migas, ialah Arwana-Barakuda, Natuna D-Alpha, dan Paus. Pemecahan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menarik kembali minat penanammodal terhadap area nan mempunyai potensi sumber daya migas jumbo tersebut.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM yang saat itu dijabat oleh Tutuka Ariadji mengatakan, ketiga wilayah tersebut bakal ditawarkan melalui sistem lelang internasional secara terbuka.

"Pertengahan Mei pas ada IPA (Indonesian Petroleum Association Conference & Exhibition) itu kita umumkan di situ bakal sangat bagus, kita kan perlu cari dulu fans Natuna ini, jika kita umumkan kudu tahu peminatnya, sekian untuk Natuna," ungkap Tutuka dalam Konferensi Pers, Senin (30/1/2023).

Dalam beberapa kesempatan, Tutuka sendiri mengaku prihatin pengembangan Blok East Natuna telah mangkrak hingga puluhan tahun lamanya. Padahal, blok jumbo ini sendiri mempunyai persediaan nan lebih besar dibandingkan Blok Masela.

"Kita bakal bagi tiga lantaran terlalu besar blok itu. Di atas ada minyak, nan tengah ini nan D-Alpha nan cadangannya besar 46 TCF, lebih besar dari Masela, tapi mengandung karbon nan tinggi. Untuk itu perlu ditawarkan sendiri nan D-Alpha ini," kata Tutuka dalam aktivitas Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (26/12/2022).

Kini, setelah melalui perjalanan panjang sejak pertama kali ditemukan pada 1973, Natuna D-Alpha resmi dikelola oleh PT Nations Petroleum.

(ven/wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News