Jakarta, CNN Indonesia --
Polisi mengamankan 12 pelajar tingkat SMP/MTs buntut tindakan tawuran di Jalan Raya Cikunir, dekat Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi Selatan, Kota Bekasi.
Kapolsek Bekasi Selatan, AKP Rumangga P. Napitupulu menerangkan tindakan tawuran bermulai dari komunikasi antara dua golongan pelajar melalui pesan langsung alias direct message (DM) IG pada Rabu (14/10) sekitar pukul 14.00 WIB.
"Kedua golongan menyepakati duel dua musuh dua dan menentukan letak pertemuan di Jalan Raya Cikunir pada sore harinya," kata Rumangga dalam keterangannya dikutip Jumat (16/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, sekitar pukul 17.30 WIB, kedua golongan nan masing-masing berjumlah sekitar 10 dan 15 orang tiba di letak menggunakan sepeda motor. Empat pelajar dari kedua pihak kemudian terlibat bentrok menggunakan senjata tajam jenis samurai dan golok serta penggaris besi.
Setelah kejadian, polisi langsung turun tangan untuk menyelidiki tindakan tawuran itu. Selanjutnya, mengamankan enam pelajar berinisial APK (14), SAS (14), A (13), AP (15), CBH (15) dan FK (15).
Polisi kemudian melakukan pengembangan dan kembali mengamankan enam pelajar lainnya. Mereka masing-masing berinisial RFA (13), IRR (15), MRA (15), A (16), MR (15) dan RBA (13).
"Jumlah pelajar nan diamankan sekarang mencapai 12 orang dari dua golongan berbeda, meningkat dari laporan awal sebanyak enam orang," ucap Rumangga.
Rumangga menyebut identifikasi terhadap kedua golongan dilakukan melalui pemeriksaan dan penelusuran komunikasi di media sosial.
Berdasarkan keterangan awal, masing-masing golongan mempunyai pengelola akun IG nan digunakan untuk berkomunikasi sebelum bentrokan. Penyidik sekarang mendalami keterkaitan komunikasi tersebut dengan peran para pelajar nan berada di letak kejadian.
Diketahui, tindakan tawuran itu menyebabkan pelajar berinisial F mengalami luka bacok pada pergelangan tangan kiri dan punggung kiri dan saat ini dirawat RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi. Sementara itu, RFA dari golongan musuh juga mengalami luka pada tangan kiri akibat sabetan penggaris besi.
Dalam kasus ini, polisi turut mengamankan peralatan bukti berupa satu bilah golok, lima telepon genggam, serta sejumlah busana nan berangkaian dengan peristiwa tersebut.
"Penanganan kami lakukan terhadap kedua golongan secara menyeluruh dan berimbang. Kami mendalami siapa nan terlibat langsung dalam kekerasan, siapa nan membawa senjata, serta peran pihak lain di letak kejadian. Setiap anak kudu diperiksa berasas keterlibatannya masing-masing, sehingga proses norma tidak hanya didasarkan pada keberadaan mereka dalam kelompok," tutur Rumangga.
Rumangga menambahkan bahwa pemeriksaan terhadap para pelajar dilakukan dengan memperhatikan ketentuan penanganan anak nan berhadapan dengan hukum. Penyidik juga mendalami keterangan saksi dan peralatan bukti untuk memperjelas tanggung jawab setiap pihak.
"Kami mau memastikan seluruh kebenaran terungkap secara objektif. Penanganan perkara kudu tetap mengedepankan kepastian norma sekaligus memperhatikan kewenangan dan masa depan anak-anak nan terlibat," ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Pol Putu Kholis Aryana menyampaikan keprihatinan atas keterlibatan anak-anak nan tetap berumur sangat muda dalam tindakan kekerasan bersenjata.
"Sangat memprihatinkan ketika anak-anak nan semestinya sedang belajar dan mempersiapkan masa depan justru terlibat dalam perkelahian nan membahayakan nyawa. Peristiwa ini kudu menjadi perhatian bersama, bukan hanya bagi kepolisian, tetapi juga keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial," ucap dia.
"Kita kudu memastikan mereka mendapatkan pembinaan nan tepat, tanpa mengabaikan pertanggungjawaban norma atas perbuatannya. Jangan sampai kesalahan pada usia muda menghancurkan masa depan mereka," sambungnya.
(ugo/dis)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·