
Cukur bulu kemaluan. (Foto: Freepik)
TREN merawat kebersihan area sensitif alias pubic hair grooming kerap menjadi perdebatan tersendiri. Sebagian orang memilih mencukurnya hingga licin, melakukan waxing, alias sekadar merapikannya. Namun, gimana sebenarnya pandangan medis mengenai kebiasaan ini?
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, meluruskan dugaan keliru mengenai keberadaan bulu kemaluan nan sering dianggap mengganggu alias kotor. Lewat unggahan di akun IG pribadinya, dia menegaskan bahwa bulu kemaluan mempunyai peran fisiologis nan krusial bagi tubuh.

“Pertama, saya mau lurusin dulu, bulu kemaluan itu bukan kotoran. Pubic hair itu punya kegunaan alami. Salah satunya adalah membantu mengurangi gesekan pada kulit area genital dan memberikan perlindungan pada kulit nan sensitif,” ujar dr. Aditya.
1. Tidak Ada Kewajiban Bulu Kemaluan Dicukur Habis
Menurutnya, tidak ada indikasi alias tanggungjawab medis nan mengharuskan seseorang mencukur bulu kemaluan hingga bersih total. Malah, tindakan mencukur nan tidak hati-hati menyimpan akibat cedera nan cukup tinggi pada kulit area sensitif.
dr. Aditya membeberkan info dari riset JAMA Dermatology terhadap 5.674 orang nan melakukan pubic hair grooming. Hasil studi menemukan bahwa sebanyak 25,6 persen responden pernah mengalami cedera akibat proses mencukur alias merapikan bulu kemaluan.
“Dan cedera nan paling banyak dilaporkan adalah luka alias laceration, sekitar 61,2% dari cedera. Kemudian burn itu 23% dan ruam 12,2%. Bahkan, 1,4% dari seluruh groomer sampai memerlukan pertolongan medis. Berarti ini ada case nan kudu diperhatikan,” terangnya.
2. Risiko nan Berpotensi Muncul
dr. Aditya menambahkan, teknik mencukur nan terlalu menempel pada permukaan kulit berpotensi menimbulkan mikroluka, iritasi, razor burn, folikulitis (peradangan folikel rambut), hingga ingrown hair alias rambut tumbuh ke dalam. Ketika lapisan pelindung kulit (skin barrier) di area genital rusak, akses masuk mikroorganisme penyebab jangkitan menjadi jauh lebih terbuka.
“Makanya para peneliti juga mengingatkan, cedera di area genital itu dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, termasuk jangkitan menular seksual,” tegasnya.
Bagi mereka nan menyukai metode waxing, dr. Aditya menyebut teknik ini memang efektif mencabut rambut hingga ke akar sehingga hasilnya memperkuat lebih lama. Meski begitu, waxing tetap membawa akibat iritasi alias luka jika teknik nan diterapkan salah alias aspek higienitasnya terabaikan.
Menariknya, studi JAMA Dermatology mencatat bahwa pada perempuan, metode waxing justru berangkaian dengan tingkat cedera berulang nan lebih rendah dibandingkan penggunaan pisau cukur manual alias non-elektrik.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·