Jalan Terjal Maryanah: 2 Kali Usaha Tutup, Kini Kuliahkan Anak dari Jualan Es Teh

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah ramainya area Grand Kahuripan, Klapanunggal, Bogor, Jawa Barat, Maryanah (43) konsentrasi melayani pembeli. Gelas-gelas es teh berukuran jumbo berjejer di meja mini depan kiosnya. Tangan Maryanah cekatan menuang teh, es batu, dan gula ke dalam cup plastik sebelum menyerahkannya kepada pelanggan.

Usaha minuman itu terlihat kecil. Namun dari tempat mini itulah Maryanah membiayai pendidikan anak-anaknya hingga kuliah.

“Yang saya pikirin itu sekolah anak,” kata Maryanah saat ditemui di letak usahanya, Sabtu, 16 Mei 2026.

Suara Maryanah bergetar ketika bercerita tentang anak sulungnya nan sudah lulus kuliah. Baginya, keberhasilan anak-anak mengenyam pendidikan lebih tinggi menjadi pencapaian nan tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

“Saya sendiri hanya sampai SMA. Dulu pengin kuliah juga nggak ada biaya. Jadi pas anak bisa wisuda, bangga banget,” ujarnya sembari berderai air mata.

Kini anak pertamanya telah lulus S1 dan bekerja. Sementara anak keduanya tetap kuliah di Universitas Gunadarma dan tinggal satu tahun lagi menyelesaikan pendidikan. Menurut Maryanah, seluruh biaya pendidikan anak berasal dari hasil upaya nan dia jalani selama bertahun-tahun.

Maryanah mulai berdagang minuman es teh jumbo sejak beberapa tahun lalu. Awalnya dia menjual teh poci dengan nilai Rp 5 ribu per gelas di area Bromo, Grand Kahuripan. Saat itu usahanya berkembang cukup pesat.

Dalam sehari, dia mengaku bisa menghabiskan hingga 10 termos teh. Dari upaya itu pula dia sempat mempekerjakan tenaga kerja untuk membantu melayani pembeli dan mengurus dagangan lain.

“Dulu sehari bisa lenyap 10 termos. nan pegang teh ada sendiri, nan pegang bakaran juga ada,” ujarnya.

Usahanya terus berkembang hingga membuka beberapa bagian di sejumlah letak seperti Perumahan Palad, Cibeber, Gandoang, Pasar Dugul, hingga Grand Kahuripan.

Namun persaingan upaya minuman semakin ketat ketika minuman es teh jumbo dengan nilai Rp 3 ribu mulai bermunculan. Maryanah sempat memperkuat dengan nilai lama lantaran biaya bahan baku dan bungkusan teh poci dinilai lebih mahal.

Di tengah persaingan nilai itu, penjualan sempat turun drastis. Dari sebelumnya bisa menghabiskan 10 termos per hari, penjualan menurun menjadi sekitar dua termos.

Maryanah kemudian memutuskan mengubah konsep jualannya. Dia tetap mempertahankan rasa teh nan sama, tetapi mengganti bungkusan agar biaya produksi lebih murah dan nilai jual bisa mengikuti pasar.

“Saya pikir nan krusial rasanya tetap sama. Jadi konsumen tetap kembali lagi,” katanya.

Menurutnya, pengguna nan sudah terbiasa membeli minumannya tetap datang lantaran merasa rasa teh buatannya berbeda dengan nan lain.

“Alhamdulillah tetap banyak pengguna lama nan kembali lagi,” ujarnya.

Saat ini Maryanah mempunyai empat bagian upaya nan tersebar di Grand Kahuripan, Perumahan Palad, Pasar Dugul, dan area Bromo Grand Kahuripan.

Meski upaya nan dijalankan mengalami pasang surut, Maryanah mengaku tetap memperkuat lantaran mempunyai tujuan nan mau dicapai. Selain membiayai pendidikan anak, dia mau mempunyai tabungan untuk masa tua agar tidak berjuntai kepada siapa pun.

“Kalau anak kelak sukses, saya nggak mau berjuntai sama mereka. Pengen punya pegangan sendiri dari hasil upaya ini,” katanya.

Awal perjalanan upaya Maryanah dimulai dari modal sekitar Rp 6,5 juta. Dengan modal tersebut, dia mendapatkan satu set komplit upaya es teh, mulai dari perlengkapan jualan, meja bongkar pasang, hingga payung untuk berdagang di lapangan.

Namun, kondisi di lapangan tidak selalu mudah. Peralatan awal nan digunakan tidak tahan terhadap cuaca. Saat hujan dan angin kencang, payung dan meja nan digunakan sering kali tidak kuat. Bahkan sampai terbalik dan membikin peralatan serta duit dagangan ikut basah.

Kondisi itu membikin Maryanah beberapa kali kudu berdagang dalam keadaan kurang nyaman. Dia dan tenaga kerja kerap kehujanan saat melayani pembeli. Bahkan ketika belum mempunyai banyak tenaga kerja, dia sendiri nan turun langsung menjaga lapak.

“Kalau hujan sore, saya langsung tutup. Soalnya sudah basah kuyup, jadi nggak lezat juga jika tetap melayani,” ceritanya.

Dari pengalaman itu, Maryanah akhirnya memutuskan beranjak menggunakan gerobak nan lebih tertutup. Menurutnya, dengan sistem nan lebih aman, upaya tetap bisa melangkah meskipun cuaca tidak mendukung.

Perjalanan memulai upaya ini juga tidak langsung mendapat support penuh dari keluarga, terutama suami. Saat pertama kali mengusulkan modal, sang suami sempat meragukan upaya tersebut lantaran dianggap hanya upaya mini nan tidak menjanjikan.

“Awalnya suami nggak setuju, katanya hanya jualan es teh,” ungkapnya.

Meski begitu, Maryanah tidak menyerah. Dia terus meyakinkan bahwa upaya ini bisa berkembang. Bahkan dia sempat mengusulkan untuk menggunakan sistem pinjaman alias patungan modal, dengan komitmen bakal mengganti setelah upaya berjalan.

Omzet Rp 1,2 Juta per Hari

Maryanah bisa menjual sekitar 50 cup per hari dengan nilai Rp 3.000 pada satu bagian jika kondisi normal. Jika dihitung dari bahan nan digunakan, satu kilogram bahan minuman alias setara satu termos dapat menghasilkan sekitar 35 cup.

Dalam sehari, terutama saat kondisi ramai, penggunaan bahan seperti teh dan gula bisa mencapai sekitar 5 kilogram untuk menunjang kebutuhan produksi di satu titik usaha. Namun, setiap bagian mempunyai karakter penjualan nan berbeda. Ada nan sudah stabil, ada pula nan tetap baru dan dalam tahap pengembangan.

Salah satu bagian nan berada di area pasar misalnya, hanya beraksi pada pagi hari mulai sekitar pukul 05.30 hingga 10–11 siang. Waktu operasional nan singkat membikin penjualan di letak tersebut lebih terbatas dibanding bagian lainnya.

Selain es teh, Maryanah juga menambah ragam dagangan dengan menjual cilok seharga Rp 1.000 per biji. Cilok tersebut diambil dari pemasok dalam corak bungkusan berisi 50 biji dengan nilai sekitar Rp 35.000. Dalam sehari, penjualan cilok bisa mencapai 8 hingga 10 kantong, tergantung tingkat keramaian pembeli.

Jika seluruh bagian digabungkan, omzet kotor harian upaya Maryanah dapat mencapai sekitar Rp 1,2 juta pada kondisi ramai. Namun nomor tersebut tetap kudu dikurangi biaya operasional seperti pembelian bahan baku, termasuk tambahan stok cilok sekitar Rp 500 ribu serta kebutuhan gula dan teh.

Setelah dikurangi seluruh biaya operasional dan dialokasikan untuk kebutuhan upaya serta karyawan, untung bersih nan tersisa dari satu titik upaya berada di kisaran sekitar Rp 300 ribu per hari.

Jaga Kualitas Minuman

Dalam menjalankan usahanya, Maryanah sangat menjaga kualitas rasa sebagai kunci utama agar pengguna tetap bertahan. Dia mengaku tidak banyak mengubah bahan baku nan digunakan sejak awal berdagang es teh.

“Bahannya saya nggak ubah. Tetap pakai nan sama, meskipun nilai naik turun. nan krusial tetap masuk dan tetap laku,” ujarnya.

Menurutnya, strategi upaya tidak selalu soal mencari untung besar per cup, tetapi gimana menjaga perputaran penjualan tetap stabil. Dia memilih untung nan lebih kecil, namun dengan jumlah pembeli nan lebih banyak.

Pernah suatu waktu, dia mencoba menyesuaikan nilai menjadi Rp 4.000. Namun, penjualan justru sempat menurun. Dari situ, dia kembali menyesuaikan nilai dan menghadirkan pilihan Rp 3.000 dengan porsi nan lebih mini agar tetap terjangkau bagi pelanggan.

Dari konsistensi rasa tersebut, tanpa disadari minuman buatannya mulai dikenal pelanggan. Banyak pembeli nan kemudian menyebut es tehnya sebagai “teh legend” lantaran rasanya dianggap unik dan konsisten dari waktu ke waktu. Julukan itu akhirnya dia jadikan sebagai nama dagangan nan dipakai hingga sekarang.

Tidak hanya es teh, produk cilok nan dia jual juga mengalami perihal serupa. Meski produk diambil dari pemasok nan sama dengan pedagang lain, Maryanah berupaya menjaga kualitas penyajian, termasuk penggunaan saus nan menurutnya menjadi salah satu pembeda.

Dia memilih menggunakan saus dengan kualitas lebih baik meskipun harganya lebih mahal dibanding nan umum dipakai pedagang lain. Menurutnya, selisih biaya tetap bisa ditutup dengan perputaran penjualan nan stabil.

“Kalau kualitas dijaga, pengguna biasanya tetap kembali lagi,” katanya.

Hal itu terlihat dari pengguna nan tetap setia datang meski jarak cukup jauh. Beberapa di antaranya apalagi menyebut anak mereka hanya cocok dengan cilok dan es teh nan dijual Maryanah.

Selain menjaga rasa, Maryanah juga menerapkan kebiasaan berbagi dalam usahanya. Setiap hari Jumat, dia rutin mengadakan aktivitas sederhana seperti “Jumat berkah” dengan memberikan minuman cuma-cuma kepada pengguna alias menambahkan jumlah pesanan tanpa biaya tambahan.

Menurutnya, perihal mini seperti itu bukan hanya soal berbagi, tetapi juga bagian dari menjaga hubungan baik dengan pelanggan.

“Walaupun hanya satu, orang biasanya senang dan doakan nan baik-baik,” ujarnya.

Jatuh Bangun Saat Pandemi Covid-19

Sebelum menekuni upaya es teh, Maryanah lebih dulu menjalankan upaya mini di kantin sebuah sekolah di Jakarta Timur, tepatnya di SMP 210. Saat itu, suaminya tetap bekerja di Astra. Namun Maryanah merasa perlu ikut membantu ekonomi family dan mempersiapkan masa depan anak-anaknya.

Dengan tiga anak nan tetap sekolah, satu di SMK, satu di SMP, dan satu tetap TK, kebutuhan family semakin besar. Dari situlah dia mulai mencari tambahan penghasilan melalui upaya kantin.

Melihat kesempatan untuk mengembangkan usaha, Maryanah kemudian mengusulkan pinjaman ke BRI sebesar Rp 100 juta. Dana tersebut dia rencanakan untuk membiayai pendidikan anak sekaligus modal usaha. Namun, situasi berubah drastis ketika pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia pada tahun 2020.

Usaha kantin nan dia jalankan langsung berakhir lantaran sekolah ditutup. Suaminya pun sempat dirumahkan. Kondisi ini membikin pemasukan terhenti. Sementara angsuran bank tetap melangkah dan kebutuhan keluarga, termasuk biaya kuliah anak pertama di Universitas Mercu Buana, tetap kudu dipenuhi.

Dalam kondisi tersebut, Maryanah mengaku sempat kewalahan. Tabungan nan ada perlahan lenyap untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan cicilan.

Di tengah situasi susah itu, dia memutuskan untuk pindah dari Jakarta Timur ke wilayah Cileungsi. Di tempat baru, dia mencoba memulai kembali upaya dari nol dengan membuka warung makanan di area Bromo.

Usaha tersebut menjual makanan seperti soto dan sop iga, termasuk juga es teh nan menjadi awal perkenalannya dengan minuman tersebut. Untuk membuka upaya itu, dia menyewa tempat dengan biaya sekitar Rp 30 juta per tahun. Meski terasa berat, dia tetap menjalankannya dengan kepercayaan agar tetap mempunyai sumber penghasilan.

Pada awalnya, upaya tersebut melangkah cukup baik. Bahkan dia sempat mempunyai empat tenaga kerja lantaran ramainya pembeli. Selain makanan berat, dia juga menambahkan menu seperti roti bakar dan minuman sehingga konsepnya mirip warung makan sekaligus tempat nongkrong.

Namun seiring waktu, persaingan upaya di sekitar letak semakin ketat. Perlahan omzet mulai menurun hingga akhirnya upaya tersebut hanya memperkuat sekitar satu tahun. Kondisi biaya sewa nan tinggi membuatnya tidak sanggup melanjutkan upaya di tempat itu.

Meski upaya warung berhenti, Maryanah tidak menyerah. Dia tetap memperkuat dengan berdagang es teh dan mencoba beranjak letak usaha. Dari titik inilah upaya es teh nan dia jalankan mulai berkembang dan memperkuat hingga sekarang.

Selama perjalanan usahanya, Maryanah juga merasakan akibat langsung dari skema pinjaman BRI. Dia sempat mendapatkan keringanan berupa penangguhan angsuran selama masa pandemi sekitar enam bulan. Menurutnya penangguhan itu sangat membantu di saat kondisi finansial family sedang sulit.

Pinjaman nan dia ambil dalam beberapa tahap kemudian digunakan untuk beragam kebutuhan, mulai dari biaya kuliah anak, modal usaha, hingga pengembangan upaya es teh di letak baru. Bahkan sebagian biaya juga digunakan untuk memperkuat stok peralatan agar bisa mendapatkan nilai lebih murah dan upaya lebih stabil.

Hingga saat ini, Maryanah sudah tiga kali melakukan pinjaman dan pengembangan upaya melalui BRI, masing-masing sekitar Rp 100 juta. Uang itu digunakan secara berjenjang untuk menopang upaya dan kebutuhan keluarga.

BRI Dorong UMKM Tumbuh Lewat KUR

Di tengah dinamika ekonomi masyarakat Cileungsi nan terus berkembang, pelaku upaya mikro mini dan menengah (UMKM) tetap menjadi sektor nan paling banyak mengandalkan pembiayaan dari perbankan, khususnya BRI. Skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi pilihan utama dibandingkan angsuran komersial seperti Kupedes.

Kepala BRI Cileungsi, Luki Perdana menjelaskan bahwa KUR lebih diminati lantaran mempunyai kembang subsidi dari pemerintah serta persyaratan agunan nan lebih ringan. Hal ini membikin akses pembiayaan menjadi lebih mudah bagi pelaku upaya kecil.

Menurutnya, karakter masyarakat Cileungsi nan cukup beragam juga turut memengaruhi pola pembiayaan. Banyak pelaku UMKM merupakan pendatang nan tinggal di kontrakan dan belum mempunyai aset tetap seperti sertifikat tanah untuk dijadikan agunan kredit.

“Kalau Kupedes kan biasanya butuh agunan seperti sertifikat tanah,” ujarnya.

Dari sisi aktivitas ekonomi, sektor perdagangan dan jasa tetap menjadi penopang utama di wilayah tersebut. Kehadiran area industri dan pabrik di sekitar Cileungsi ikut mendorong tumbuhnya usaha-usaha pendukung, mulai dari warung makan, kontrakan, hingga perdagangan di pasar.

“Perdagangan banyak di pasar-pasar. Kontrakan juga berkembang lantaran banyak pabrik,” kata Luki.

Meski demikian, tantangan ekonomi tetap dirasakan oleh para pelaku UMKM. Luki menyebut bahwa sebagian upaya nan sebelumnya melangkah baik sekarang mengalami penurunan omzet, nan berakibat pada keahlian pembayaran angsuran.

Di sisi lain, jumlah debitur UMKM di BRI Cileungsi tetap menunjukkan tren peningkatan. Saat ini, tercatat sekitar 4.800 hingga 5.000 pengguna aktif nan dibiayai melalui beragam skema pembiayaan UMKM.

“Nasabah baru tetap terus bertambah,” ujarnya.

Untuk melayani kebutuhan tersebut, BRI Cileungsi mempunyai delapan petugas mantri lapangan nan secara langsung menangani penyaluran kredit. Setiap mantri rata-rata bisa menambah sekitar lima hingga tujuh debitur baru setiap bulan.

Namun, BRI tidak hanya konsentrasi pada penyaluran pembiayaan. Pendampingan terhadap pelaku UMKM juga menjadi bagian krusial dari proses, mulai dari awal pencairan hingga upaya berjalan.

“Fokus kami bukan hanya kasih modal, tapi juga mendampingi agar upaya bisa naik kelas,” kata Luki.

Pendampingan dilakukan secara rutin oleh mantri lapangan, umumnya setiap satu hingga tiga bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa biaya pinjaman betul-betul digunakan untuk aktivitas upaya produktif.

Selain itu, BRI juga mendorong digitalisasi transaksi di kalangan UMKM. Hampir seluruh pengguna nan menerima pembiayaan sekarang langsung diarahkan untuk menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran.

Setelah penerapan QRIS, mantri juga kembali turun ke lapangan untuk memberikan edukasi penggunaan aplikasi BRI Merchant serta sistem pembayaran digital lainnya.

“Mantri langsung nan mendampingi di lapangan,” ujarnya.

Menurut Luki, keberadaan UMKM nan terus berkembang juga memberi akibat positif bagi ekonomi sekitar. Tidak sedikit upaya nan kemudian bisa menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar.

“Ada UMKM nan berkembang dan akhirnya membuka lapangan kerja baru,” katanya.

Ke depan, BRI Cileungsi menargetkan penyaluran pembiayaan UMKM dapat terus meningkat, baik melalui program KUR maupun skema pembiayaan lainnya, sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sektor upaya kecil.

“Fokus kami tetap di pengembangan UMKM,” tutup Luki.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita