Jalan Raya Bukan Tempat Belajar Mengemudi

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
ilustrasi gambar generate AI

Jarum jam telah melewati tengah malam. Jalan tampak lengang. Saya mengemudikan mobil dengan kecepatan nan wajar ketika, dalam hitungan detik, sebuah sepeda motor mini nan dikendarai seorang anak bergerak ke arah jalur saya. Refleks menginjak rem dan membanting stir kekiri menjadi satu-satunya pilihan. Peristiwa itu berlalu, tetapi meninggalkan satu pertanyaan nan terus memenuhi akal saya, kenapa seorang anak nan semestinya sedang terlelap di rumah justru berada di jalan raya, mengendarai kendaraan bermotor?

Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa nan betul alias salah atas sebuah peristiwa. Proses norma mempunyai ruangnya sendiri untuk menilai fakta. nan mau saya ajak renungkan adalah persoalan nan jauh lebih besar, kenapa kita tetap menganggap lumrah ketika anak-anak mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum?

Biarkan Anak Tetap Menjadi Anak

Anak-anak mempunyai kewenangan untuk menikmati masa kecilnya. Mereka semestinya pulang membawa cerita tentang sekolah, bermain berbareng teman, belajar mengejar cita-cita, alias sekadar menikmati malam dengan tidur nyenyak di rumah. Masa kanak-kanak adalah waktu untuk bertumbuh, bukan untuk memikul tanggung jawab nan belum semestinya mereka emban.

Namun, realitas nan kita lihat justru berbeda. Di banyak daerah, anak-anak nan mengendarai sepeda motor telah menjadi pemandangan biasa. Ada nan berangkat ke sekolah sendiri, membantu orang tua berbelanja, apalagi berkendara hingga larut malam. Apa nan semula merupakan pelanggaran perlahan berubah menjadi kebiasaan, lampau diterima sebagai sesuatu nan dianggap wajar.

Padahal, tidak ada satu pun anak nan tiba-tiba berada di kembali kemudi kendaraan bermotor tanpa keputusan orang dewasa. Selalu ada tangan nan menyerahkan kunci, selalu ada orang nan berkata, "Tidak apa-apa, toh jaraknya dekat, dan sayang mengawal dari belakang" alias "tenang, Anak saya sudah pandai membawa motor." Kalimat-kalimat seperti inilah nan tanpa disadari membangun normalisasi terhadap sesuatu nan sesungguhnya berbahaya.

Kemampuan memutar gas, menginjak rem, dan menjaga keseimbangan bukanlah ukuran seseorang layak mengemudi. Mengemudi menuntut keahlian membaca situasi, mengendalikan emosi, memahami aturan, dan mengambil keputusan dalam hitungan detik. Semua itu memerlukan kematangan nan tidak bisa dipercepat hanya lantaran seorang anak terlihat berani.

Orang tua sering kali rela mengantar anak ke sekolah, menunggu mereka pulang les, apalagi begadang ketika anak sakit. Semua itu dilakukan lantaran cinta. Namun, cinta juga menuntut keberanian untuk berkata, "Belum." Belum waktunya mengendarai sepeda motor. Belum waktunya mengambil akibat nan belum bisa mereka pahami. Sebab tugas orang tua bukan hanya membesarkan anak, tetapi juga memastikan mereka tetap mempunyai kesempatan untuk tumbuh.

Jalan Raya Menuntut Kedewasaan

Jalan raya bukan ruang bermain, bukan laman rumah, dan bukan tempat belajar mengemudi. Jalan raya adalah ruang publik tempat ribuan orang berbagi ruang, waktu, dan akibat setiap hari. Di sana melintas kendaraan dengan kecepatan nan berbeda, pejalan kaki, pesepeda, pengendara sepeda motor, kendaraan besar, serta beragam situasi nan kerap datang tanpa peringatan. Dalam ruang nan begitu dinamis, satu keputusan nan keliru dapat mengubah banyak kehidupan hanya dalam hitungan detik. Sebab, ketika berada di jalan raya, satu perihal nan betul-betul dapat kita kendalikan hanyalah diri kita sendiri.

Kita tidak pernah bisa mengendalikan langkah orang lain berkendara, kapan mereka lengah, alias keputusan apa nan bakal mereka ambil. Karena itulah, kedewasaan, kehati-hatian, dan kepatuhan terhadap patokan bukan sekadar tanggungjawab pribadi, melainkan corak tanggung jawab untuk melindungi diri sendiri sekaligus menjaga keselamatan sesama pengguna jalan.

Mengemudi bukan sekadar bisa menjalankan kendaraan. Mengemudi adalah keahlian memahami aturan, menghormati pengguna jalan lain, memperkirakan risiko, bersikap tenang saat menghadapi situasi darurat, serta mengambil keputusan nan tepat dalam sepersekian detik. Semua itu memerlukan kedewasaan nan tidak diukur dari tinggi badan alias keberanian, melainkan dari kesiapan mental dan rasa tanggung jawab.

Tidak ada orang tua nan pernah bermohon agar anaknya mengalami kecelakaan. Setiap angan nan dipanjatkan selalu sama, semoga anak tumbuh sehat, bahagia, dan pulang ke rumah dengan selamat. Karena itu, jangan biarkan rasa sayang berubah menjadi kelalaian. Menyerahkan kunci kendaraan kepada anak nan belum siap bukanlah corak kepercayaan, melainkan akibat nan suatu hari dapat berubah menjadi penyesalan nan tak bisa diulang.

Biarkan anak tumbuh sesuai usianya. Akan datang masanya mereka cukup dewasa untuk menggenggam setang kendaraan dan menentukan arah hidupnya sendiri. Namun sebelum hari itu tiba, biarkan mereka lebih lama menggenggam tangan orang tuanya. Sebab tangan orang tua semestinya menjadi tempat paling kondusif bagi seorang anak, bukan kunci kendaraan nan membawa mereka terlalu sigap menghadapi akibat nan belum bisa mereka pahami.

Jalan raya bakal selalu ada. Sepeda motor bisa dibeli kapan saja. Namun masa mini seorang anak tidak bakal pernah terulang. Jangan biarkan satu keputusan nan tampak sederhana hari ini merampas kesempatan mereka untuk tumbuh, bermimpi, dan pulang ke rumah dengan senyum nan tetap utuh.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan