Jakarta, CNBC Indonesia - PT Home Credit Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga kualitas pembiayaan di tengah perubahan lanskap industri multifinance nan terus berubah.
Acting Chief Executive Officer Home Credit Sylvia Lazuarni mengakui ekspektasi konsumen saat ini telah berubah. Dengan penetrasi smartphone nan semakin tinggi, masyarakat menginginkan proses pembiayaan nan sederhana, cepat, dan minim hambatan.
Namun bagi Home Credit, kecepatan jasa tidak boleh mengorbankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. Menurut Sylvia, tantangan industri saat ini bukan lagi sekadar mempercepat proses persetujuan kredit, tetapi memastikan akses pembiayaan tetap sehat dan berkepanjangan bagi konsumen.
"Kami selalu memandang trade-off antara pertumbuhan, profitabilitas, dan kualitas portofolio. Tapi ada satu perihal lagi nan krusial bagi kami, ialah responsible lending (pembiayaan nan bertanggungjawab)," kata Sylvia dalam Multifinance CEO Gathering 2026 CNBC Indonesia, di Jakarta, Selasa, (11/8/2026).
Sylvia mengatakan salah satu konsentrasi perusahaan adalah mencermati perubahan perilaku konsumen dan kejuaraan nan terus berkembang. Selama ini, Home Credit mengandalkan proses akuisisi pengguna baru melalui pembiayaan peralatan di toko mitra.
Meski seluruh proses pengajuan angsuran telah dilakukan secara digital dan paperless sejak sebelum pandemi, pengguna baru tetap kudu menyelesaikan proses transaksi secara tatap muka dibantu oleh 6.000 Sales Agent nan tersebar di sekitar 23.000 toko mitra di seluruh Indonesia.
Pada saat ini, jasa Home Credit tersedia di lebih dari 270 kota dan kabupaten di Indonesia. Pada awal 2026, Home Credit memperluas layanannya di Indonesia Timur dengan membuka jasa di wilayah Jayapura, Papua, melengkapi kehadiran perusahaan di beragam pulau besar lainnya dari Sumatera hingga Sulawesi.
Pendekatan hybrid antara teknologi digital dan asistensi langsung di toko menjadi salah satu pembeda Home Credit dalam menjaga kualitas proses akuisisi dan underwriting pelanggan. Saat ini proses persetujuan angsuran Home Credit dilakukan melalui dua langkah.
Pertama, pengguna mengusulkan pembiayaan dan memperoleh persetujuan awal beserta batas angsuran melalui aplikasi My Home Credit. Kedua, pengguna datang ke toko untuk membeli barang, lampau perusahaan kembali melakukan penilaian berasas sejumlah faktor, mulai dari jenis toko, letak toko, hingga kategori produk nan dibeli.
"(Misalnya) hari ini batas sudah bisa didapatkan lebih dulu. Tapi ketika pengguna datang ke toko, kami tetap melakukan underwriting untuk menentukan product offering nan tepat. Bisa berbeda-beda tergantung profil akibat dan produk nan dibeli," jelasnya.
Home Credit menilai proses tersebut krusial untuk memastikan keahlian bayar pengguna tetap terjaga. Perusahaan mencontohkan, meski seorang pengguna telah memperoleh batas kredit, Home Credit tetap melakukan pengecekan lanjutan terhadap beragam info dan tanggungjawab finansial nan dimiliki pelanggan.
"Kalau kami memandang total tanggungjawab pengguna berpotensi melampaui pemisah keahlian bayar nan sehat, maka kami bakal melakukan penyesuaian. Itu bagian dari upaya menjaga kualitas angsuran sekaligus melindungi konsumen," katanya.
Home Credit mengakui bahwa tantangan ke depan adalah menemukan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan masyarakat nan menginginkan jasa sigap dan mudah dengan menjaga kualitas portofolio perusahaan. Pada saat ini, Non-performing Finance (NPF) net Home Credit per Juni 2026 berada di level 0,47% atau tetap di bawah level nan ditentukan regulator sebesar 5%.
Ke depan, Home Credit bakal terus mengevaluasi beragam penemuan jasa agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar nan semakin digital. Namun perusahaan memastikan prinsip prudent responsible lending bakal tetap menjadi fondasi utama dalam setiap pengembangan bisnisnya.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·