Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, N. Nurlaela Arief pada aktivitas Rapat Koordinasi Humas dan Protokol Diktisaintek 2016.(Dok.ITB)
PERKEMBANGAN teknologi digital telah mengubah langkah lembaga mengelola komunikasi publik, termasuk dalam menghadapi beragam situasi krisis. Di tengah arus info nan bergerak sigap dan masif, keahlian mendeteksi, menganalisis, serta merespons rumor secara tepat menjadi kebutuhan krusial bagi perguruan tinggi.
Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Humas dan Protokol Diktisaintek 2026 nan digelar di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (3/6). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 350 praktisi humas perguruan tinggi dari beragam wilayah di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. N. Nurlaela Arief, berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi dalam penanganan krisis komunikasi di lingkungan perguruan tinggi.
Menurut Nurlaela, pengelolaan komunikasi krisis saat ini tidak lagi cukup mengandalkan intuisi alias respons reaktif semata. Setiap langkah komunikasi kudu dibangun berasas info nan jeli dan bukti nan dapat dipertanggungjawabkan.
PERAN TEKNOLOGI
Ia menjelaskan, teknologi mempunyai peran strategis dalam membantu lembaga memahami perkembangan rumor secara lebih komprehensif. Melalui pemanfaatan info dan beragam perangkat digital, lembaga dapat memetakan persepsi publik, memantau percakapan di media sosial, serta mengidentifikasi potensi krisis sejak dini.
“Dengan menggunakan teknologi, kita bisa berkedudukan krusial dalam perihal strategis, seperti berkontribusi untuk pengambilan keputusan nan penting,” ujar Nurlaela.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi tidak hanya membantu mempercepat respons komunikasi, tetapi juga mendukung proses pengambilan keputusan nan lebih tepat oleh ketua institusi. Dengan info nan tersedia secara real time, beragam potensi akibat dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi krisis nan lebih besar.
KOMUNIKASI DI ITB
Nurlaela mengungkapkan, strategi komunikasi nan diterapkan di ITB tidak hanya terpusat pada unit humas, tetapi melibatkan seluruh komponen kampus, termasuk fakultas, sekolah, dan beragam unit kerja lainnya. Pendekatan tersebut dilakukan agar setiap unit mempunyai kapabilitas komunikasi nan memadai ketika menghadapi rumor nan berpotensi memengaruhi reputasi institusi.
Menurutnya, penguatan kapabilitas komunikasi di tingkat unit menjadi krusial lantaran sumber info sering kali berasal dari beragam lini organisasi. Dengan pemahaman nan sama, respons terhadap rumor dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan konsisten.
Meski teknologi menjadi instrumen penting, Nurlaela menegaskan bahwa keberhasilan penanganan krisis tetap berjuntai pada koordinasi dan kerjasama antarpihak. Komunikasi nan intensif antara pimpinan, unit kerja, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi aspek utama dalam menjaga kecermatan info nan disampaikan kepada publik. “Dengan teknologi dan komunikasi intensif, kita tidak melangkah sendiri, tapi melibatkan beragam pihak,” katanya.
Forum tersebut juga menghadirkan Direktur Humas, Media, Pemerintah dan Internasional Universitas Indonesia, Erwin Agustian Panigoro, serta Direktur Kerja Sama, Komunikasi dan Pemasaran Institut Pertanian Bogor (IPB), Alfian Helmi, sebagai narasumber.
Selain dihadiri ratusan praktisi humas perguruan tinggi, aktivitas itu turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, sejumlah kepala jenderal di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemendiktisaintek Yos Sunitiyoso.
TANTANGAN KOMUNIKASI PUBLIK
Dalam forum tersebut, para peserta membahas beragam tantangan komunikasi publik nan dihadapi perguruan tinggi di era digital. Mulai dari penyebaran info nan sangat cepat, meningkatnya ekspektasi publik terhadap transparansi institusi, hingga pentingnya menjaga reputasi kampus di tengah persaingan global.
Nurlaela menegaskan, penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, dan koordinasi lintas unit kudu menjadi bagian dari strategi komunikasi perguruan tinggi ke depan. Menurutnya, kombinasi ketiga aspek tersebut bakal membantu lembaga menghadapi beragam dinamika komunikasi publik secara lebih responsif, akurat, dan terukur.
“Perguruan tinggi kudu siap menghadapi perubahan lanskap komunikasi nan sangat dinamis. Karena itu, kesiapan SDM dan pemanfaatan teknologi menjadi aspek krusial dalam menjaga kepercayaan publik terhadap institusi,” ujarnya. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·