Israel Panik Usai Isi MoU AS-Iran Mulai Terungkap

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Israel Panik Usai Isi MoU AS-Iran Mulai Terungkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbareng Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan).(AFP )

DALAM dinamika terbaru bentrok Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik nan semakin besar setelah Amerika Serikat memutuskan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Iran untuk menghentikan bentrok nan berjalan di kawasan.

Langkah Washington tersebut dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan sikap Netanyahu nan selama ini menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran dan golongan sekutunya, termasuk Hizbullah di Libanon, belum berakhir.

Di tengah upaya diplomatik nan digagas Amerika Serikat, Netanyahu tetap menunjukkan sikap keras terhadap Iran. Namun, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengakui bahwa pendekatan Israel kerap mempersulit proses negosiasi nan sedang berlangsung.

Trump apalagi menyampaikan rasa frustrasinya terhadap kebijakan Israel, khususnya serangan nan terus dilakukan ke wilayah Lebanon dan berpotensi mengganggu pembicaraan antara Washington dan Teheran.

"Tanpa saya, tidak bakal ada Israel lantaran tidak ada presiden lain nan bersedia melakukan apa nan sudah saya lakukan," kata Trump kepada awak media pada Selasa (16/6) saat ditanya soal Netanyahu.

Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pandangan nan semakin jelas antara kedua pemimpin mengenai arah penyelesaian bentrok di kawasan.

Analis politik Israel, Akiva Eldar, menilai Netanyahu sekarang berada dalam posisi nan susah akibat kedekatannya dengan Trump selama beberapa tahun terakhir.

Menurut Eldar, hubungan nan sangat erat dengan Presiden AS membikin ruang mobilitas Netanyahu semakin terbatas ketika Washington mengambil kebijakan nan berbeda dengan kepentingan politiknya.

"Menolak Presiden Trump secara terang-terangan dan tetap memperkuat di Lebanon adalah langkah bunuh diri secara politik baginya," kata Eldar dilansir Al Jazeera, Kamis (18/6).

Ia menilai Netanyahu saat ini kudu mempertimbangkan beragam akibat politik menjelang pemilu Israel berikutnya.

"Netanyahu sedang bermain, baik secara politik maupun diplomatik, dengan punggung menempel ke dinding," ujar Eldar.

"Jika dia menerima dikte Amerika Serikat, itu bakal menjadi preseden, lantaran selama ini Netanyahu terus mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya pemimpin nan bisa mengatakan tidak kepada Presiden Amerika Serikat," paparnya.

Di dalam negeri, muncul kekhawatiran setelah isi draf MoU AS-Iran mulai beredar di media Israel. Sejumlah program politik televisi dilaporkan menyoroti kemungkinan akibat kesepakatan tersebut terhadap kepentingan keamanan Israel.

Sebagian kalangan di Israel selama ini menganggap operasi militer terhadap Iran semestinya berujung pada perubahan rezim di Teheran. 

Selain itu, mereka juga berambisi bentrok tersebut dapat menghentikan secara permanen program nuklir Iran, keahlian pengayaan uranium, serta pengembangan rudal balistik negara tersebut.

Namun, isi MoU nan beredar disebut tidak memuat sejumlah tuntutan utama nan selama ini menjadi prioritas Israel. Situasi itu memunculkan kekhawatiran di kalangan publik maupun pejabat negara tersebut.

Dari perspektif sebagian kalangan di Israel, kesepakatan nan ada saat ini apalagi dinilai kurang menguntungkan dibandingkan jika tidak ada kesepakatan sama sekali.

Kekhawatiran semakin meningkat lantaran arsip tersebut tidak secara definitif melarang Iran melakukan pengayaan uranium, tidak membahas program rudal balistik, dan tidak menyinggung kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan, termasuk Hizbullah.

Sebaliknya, penghentian operasi militer di Libanon justru menjadi salah satu poin nan secara jelas tercantum dalam kesepakatan.

Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan tekanan tambahan bagi Netanyahu dan koalisi pemerintahannya nan selama ini mengusung pendekatan keamanan nan lebih garang terhadap Iran dan kelompok-kelompok nan didukung Teheran.

Di sisi lain, Netanyahu juga tetap menghadapi tantangan politik domestik nan tidak ringan. 

Selain menghadapi tekanan menjelang pemilu, dia juga tetap dibayangi sejumlah perkara norma nan berpotensi bersambung andaikan kehilangan support politik pada masa mendatang. 

Situasi ini membikin setiap keputusan mengenai bentrok regional mempunyai akibat nan besar, baik bagi masa depan pemerintahannya maupun pekerjaan politik pribadinya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia