INDONESIA International Sustainability Forum (ISF) 2026.(Dok. ISF 2026)
INDONESIA International Sustainability Forum (ISF) 2026 menghasilkan sejumlah kemitraan dan inisiatif baru nan mendorong agenda pertumbuhan berkelanjutan, sekaligus memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan dalam penyelenggaraan forum itu sendiri.
Sepanjang dua hari penyelenggaraan ISF (6-7/10/20206), baik pemerintah, bumi usaha, investor, lembaga keuangan, dan mitra internasional menghadirkan beragam perkembangan di bagian daya bersih, industri, ekonomi sirkular, kehutanan, kelautan, hingga pembiayaan.
Mengusung tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World,” ISF 2026 menempatkan keberlanjutan dalam konteks nan lebih luas ialah gimana agenda tersebut dapat melangkah seiring dengan pertumbuhan ekonomi, penguatan daya saing, pembuatan nilai, dan ketahanan jangka panjang.
Mempertemukan Kebutuhan Energi Bersih Global dengan Potensi Indonesia Salah satu kerja sama nan ditandatangani pada ISF 2026 adalah Memorandum of Understanding (MoU) antara The Climate Group dan PT PLN (Persero), mengenai RE100 Corporate Green Power Demand Research and Analysis.
MoU tersebut ditandatangani oleh Helen Clarkson, CEO The Climate Group, dan M. Fahrur Rozy, Direktur Retail dan Commerce PT PLN (Persero), serta disaksikan oleh Darmawan Prasodjo, Direktur Utama PT PLN (Persero), dan Edo Mahendra, Executive Chairperson Indonesia Energy Transition Implementation Joint Office.
Inisiatif ini diumumkan dalam ISF 2026 di Jakarta, sejalan dengan upaya Indonesia mengembangkan 100 GW kapabilitas daya surya baru pada 2030. Kerja sama ini diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan dunia terhadap daya terbarukan dengan pengembangan produk dan solusi daya hijau di Indonesia.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu menarik investasi hijau, memperluas akses perusahaan terhadap daya terbarukan, dan mendukung pertumbuhan industri nan lebih berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas akses bumi upaya terhadap listrik terbarukan nan andal dan terjangkau, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung percepatan transisi daya dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Perusahaan Indonesia Pertama Bergabung dalam RE100
Momentum ISF 2026 juga ditandai dengan bergabungnya Asia Pulp & Paper (APP) Group ke dalam RE100, menjadikannya perusahaan Indonesia pertama nan menjadi personil inisiatif dunia tersebut.
Penandatanganan dilakukan oleh Helen Clarkson OBE, CEO The Climate Group, dan Elim Sritaba, Chief Sustainability Officer APP Group. Keanggotaan tersebut memberikan APP akses terhadap jaringan dunia RE100 untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan perkembangan mengenai transisi menuju daya terbarukan.
Langkah ini juga memperkuat keterhubungan perusahaan Indonesia dengan jaringan korporasi dunia nan mendorong peningkatan penggunaan daya terbarukan.
Mendorong Sirkularitas di Rantai Nilai Tekstil
Dari sektor industri, Rantai Tekstil Lestari (RTL) dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) menandatangani MoU untuk membangun strategic alliance dalam mendorong keberlanjutan dan sirkularitas di sepanjang rantai nilai tekstil dan garmen Indonesia. MoU ditandatangani oleh Indah Budiani, Direktur Eksekutif IBCSD, dan Basrie Kamba, Ketua Umum RTL.
Kolaborasi mencakup pembelaan kebijakan, penguatan kemitraan industri, keterlibatan publik, pengukuran kemajuan, pengembangan kapasitas, serta pertukaran pengetahuan. Kemitraan ini diharapkan dapat mempercepat penerapan praktik upaya berkepanjangan dan ekonomi sirkular di industri tekstil, sekaligus membuka ruang bagi pemanfaatan skill industri, teknologi, dan investasi untuk mendukung penguatan industri hijau.
Membuka Model Baru Pengelolaan Hutan
Agenda keberlanjutan di ISF 2026 juga bergerak ke sektor kehutanan melalui inisiatif, “From Forests to Future: Scaling Sustainable and Regenerative Multi-Business Forestry in Indonesia”.
Inisiatif tersebut mendorong pengembangan multiusaha kehutanan nan lebih berkepanjangan dan regeneratif dengan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan pasar. Upaya ini juga bermaksud untuk mengembangkan lanskap percontohan, memperkuat akses pasar dan model bisnis, serta mendukung kebijakan nan memungkinkan pengembangan program dalam skala lebih luas.
Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Kehutanan, APHI, KKI Warsi, KEM, Titian Lestari Foundation, PBPH nan berpartisipasi, masyarakat lokal dan masyarakat adat, serta pembeli komoditas berbasis hutan.
Sejumlah perkembangan nan diumumkan mencakup lima lanskap percontohan, 21 PBPH nan telah diidentifikasi untuk pengembangan lebih lanjut, serta pipeline sekitar 128.000 hektare. Program tersebut juga mencatat kesempatan investasi hingga Rp13 triliun dalam lima tahun, sekaligus upaya memperkuat akses pasar bagi komoditas berbasis hutan.
Membangun Pipeline Investasi Rumput Laut
Di sektor kelautan, ISF 2026 menjadi momentum peluncuran Indonesia Seaweed Inc Country Platform, sebuah inisiatif UNRCO-APINDO nan diarahkan untuk memperkuat ekosistem investasi rumput laut Indonesia.
Platform ini dirancang untuk menerjemahkan Business Sector Communiqué dari Financing for Development menjadi pipeline proyek nan layak investasi, termasuk melalui pengembangan proyek rumput laut nan layak memperoleh pembiayaan (bankable), memobilisasi pembiayaan campuran (blended finance), menghubungkan aktivitas budidaya di sektor hulu dengan pengolahan dan pasar di sektor hilir, serta mengoordinasikan para pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta.
UN, APINDO, dan Bappenas menjadi pemain utama dalam platform ini, dengan support antara lain dari OJK, Standard Chartered, Conservation International, Konservasi Indonesia, dan YKAN.
Peluncuran tersebut juga menjadi titik awal bagi sejumlah kemitraan dan uji coba di bagian budidaya rumput laut dan biostimulant, dengan tujuan membangun pipeline proyek nan dapat dikembangkan lebih lanjut.
Menempatkan Keberlanjutan dalam Penyelenggaraan Forum
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diterapkan pada penyelenggaraan ISF 2026 sendiri. Dalam rangkaian acara, Bank Mandiri menyerahkan sertifikat angsuran karbon untuk mendukung offset emisi penyelenggaraan ISF 2026.
Sertifikat tersebut diserahkan oleh Henry Panjaitan, Vice President Director Bank Mandiri Indonesia, kepada Rachmat Kaimuddin, Managing Director of Development Investment, Danantara Development Management Fund.
Kredit karbon tersebut berasal dari Proyek Lahendong Unit 5 dan Unit 6 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, dengan total 209 ton CO₂e nan di-offset untuk penyelenggaraan ISF 2026.
Dari Percakapan ke Langkah Berikutnya
Rangkaian outcomes tersebut memperlihatkan semakin luasnya ruang kerjasama nan dibangun melalui ISF 2026. Energi, industri, kehutanan, kelautan, pembiayaan, hingga penyelenggaraan forum menjadi bagian dari agenda nan sama: gimana keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi kesempatan investasi, penguatan daya saing, dan langkah nan dapat dijalankan.
Ketua Panitia ISF 2026, Rachmat Kaimuddin menekankan bahwa Indonesia mempunyai potensi besar untuk mendorong agenda keberlanjutan, didukung oleh meningkatnya minat, pendanaan, dan daya kerjasama dari beragam pihak. Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan upaya konkret untuk menghasilkan proyek nan siap didanai dan memperkuat kapabilitas sumber daya manusia.
“Ada banyak pendanaan, minat, dan daya untuk mendorong keberlanjutan di Indonesia dan dunia. Ada banyak harapan, tetapi kita perlu memastikan bahwa kita bisa menciptakan proyek-proyek nan layak didanai (bankable) dan mempunyai talenta-talenta hebat,” ujar Rachmat.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin, Shinta W. Kamdani menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan ISF melalui penguatan pengetahuan, jejaring, serta kemitraan dan kolaborasi. Menurutnya, keberhasilan forum tidak hanya diukur dari pengumuman alias kesepakatan nan dihasilkan, tetapi juga dari tindak lanjut dan kemajuan nyata nan dapat dibangun setelah forum berakhir.
“Ada tiga perihal krusial dari ISF, pengetahuan nan kita peroleh melalui berbagi praktik terbaik, hubungan nan membuka ruang untuk memahami perkembangan di kembali beragam kesepakatan, serta kemitraan dan kolaborasi. Inilah kunci gimana kita dapat melibatkan lebih banyak mitra dari Indonesia maupun bumi untuk mendorong kemajuan keberlanjutan,” ujar Shinta.
Bagi ISF, beragam perkembangan tersebut menjadi bagian dari perkembangan forum sebagai platform nan mempertemukan pendapat dengan kepentingan, kapasitas, dan kesempatan nan nyata. Selain terletak, pada percakapan nan berjalan selama penyelenggaraan, nilai sebuah forum pada akhirnya apa nan dapat dibawa keluar dari ruang tersebut. ISF 2026 menjadi ruang untuk memulai sejumlah percakapan. Berbagai outcome nan lahir di dalamnya menjadi langkah berikutnya untuk membawa percakapan tersebut lebih jauh.
ISF 2026 menyampaikan terima kasih kepada seluruh sponsor, mitra, dan pendukung termasuk para Platinum and Gold Sponsors ialah Sinarmas, Pisagro, dan Standard Chartered. Lalu apresiasi juga disampaikan kepada Silver Sponsors di antaranya; Lubrizol, Tropical Forest Alliance (TFA), dan Pertamina. Selanjutnya kepada Bronze Sponsors ialah DBS, HSBC, PLN, Bank Mandiri, dan BRI. Serta para sponsor lainnya yaitu; April, dan BNI.
Acara juga didukung oleh Modena, Rekosistem, Artotel Group, Fairatmos, Grab, dan TPI. Apresiasi juga disampaikan kepada media partner, termasuk ANTARA, BeritaSatu, Beritasatu.com, CNN Indonesia, Emtek, Ideafest, IDX Channel, Indonesia Economic Forum (IEF), Inews.id, Investor.id, Investor Daily, Investor Trust, Media Indonesia, MNC Trijaya, TVRI World, Jakartaglobe.id, Katadata Green, dan Kompas.id.
Dukungan dan kerjasama seluruh pihak menjadi bagian krusial dalam memperkuat dialog, memperluas kemitraan, serta mendorong terwujudnya tindakan nyata untuk pembangunan berkepanjangan di Indonesia dan dunia. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·