
Ironi Impor 105 Ribu Pikap dari India saat Kapasitas Produksi Nasional Capai 1 Juta Unit (Ilustrasi/Okeozne)
JAKARTA - Rencana impor mobil pikap dan truk dari India sebanyak 105 ribu menjadi sorotan. Di sisi lain, industri otomotif dalam negeri mempunyai kapabilitas produksi pickup lebih dari 400 ribu unit per tahun.
1. Rencana Impor
PT Agrinas Pangan Nusantara berencana mengimpor 105 ribu unit mobil pick-up dari India. Rencananya, kendaraan impor itu bakal digunakan untuk operasional Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota mengungkapkan argumen pihaknya mengimpor 105.000 unit pick-up 4x4 dan kendaraan niaga dari India senilai Rp24,66 triliun tersebut.
“Kami memesan dengan nilai nan sangat kompetitif, nyaris 50 persen lebih murah dari kompetitornya. Dari sisi daya tahan, tenaga, dan konsumsi bahan bakar, kendaraan ini sangat andal dan berkualitas,” kata Joao dalam keterangannya, dikutip pada Senin (23/2/2026).
Sebanyak 105 ribu kendaraan itu diimpor dari Mahindra & Mahindra dan Tata Motors. Rinciannya, Mahindra & Mahindra bakal memasok 35.000 pikap Scorpio dan Tata Motors mengirim 70.000 unit kendaraan, terdiri atas 35.000 unit pikap Yodha dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
2. Penjelasan Menperin
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita buka bunyi soal rencana impor pikap dan truk dari India tersebut. Agus mengatakan, industri otomotif nasional mempunyai keahlian produksi kendaraan pikap dengan kapabilitas signifikan sekitar 1 juta unit per tahun.
“Dengan kapabilitas tersebut, industri kendaraan pick-up nasional dinilai bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global,” ucap Menperin.
Agus menyampaikan, standar dan kualitas kendaraan pick-up (4x2) produksi dalam negeri sangat kompetitif dibandingkan produk impor. Selain itu, produk lokal bisa memenuhi kebutuhan operasional di beragam wilayah Indonesia dengan kondisi prasarana jalan nan beragam. Kendaraan niaga produksi dalam negeri juga diterima baik oleh masyarakat dan pelaku upaya lantaran performanya andal dan bisa melayani pengedaran serta mobilitas barang.
Namun, Menperin mengakui Indonesia belum memproduksi jenis kendaraan pick-up penggerak empat roda (4x4) unik untuk medan sangat berat, seperti di wilayah tambang dan perkebunan. Ia menegaskan dari sisi efisiensi ekonomi, biaya perawatan kendaraan 4x4 relatif lebih mahal, kesiapan suku cadang dan jasa purna jual terbatas, serta nilai jual kembali rendah dibanding kendaraan pick-up 4x2 produksi lokal.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·