Iran Tutup kembali Selat Hormuz usai Serangan Israel ke Libanon

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Iran Tutup kembali Selat Hormuz usai Serangan Israel ke Libanon Kapal di Selat Hormuz.(Al Jazeera)

KETEGANGAN di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis setelah Iran mengumumkan penutupan kembali jalur pelayaran vital, Selat Hormuz, pada Sabtu (20/6). Langkah drastis ini diambil Teheran sebagai respons atas serangan militer Israel ke wilayah Libanon yang dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap kesepakatan tenteram nan baru saja dijalin dengan Amerika Serikat (AS).

Komando militer pusat Iran menyatakan bahwa blokade ini merupakan akibat dari pelanggaran kontrak oleh AS dan tindakan garang berkepanjangan dari rezim Zionis di Libanon Selatan. Penutupan jalur pengedaran minyak dan gas utama bumi ini diprediksi bakal kembali mengguncang pasar daya global, setelah sempat dibuka menyusul kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian awal pekan ini.

Gencatan Senjata nan Rapuh

Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi nan kontradiktif. Hanya beberapa jam setelah AS mengumumkan pembaruan gencatan senjata, pasukan Israel justru terlibat pertempuran sengit dengan pejuang Hizbullah. Pesawat tempur Israel dilaporkan melancarkan serangan mematikan di sedikitnya 20 letak di Libanon Selatan.

Badan pertahanan sipil Libanon melaporkan sedikitnya 16 orang tewas di wilayah Nabatieh. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Libanon mengonfirmasi tujuh korban jiwa tambahan dan 13 luka-luka akibat serangan di suatu desa dekat kota Sidon. Asap tebal terlihat membubung di atas kota-kota strategis, termasuk di sekitar Kastil Beaufort nan bersejarah.

Klaim Saling Tuding:

  • Israel: Menuduh Hizbullah melanggar gencatan senjata dengan menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel dalam semalam.
  • Hizbullah: Menyatakan Israel menggunakan kedok gencatan senjata untuk melakukan penyelundupan ke perbukitan Ali Taher nan strategis.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Kegagalan mempertahankan ketenangan di Libanon berakibat langsung pada proses diplomasi di tingkat global. Pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran nan dijadwalkan berjalan di Swiss pada Jumat terpaksa ditunda tanpa pemisah waktu nan ditentukan.

Wakil Presiden AS JD Vance, nan semula dijadwalkan memimpin delegasi Amerika, membatalkan perjalanannya. Sebagai gantinya, utusan unik Steve Witkoff dan Jared Kushner dikabarkan tengah berupaya mengembalikan jalur perbincangan di Swiss agar tetap melangkah di tengah situasi nan memanas.

Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, tiba di Iran pada Sabtu untuk melakukan pertemuan darurat dengan pejabat Teheran sebagai bagian dari upaya mediasi regional berbareng Qatar.

Dampak Ekonomi dan Kemanusiaan

Penutupan Selat Hormuz menjadi senjata ekonomi paling efektif bagi Iran untuk menekan organisasi internasional. Jalur ini merupakan urat nadi bagi pasokan daya dunia dan blokade sebelumnya menyebabkan lonjakan nilai minyak mentah secara signifikan.

Secara kemanusiaan, penduduk di Libanon Selatan sekarang hidup dalam ketakutan nan mencekam. "Ketakutan mendominasi semua orang. Kami baru saja kembali ke desa beberapa hari lalu, tetapi kami sudah siap untuk melarikan diri lagi," ujar Fadi Zayat, seorang penduduk Tayr Debba kepada AFP.

Presiden Libanon Joseph Aoun, dalam pembicaraan dengan Sekretaris Negara AS Marco Rubio, mendesak penghentian segera serangan Israel. Namun, Rubio menekankan bahwa stabilitas jangka panjang hanya bisa tercapai jika Libanon bisa melucuti senjata Hizbullah dan menegakkan kendali penuh atas seluruh wilayah kedaulatannya. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia