Iran Rombak Struktur Keamanan, Veteran IRGC Naik ke Posisi Kunci

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran melakukan perombakan di jejeran keamanan dan militer dengan menempatkan sejumlah veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada posisi strategis. Langkah ini berjalan di tengah perang dan ketegangan nan terus meningkat dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menunjuk mantan panglima IRGC Mohsen Rezaee sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) sekaligus wakil Khamenei di lembaga tersebut. Rezaee, 71 tahun, pernah memimpin IRGC selama 16 tahun, termasuk saat perang Iran-Irak pada 1980-an.

Selain Rezaee, enam posisi militer turut diisi. Ali Abdollahi ditunjuk sebagai kepala staf angkatan bersenjata, Ali Ozmaei menjadi kepala Angkatan Laut IRGC, sementara Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi dikukuhkan sebagai panglima tertinggi IRGC dengan pangkat mayor jenderal, menggantikan Mohammad Pakpour nan tewas dalam serangan awal AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

Sina Azodi, asisten guru besar Politik Timur Tengah di George Washington University, menilai rangkaian penunjukan itu menunjukkan bahwa Teheran belum melunak dalam menghadapi Washington.

"Tidak diragukan lagi bahwa Khamenei, Vahidi, dan ketua IRGC mempunyai pandangan nan sama bahwa perlawanan berkepanjangan terhadap AS merupakan suatu keharusan strategis," kata Azodi, seperti dikutip Al Jazeera, Selasa (11/8/2026).

Menurut Azodi, pengalaman Rezaee dapat membantu memperkuat kohesi internal IRGC sekaligus memperkokoh kendali pimpinan.

"Penunjukannya tampaknya bermaksud untuk memperkuat kohesi internal, memperkokoh kendali ketua atas organisasi, serta memanfaatkan pengalaman sosok nan turut membentuk IRGC menjadi lembaga militer dan politik seperti saat ini," ujarnya.

Rezaee sebelumnya lebih banyak berkecimpung di bagian politik dan ekonomi setelah meninggalkan posisi militernya. Ia pernah menjadi sekretaris Dewan Kemanfaatan dan mendapat mandat koordinasi ekonomi tingkat tinggi pada masa pemerintahan Ebrahim Raisi pada 2021-2024, meski empat kali kandas dalam pencalonan presiden.

Di tengah bentrok terbaru, Rezaee kembali mengenakan seragam militer dan menjadi penasihat militer Mojtaba Khamenei setelah sang putra menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Ia kemudian aktif menyuarakan sikap keras terhadap AS dan Israel, termasuk menentang nota kesepahaman nan sempat membuka kembali Selat Hormuz dan menangguhkan hukuman minyak untuk sementara.

"Saya meminta rekan-rekan nan menentang negosiasi untuk bersabar; pihak Amerika sendiri nan bakal merusaknya dan tidak bakal membiarkan negosiasi itu membuahkan hasil apa pun," kata Rezaee pada awal Juli. Pekan lalu, dia kembali memperingatkan AS untuk mengubah perilakunya alias menghadapi akibat serius terhadap pasukannya.

Media nan berafiliasi dengan SNSC, Nournews, menyebut penunjukan Rezaee sebagai awal dari "restrukturisasi strategis" nan lebih luas. Langkah tersebut dinilai dapat mengintegrasikan kebijakan militer, diplomasi, ekonomi, dan daya nan selama ini dianggap melangkah secara terpisah.

Menteri Luar Negeri Iran juga menyambut penunjukan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan Iran telah menunjukkan dirinya sebagai negara nan berdasarkan institusi, bukan individu.

"Inilah tepatnya rahasia ketahanan dan kemenangan Republik Islam di tengah kondisi-kondisi penuh tantangan ini," ujarnya.

Penunjukan Rezaee memicu reaksi keras Israel lantaran dia dan Vahidi merupakan subjek Red Notice Interpol mengenai dugaan keterlibatan dalam pengeboman pusat organisasi Yahudi di Buenos Aires pada 1994 nan menewaskan 85 orang. Di dalam negeri, golongan garis keras justru menyambut perubahan tersebut dan memandang naiknya Rezaee sebagai penguatan kubu nan mendukung konfrontasi dengan AS.

(tfa/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News