Iran-AS Belum Sepakat soal Hormuz, Syarat Buka Selat Makin Lama

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: La Terase/Shutterstock

Penantian kesepakatan Iran dan Oman mengenai pembukaan Selat Hormuz tetap berlanjut. Iran menyebut negosiasi langsung dengan Amerika Serikat (AS) belum memungkinkan dilakukan.

Mengutip Bloomberg, Minggu (9/8), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan untuk membentuk jalur pelayaran sementara di selat strategis tersebut sangat dekat. Namun, pada Minggu (9/8), dia menuding AS melanggar kesepakatan perdamaian sementara nan ditandatangani pada Juni.

“Selama pelanggaran Amerika terhadap Memorandum of Understanding (MoU) terus bersambung dan AS tidak memperbaiki pelanggarannya, tidak ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali negosiasi,” kata Araghchi, seperti dikutip televisi pemerintah Iran.

Pada Sabtu (8/8), Teheran kembali mengusulkan sejumlah tuntutan kepada Washington sebagai syarat untuk membuka Selat Hormuz sepenuhnya. Kondisi ini mengindikasikan pasokan minyak dan gas kemungkinan belum bakal kembali normal dalam waktu dekat.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial dalam bentrok antara AS dan Israel dengan Iran nan pecah pada akhir Februari. Hingga kini, belum diketahui gimana Washington bakal merespons jika tercapai kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump berperan-serta dalam makan malam kerja para pemimpin G7 selama KTT G7 di Hotel Royal Evian , Senin (15/6/2026). Foto: Anna Moneymaker/Getty Images/AFP

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menuntut agar pelayaran melalui Selat Hormuz kembali terbuka. Trump juga beberapa kali menakut-nakuti bakal melancarkan serangan baru terhadap Iran jika jalur tersebut tidak dibuka.

Di tengah belum tercapainya kesepakatan, situasi di area Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi nan didukung Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jizan milik Saudi Aramco di Arab Saudi. Sebelumnya, otoritas Saudi melaporkan terjadi kebakaran di akomodasi tersebut.

Wakil Presiden AS JD Vance sehari sebelumnya mengatakan terdapat kemajuan dalam negosiasi. Namun, dia belum dapat memastikan apakah hasil pembicaraan tersebut bakal memenuhi kepentingan Washington.

“Pertanyaannya adalah apakah Iran bakal bisa memberikan hal-hal nan diperlukan agar kami merasa senang, agar kami merasa telah mendapatkan apa nan kami butuhkan dari keterlibatan unik ini,” kata Vance kepada Fox News.

Washington sebelumnya berulang kali menyatakan terlibat dalam pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan AS.

“Beberapa negara perantara sedang berupaya membangun kembali dasar untuk negosiasi. Saat ini, kami tidak sedang bermusyawarah dengan AS, pertukaran pesan dilakukan melalui perantara," kata Araghchi.

Oman, nan wilayah perairannya mencakup sebagian Selat Hormuz, menyatakan pembicaraan dengan Iran berjalan dalam “suasana nan positif dan konstruktif”. Melalui unggahan di X, pemerintah Oman juga menyerukan penghentian tindakan di selat tersebut agar upaya diplomatik dapat berjalan.

Syarat Iran untuk Buka Selat Hormuz

Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Sabtu (18/4/2026). Foto: STR/ REUTERS

Selain kompensasi, Iran meminta AS mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menarik pasukannya dari sekitar Iran, mencabut sanksi, serta mencairkan aset Iran nan dibekukan.

Tuntutan tersebut disampaikan Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras nan memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Sementara itu, Iran dan salah satu golongan angkatan laut utama negara-negara Barat telah mengusulkan koridor transit masing-masing untuk memungkinkan kapal melintasi Selat Hormuz.

Sebagian besar lampau lintas kapal melalui selat tersebut terhenti sejak perang dimulai. Meski begitu, sejumlah kapal tetap mengangkut kargo dalam program pengiriman ulang nan melibatkan support militer AS.

Kapal nan mencoba melewati Selat Hormuz juga tetap menghadapi akibat keamanan. Abu Dhabi National Oil Co. mengatakan sebuah rudalnya menjadi sasaran saat melintas pada Sabtu pagi, menurut instansi buletin pemerintah Uni Emirat Arab, WAM.

Serangan tersebut tidak menimbulkan korban dan situasi telah dikendalikan. Tiga kapal lain milik produsen minyak terbesar UEA itu juga diserang pada pekan sebelumnya.

Ketidakpastian mengenai Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan nilai minyak. Harga Brent sempat bergerak naik turun sepanjang pekan lampau dan akhirnya ditutup di atas USD 83 per barel.

Pelaku pasar mempertimbangkan kesempatan tercapainya kesepakatan nan dapat membuka jalan bagi kembalinya jutaan barel pasokan minyak dari area Teluk Persia.

Ketegangan juga meningkat di bagian selatan Laut Merah dalam beberapa pekan terakhir. Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi nan menjadi salah satu jalur ekspor pengganti bagi minyak negara tersebut.

Pada Minggu, Houthi mengeklaim menyerang kilang Jizan menggunakan drone sebagai respons terhadap langkah Arab Saudi di wilayah udara Yaman.

Kementerian Energi Saudi sebelumnya mengatakan kebakaran di akomodasi tersebut telah dipadamkan dan tidak menimbulkan korban luka. Namun, pemerintah tidak menjelaskan penyebab kebakaran. Saudi Aramco juga belum memberikan komentar.

Insiden tersebut menjadi setidaknya kebakaran kedua dalam sebulan terakhir di akomodasi Aramco. Citra satelit menunjukkan kebakaran pada sebuah tangki di kompleks dengan kapabilitas 400.000 barel per hari pada akhir Juli, setelah Houthi mengeklaim melakukan serangan.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan