Ini Bedanya Batuk Biasa dan ISPA Akibat Asap Karhutla, Dokter Ungkap Gejalanya

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Ini Bedanya Batuk Biasa dan ISPA Akibat Asap Karhutla, Dokter Ungkap Gejalanya

Kebakaran rimba sebabkan batuk hingga ISPA. (Foto: Freepik)

PAPARAN asap akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) perlu diwaspadai, apalagi sekarang tengah terjadi kebakaran rimba di Kalimantan juga Sumatera. Pasalnya, asap karhutla dapat menimbulkan beragam gangguan pada saluran pernapasan, salah satu keluhan nan paling sering muncul adalah batuk.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa batuk akibat paparan asap karhutla tidak selalu sama dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) nan disebabkan oleh virus alias bakteri. Apa saja gejalanya?

5 Penyakit Imbas Kabut Asap Karhutla

1. Bedanya Batuk Biasa dan ISPA Akibat Asap Karhutla

Dokter ahli paru dan pernapasan, dr. Itna Warnida, Sp.P, FISR, dalam aktivitas Morning Zone nan tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa istilah ISPA pada dasarnya berangkaian dengan jangkitan nan disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus maupun bakteri. Meski demikian, paparan asap karhutla dapat menimbulkan indikasi nan menyerupai ISPA, seperti batuk, berdahak, hingga hidung meler.

"Kalau untuk jangkitan kan kudu ada virusnya, ada bakterinya. Tapi di sini, ISPA nan disebabkan oleh karhutla tidak disebabkan oleh virus. Tidak ada virusnya," ujar dr. Itna.

"Gejala nan ditimbulkannya batuk, dahak, hidung meler. Gejalanya menyerupai ISPA walaupun dia tidak berasosiasi virus alias bakteri," lanjutnya.

2. Paparan Asap Bisa Melemahkan Daya Tahan Paru

Paparan unsur rawan dari asap karhutla nan berjalan terus-menerus juga perlu diwaspadai. Menurut dr. Itna, kondisi tersebut dapat mengganggu sistem pertahanan tubuh dan membikin paru-paru lebih rentan.

Jika keimunan dan daya tahan paru menurun, virus maupun kuman nan masuk ke tubuh dapat lebih mudah menyebabkan infeksi. Karena itu, masyarakat tidak disarankan menganggap remeh batuk nan muncul setelah terpapar asap karhutla, terutama jika keluhan berjalan cukup lama alias disertai indikasi lain.

"Kalau kondisi memang terus berlanjut, paparan unsur rawan itu bakal merusak keimunan dan daya tahan parunya. Sehingga kelak ditumpangi lagi dengan virus nan lewat, oleh kuman nan datang. Paru kita sudah lemah jadi bakal mudah untuk terinfeksi," jelas dr. Itna.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑