Pemerintah mengakui pengembangan energi baru terbarukan (EBT) Indonesia tetap tertinggal dibandingkan sejumlah negara, termasuk Vietnam.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi, mengatakan bauran daya terbarukan RI pada tahun lampau baru mencapai sekitar 16 persen alias tetap berada di bawah sasaran nan telah ditetapkan.
Sementara itu, bumi mencatat penambahan kapabilitas daya terbarukan hingga sekitar 800 gigawatt sepanjang 2025.
"Tahun lampau daya terbarukan mencapai sekitar 16 persen dari bauran daya kita, tetap di bawah sasaran nan kita tetapkan. Sementara itu, di bumi menambah rekor sekitar 800 gigawatt kapabilitas daya terbarukan pada 2025 saja," ujar Edi.
Ia menyebut, China sendiri menyumbang sekitar 500 gigawatt kapabilitas daya terbarukan hanya dalam satu tahun, jumlah nan disebutnya jauh melampaui total kapabilitas sistem kelistrikan RI saat ini.
Sebanyak 30 negara sekarang memasang lebih dari 1 gigawatt pembangkit listrik tenaga surya setiap tahun. Menurut Edi, dalam satu dasawarsa terakhir Vietnam menyumbang lebih dari separuh penambahan kapabilitas daya terbarukan di area ASEAN, sedangkan kontribusi Indonesia hanya sekitar 10 persen.
"Tetangga kita, Vietnam, menyumbang lebih dari separuh seluruh penambahan kapabilitas terbarukan di ASEAN. Jadi Indonesia sekitar 10 persen," katanya.
Edi menilai keberhasilan Vietnam bukan disebabkan potensi sinar mentari nan lebih besar dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, Indonesia justru mempunyai potensi tenaga surya nan diperkirakan mencapai 7.700 gigawatt, salah satu nan terbesar di dunia.
"Vietnam sukses lantaran tarifnya jelas, perizinannya sederhana, dan kepastian kebijakan membikin ribuan proyek layak dibiayai hanya dalam waktu beberapa tahun saja," lanjutnya.
Edi juga menyinggung keberhasilan India nan bisa membangun industri panel surya lewat pemberian insentif manufaktur sehingga sekarang memproduksi puluhan gigawatt modul surya setiap tahun.
"Pelajaran dari setiap negara nan sukses rupanya sama. Dan ini menyegarkan, lantaran sederhananya modal itu mengalir lantaran kepastian, bukan kepada negara dengan sumber dayanya nan terbanyak alias terbaik, melainkan kepada negara dengan patokan nan paling jelas," jelas Edi.
Lebih lanjut, Edi mengatakan Asia Tenggara saat ini hanya bisa menarik sekitar 2 persen investasi daya bersih global, padahal area tersebut mengkonsumsi sekitar 5 persen daya dunia.
"Asia Tenggara hari ini hanya menarik sekitar 2 persen investasi daya bersih global, padahal mengkonsumsi 5 persen daya dunia. Nah, kesenjangan inilah bukan persoalan sumber daya, ini persoalan kebijakan," pungkasnya.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·