Infrastruktur Belum Mampu Redam Banjir di Jakarta

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Infrastruktur Belum Mampu Redam Banjir di Jakarta Banjir di Jakarta(Antara)

BANJIR tetap kerap terjadi di Jakarta seiring meningkatnya intensitas hujan ekstrem nan melampaui kapabilitas prasarana pengendali banjir nan dimiliki Pemprov DKI Jakarta. Kondisi itu diakui Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta sebagai akibat perubahan suasana nan membikin curah hujan makin susah diprediksi.

Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum mengatakan prasarana pengendali banjir di Jakarta sejatinya dibangun berasas kapabilitas kreasi curah hujan 100-150 milimeter (mm). Infrastruktur itu meliputi pompa air, tanggul sungai, drainase, hingga waduk dan embung.

“Kapastias kreasi ini ditentukan dari probabilitas curah hujan nan terjadi. Di Jakarta kapabilitas kreasi nan digunakan ialah 100-150 mm,” kata Ika, Kamis (28/5).

Namun, dalam beberapa tahun terakhir curah hujan di Jakarta disebut meningkat hingga 150-250 mm akibat perubahan iklim. Kondisi itu membikin prasarana eksisting tak lagi bisa menampung debit air secara optimal saat hujan ekstrem terjadi.

“Pembangunan prasarana pengendali banjir di Jakarta efektif untuk curah hujan 100-150 mm, sedangkan untuk curah hujan nan lebih tinggi lagi dibutuhkan kapabilitas prasarana nan lebih besar,” ujarnya.

Menurut Ika, peningkatan kapabilitas prasarana pengendali banjir memerlukan lahan lebih luas dan biaya pembangunan nan sangat besar. Kendati demikian, Pemprov DKI tetap melakukan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya memperkuat support pompa air stasioner maupun mobile.

Hingga 18 Mei 2026, Dinas SDA DKI tercatat mempunyai 683 unit pompa stasioner nan tersebar di 246 lokasi. Selain itu, terdapat 540 unit pompa mobile nan disiagakan di lima wilayah kota manajemen dan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Selain memperkuat pompa air, Pemprov DKI juga melanjutkan pembangunan dan pemeliharaan sungai serta waduk pada periode 2025-2027 melalui proyek JakTirta dan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) alias tanggul pengaman pantai.

Ika mengatakan proyek tersebut mencakup pembangunan sistem polder secara bertahap, peningkatan tanggul kali dan sungai, pembangunan waduk dan embung sebagai retensi air, hingga peningkatan saluran drainase di area rawan banjir.

“Proyek ini bakal menghadirkan beragam macam prasarana pengendalian banjir untuk meningkatkan kapabilitas pengendalian air di Jakarta,” kata Ika. (Far/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia