Inflasi DKI Jakarta Juni 2026 Tetap Terkendali, Terendah di Pulau Jawa

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Inflasi DKI Jakarta Juni 2026 Tetap Terkendali, Terendah di Pulau Jawa Ilustrasi(Antara)

LAJU inflasi di Provinsi DKI Jakarta pada Juni 2026 tetap berada dalam kondisi nan terkendali. Berdasarkan info terbaru, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) tercatat sebesar 0,41% lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 nan mencapai 0,12%,, namun tetap berada di bawah nomor inflasi nasional sebesar 0,44%.

Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi DKI Jakarta mencapai 2,78%, menjadi nan terendah di antara seluruh provinsi di Pulau Jawa serta lebih rendah dibandingkan inflasi nasional nan tercatat 3,34%. Capaian tersebut menunjukkan daya tahan perekonomian Jakarta di tengah dinamika nilai daya dan ketidakpastian global.

Kenaikan inflasi pada Juni 2026 terutama didorong oleh golongan transportasi. Penyesuaian nilai bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada awal Juni menjadi aspek utama nan memicu kenaikan nilai bensin. Selain itu, meningkatnya permintaan perjalanan selama masa libur sekolah turut mendorong kenaikan tarif pikulan udara.

Di sisi lain, tekanan inflasi sukses diredam oleh penurunan nilai sejumlah komoditas pangan. Harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabe rawit mengalami penurunan seiring membaiknya pasokan dari wilayah sentra produksi, sehingga bisa menahan laju kenaikan nilai secara keseluruhan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan bahwa inflasi Jakarta tetap berada pada level nan sehat meskipun terdapat penyesuaian nilai di sejumlah sektor.

"Inflasi DKI Jakarta pada Juni 2026 tetap berada dalam kondisi nan terkendali. Meskipun terdapat tekanan dari penyesuaian nilai daya dan meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur sekolah, kecukupan pasokan pangan serta sinergi pengendalian inflasi melalui TPID bisa menjaga stabilitas nilai sehingga inflasi tahunan Jakarta tetap menjadi nan terendah di Pulau Jawa," ujar Iwan Setiawan dalam keterangannya, Kamis (2/7).

Transportasi Menjadi Penyumbang Utama Inflasi

Kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 2,54% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya nan sebesar 0,55%.

Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penyesuaian nilai BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026 nan memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi melalui kenaikan nilai bensin. Selain itu, lonjakan permintaan penerbangan selama musim liburan sekolah turut mengerek tarif pikulan udara.

Tekanan inflasi juga dipengaruhi oleh meningkatnya imported inflation akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut menyebabkan nilai sejumlah komponen impor, termasuk suku cadang kendaraan dan komponen elektronik, mengalami kenaikan.

Salah satu komoditas nan mencatat kenaikan signifikan adalah telepon seluler dengan inflasi 4,01% (mtm), tertinggi dalam empat tahun terakhir. Dampaknya, golongan Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami inflasi sebesar 0,53%, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,13%.

Sementara itu, golongan Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga mencatat inflasi 0,29%, didorong kenaikan nilai beberapa komoditas rumah tangga dengan kontribusi nan relatif terbatas terhadap inflasi keseluruhan.

Harga Pangan Menahan Laju Inflasi

Di tengah kenaikan pada beberapa golongan pengeluaran, tekanan inflasi Jakarta tertahan oleh deflasi pada golongan makanan, minuman, dan tembakau.

Penurunan nilai daging ayam ras dan telur ayam ras terjadi lantaran pasokan dari wilayah sentra produksi tetap memadai di tengah permintaan nan relatif stabil. Harga cabe rawit juga menurun berkah meningkatnya pasokan, khususnya dari Jawa Barat, serta normalisasi permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Selain itu, nilai pepaya dan ikan kembung turut mengalami penurunan. Namun, deflasi nan lebih dalam tertahan oleh kenaikan nilai wortel dan cabe merah akibat menurunnya produktivitas pertanian nan dipengaruhi cuaca panas.

TPID Perkuat Strategi 4K untuk Menjaga Stabilitas Harga

Sepanjang Juni 2026, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat penerapan strategi 4K, ialah Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Upaya menjaga keterjangkauan nilai dilakukan melalui penyelenggaraan pasar murah, Program Pangan Bersubsidi, serta penyaluran support pangan berupa beras dan minyak goreng.

Untuk memperkuat pasokan, TPID mendorong peningkatan produksi melalui training hilirisasi cabe dan bawang, pengembangan urban farming, serta penguatan koordinasi antara Bank Indonesia, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP), dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Di sisi distribusi, optimasi armada truk keliling BUMD terus dilakukan guna memastikan kelancaran pasokan. Sementara itu, penyusunan proyeksi kebutuhan pangan strategis juga diperkuat melalui peningkatan kapabilitas dan koordinasi antarpemangku kepentingan.

Ke depan, TPID DKI Jakarta bakal terus memperkuat strategi pengendalian inflasi guna mengantisipasi beragam risiko, baik dari aspek dunia maupun domestik. Risiko dunia tetap dipengaruhi ketidakpastian geopolitik nan dapat berakibat pada nilai daya dan nilai tukar, sedangkan akibat domestik berasal dari potensi El Nino nan diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus 2026 dan berpotensi mengganggu produksi pangan.

Melalui sinergi nan berkepanjangan antara TPID dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi DKI Jakarta diharapkan tetap terjaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1% sepanjang 2026. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia