
ICC 2026 di Untar. (Foto: Aldhi Chandra/Okezone)
JAKARTA – Gelaran hari kedua iNews Campus Connect (ICC) 2026 di Universitas Tarumanagara (Untar) Jakarta pada Rabu (30/9/2026) kembali menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membahas rumor nan dekat dengan kehidupan generasi muda. Salah satunya soal menggunakan bunyi di tengah derasnya arus info digital.
Isu itu dibahas dalam program Mahasiswa Bersuara. Sesi ini menghadirkan konten pembuat Sherly Annavita dan pendiri Mari Kita Bahas, Ahmad Alimuddin.
ICC Untar. (Foto: Aldhi Chandra/Okezone)
1. Mahasiswa Diingatkan Pentingnya Data
Dalam sesi tersebut, Ahmad Alimuddin alias nan berkawan disapa Bang Alim menceritakan awal mula dirinya serius membikin konten nan membahas beragam rumor publik.
Menariknya, Ahmad Alimuddin mengaku sudah mengenal dan mengagumi Sherly Annavita sejak tetap menjadi mahasiswa. Keduanya diketahui pernah berada di kampus nan sama sebagai penerima danasiwa Paramadina Fellowship.
Alim mengatakan, pemikiran Sherly saat mengikuti sebuah kejuaraan ketika tetap kuliah menjadi salah satu perihal nan membuatnya tertarik mengikuti konten-konten Sherly hingga kini.
“Sampai hari ini ketika saya ngonten pun saya memandang kontennya Kak Sherly, lantaran kontennya itu bagus, memberikan perspektif dalam beragam isu-isu nan ada,” ujar Alim.
Sementara untuk perjalanan kontennya sendiri, Alim mengatakan dirinya mulai serius membikin konten setelah Pilpres 2024. Saat itu, dia merupakan salah satu pengurus relawan salah satu calon.
Namun, awalnya dia belum terlalu serius membikin konten. Salah satu perihal nan kemudian mendorongnya aktif adalah rumor nan berangkaian dengan wilayah asalnya, Sumbawa.
Alim menjelaskan, Sumbawa telah lama mempunyai kemauan untuk menjadi provinsi sendiri. Ketika rumor tersebut kembali mencuat, dia mulai serius membikin konten lantaran memandang persoalan itu cukup mendapat perhatian di daerah.
Dari sana, pembahasannya kemudian berkembang ke beragam rumor nasional. Menurut Alim, saat itu dia memandang banyak konten nan lebih banyak menyebarkan disinformasi dibandingkan memberikan perspektif.
Pengalamannya selama terlibat dalam aktivitas kampanye di nyaris 20 provinsi juga membuatnya merasa mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikan perspektif pandang nan dia pahami kepada masyarakat.
“Saya punya tanggung jawab moral untuk memberikan perspektif nan saya pahami kepada masyarakat,” katanya.
35 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·