Jakarta -
Industri pengolahan menjadi penopang keahlian ekspor nasional. Sepanjang Januari-Februari 2026, sektor itu mencatat nilai ekspor sebesar US$ 37,06 miliar alias naik 6,69% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan hilirisasi nan dilakukan pemerintah dalam lima tahun terakhir telah mendorong ekspor industri pengolahan.
"Soalnya produk hilirnya kan dihitungnya produk manufaktur kan, industri pengolahan. Kalau hanya bijih nikel hitungannya adalah produk tambang, jika diekspor juga masuknya sektor pertambangan. Makanya proporsi dalam ekspor manufaktur meningkat setelah ada program hilirisasi," kata Faisal kepada detikcom, Minggu (3/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Faisal, sektor industri pengolahan saat ini menjadi mesin utama penggerak ekspor Indonesia.
"Paling utama sekarang jika struktur ekspor kita memang paling besar industri pengolahan. Walaupun industri pengolahan ini produknya macam-macam, ada nan nilai tambahnya rendah, tinggi," jelas Faisal.
Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan keahlian ekspor non migas sepanjang Januari-Februari 2026. Adapun andilnya mencapai 5,36%.
Ekspor sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh ekspor produk unggulan seperti nikel nan tumbuh 56,30% yoy; timah dan peralatan daripadanya tumbuh 89,01% yoy; kimia dasar anorganik lainnya tumbuh 89,58% yoy; serta semi konduktor dan komponen elektronik tumbuh 41,93% yoy.
Industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dibanding sektor lainnya. Di tahun 2023 misalnya, sektor ini memberikan sumbangan sebesar 0,95% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tahun berikutnya menjadi 0,90% dan melanjutkan kenaikan di 2025 menjadi 1,07%.
Lebih lanjut, keahlian ekspor industri pengolahan juga sangat baik. Pada tahun 2023 tercatat tumbuh 1,73%, kemudian melonjak di tahun 2024 mencapai 6,85% dan terus melanjutkan kenaikan pada tahun 2025 menjadi 7,03%.
Upaya Bikin Industri Pengolahan RI Tahan Banting
Sektor industri pengolahan umumnya menjadi salah satu nan paling terdampak dinamika dunia terutama akibat gangguan rantai pasok. Keterbatasan bahan baku, kenaikan nilai input produksi, serta halangan logistik berpotensi menekan keahlian industri baik dari sisi produksi maupun distribusi.
Pemerintah terus melakukan langkah antisipatif untuk menjaga keberlanjutan aktivitas industri. Di sisi kebijakan, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi.
"Kebijakan tersebut diharapkan bisa mempercepat penerapan program prioritas serta menjawab halangan nan dihadapi pelaku upaya dan investor," ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah menyiapkan beragam kebijakan mitigasi untuk mendukung industri pengolahan, termasuk pemberian kemudahan akses terhadap bahan baku serta penyesuaian kebijakan impor untuk menjaga keberlangsungan produksi. Pemerintah juga terus memantau sektor-sektor industri nan paling terdampak guna memastikan respons kebijakan dapat dilakukan secara sigap dan tepat sasaran.
Selain itu, stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama khususnya dalam menjaga inflasi, nilai tukar dan daya beli masyarakat. Kebijakan fiskal dan moneter terus disinergikan agar tetap mendukung aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan prinsip kehati- hatian.
Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga suasana upaya tetap kondusif, serta mendorong investasi di sektor industri pengolahan dan manufaktur.
"Dinamika dunia saat ini betul-betul berpengaruh terhadap industri manufaktur dari segala sisi, baik dari sisi bahan baku maupun produksi. Gangguan rantai pasok ini kudu kita antisipasi berbareng lantaran dampaknya bisa meluas ke inflasi, nilai tukar, hingga daya beli masyarakat," pungkas Susiwijono.
(acd/acd)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·