Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) Jakarta Selatan, Azka Aufary Ramli.(Dok.Istimewa)
INDONESIA tidak kekurangan talenta, tetapi tetap menghadapi kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Di tengah percepatan digitalisasi, kepintaran buatan (AI), dan transisi menuju industri hijau, reskilling dan upskilling menjadi agenda strategis nan telah disepakati dalam beragam forum internasional, termasuk World Economic Forum (WEF), ILO, OECD, UNESCO, dan G20.
Laporan WEF Future of Jobs Report 2025 memproyeksikan 22% pekerjaan dunia bakal berubah hingga 2030, sementara 36% keahlian inti tenaga kerja di Indonesia diperkirakan berubah dalam lima tahun ke depan. Di sisi lain, BPS mencatat lebih dari sepertiga pemuda Indonesia bekerja pada pekerjaan nan tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya, menunjukkan tetap besarnya skills mismatch antara bumi pendidikan dan kebutuhan industri.
Dalam keterangannya Minggu (26/7) ,Ketua Umum HIPPI Jakarta Selatan, Azka Aufary Ramli, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan tersebut tidak dapat dibebankan kepada pemerintah alias bumi pendidikan semata.
“Indonesia tidak kekurangan lulusan, tetapi kekurangan kompetensi nan sesuai dengan kebutuhan industri. Karena itu, pembangunan SDM kudu menjadi aktivitas berbareng melalui kerjasama Pentahelix antara lembaga pendidikan, bumi usaha, organisasi dan asosiasi pengusaha, pemerintah, serta media,” ujar Azka.
Menurut Azka, lembaga pendidikan kudu menghasilkan lulusan nan siap kerja melalui kurikulum adaptif, magang, dan sertifikasi kompetensi. Pelaku industri perlu menjadi co-creator dalam pengembangan talenta, bukan sekadar pengguna lulusan. Komunitas dan asosiasi pengusaha berkedudukan menjembatani kebutuhan industri dengan bumi pendidikan melalui mentoring, inkubasi bisnis, dan jejaring profesional.
Sebagai Kader Muda Partai Golkar, Azka menilai pembangunan SDM kudu menjadi investasi utama menuju Indonesia Emas 2045. “Bonus demografi hanya bakal menjadi bingkisan andaikan diikuti bingkisan kompetensi. Investasi terbaik bangsa ini bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi membangun manusia nan adaptif, produktif, dan siap menghadapi perubahan.”
Sementara itu, sebagai Sekretaris Jenderal Baladhika Karya, Azka menekankan bahwa pemerintah kudu memperkuat kebijakan nan mendorong kerjasama lintas sektor, sedangkan media mempunyai peran strategis membangun kesadaran publik bahwa pembelajaran tidak berakhir setelah lulus sekolah.
“Lifelong learning kudu menjadi budaya baru Indonesia. Ketika pendidikan, industri, pemerintah, asosiasi, komunitas, dan media bergerak bersama, kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan SDM unggul nan bisa membawa Indonesia menjadi negara maju pada 2045,”pungkasnya .(E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·