Indonesia Buka Peluang Ekspor Pupuk Urea ke Australia

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Pekerja mengangkut pupuk urea di penyimpanan lini 3 Jatibarang pupuk Kujang, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (12/7/2023). Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono telah berjumpa dengan Duta Besar Australia, Rod Brazier, untuk membahas kesempatan ekspor pupuk urea oleh Indonesia ke Australia. Hal ini terjadi akibat adanya gangguan rantai pasok pupuk bumi lantaran perang.

Sudaryono menjelaskan nantinya hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia berkarakter timbal balik. Indonesia tak hanya mengekspor urea ke Australia, namun juga mengimpor bahan baku seperti fosfat, termasuk jenis DAP alias Diammonium Phosphate dari Australia.

“Ini hubungan nan resiprokal. Kita saling membutuhkan. nan krusial adalah gimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan jual beli nan sehat,” kata Sudaryono dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4).

Dia menuturkan bahwa kondisi perang sudah berakibat signifikan terhadap kesiapan pupuk internasional. Dalam kondisi itu, Indonesia unggul lantaran bisa memproduksi pupuk urea secara mandiri.

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara memerlukan urea. Indonesia mempunyai kelebihan lantaran bisa memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak berjuntai pada impor untuk komoditas tersebut,” ujarnya.

Meski demikian, Sudaryono menjelaskan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas utama meski ada kesempatan ekspor.

“Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” kata Sudaryono.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memberikan paparan saat rapat kerja dengan Badan Legislasi (Baleg) DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/11/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Adapun kapabilitas produksi pupuk urea nasional nan dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,36 juta ton hingga 9,4 juta ton per tahun.

Pada tahun 2026, produksi urea ditarget bisa mencapai 7,8 juta ton dengan kebutuhan subsidi 6,3 juta ton dan terdapat potensi ekspor 1,5 juta ton. Surplus tersebut membuka kesempatan ekspor ke beragam negara termasuk Australia.

Sudaryono juga menjelaskan bahwa pemerintah ke depan berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk nan sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapabilitas produksi nasional sekaligus memaksimalkan kesempatan ekspor di tengah tingginya permintaan global.

Selain Australia, beberapa negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil juga minat terhadap pupuk urea Indonesia. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya bisa menjaga ketahanan pupuk nasional tetapi juga berpotensi menjadi pemasok pupuk di pasar internasional.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan