Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia kontraksi pada April 2026 ialah pada nomor 49,1. Angka ini turun dari bulan sebelumnya sebesar 50,1.
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penurunan keahlian manufaktur Indonesia disebabkan oleh kondisi geopolitik nan dalam ketidakpastian akibat perang Iran-Israel nan melibatkan Amerika Serikat (AS).
“Manufaktur turun lantaran memang masa depan dari perang ini kan masih, tetap tidak pasti,” kata Airlangga di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Senin (⅘).
Dia memandang perang sangat mempengaruhi pasokan bahan baku atau supply chain. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pengusaha di sektor manufaktur.
“Karena dari segi, dari daya biasanya dia pindah ke petrochemical product, plastik dan nan lain, plastic packaging, berikut ke logistik. Dan manufaktur sangat tergantung kepada logistik, dan berikut gimana mengenai dengan demand side. Jadi ini tetap kita monitor saja,” ujarnya.
PMI manufaktur Indonesia tercatat pertama kali kontraksi setelah sembilan bulan mencatatkan keahlian ekspansi alias di atas nomor netral 50,0. Penurunan produksi nan berkepanjangan menjadi biang kerok dari kontraksi PMI manufaktur Indonesia kali ini.
Penurunan produksi pada April bukan nan pertama kalinya, karena lanjutan penurunan nan terjadi pada Maret. Permasalahan ini seiring dengan keluhan perusahaan soal kenaikan nilai bahan baku, kekurangan pasokan, dan melemahnya daya beli konsumen sebagai aspek penyebab penurunan.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan kondisi ini merupakan akibat inflasi nan semakin intensif nan mulai dirasakan manufaktur Indonesia di tengah perang Timur Tengah.
“Perusahaan mencatat kontraksi solid pada output pada bulan April, dengan bukti anekdotal mengarah pada akibat kenaikan nilai bahan baku dan kekurangan pasokan produksi,” kata Usamah dalam keterangannya, Senin (⅘).
Dalam kondisi ini, perusahaan merespons dengan memangkas tenaga kerja dan pembelian dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara inventaris pra-produksi juga turun imbas penggunaan persediaan di tengah kesulitan mencari dan menerima bahan baku.
“Tekanan nilai melonjak pada bulan April, dengan tingkat inflasi biaya melonjak ke level tertinggi sejak April 2022. Biaya nan lebih tinggi dibebankan kepada klien, nan mengakibatkan kenaikan nilai jual paling tajam dalam 12 separuh tahun terakhir,” jelas Usamah.
Meski demikian tetap ada berita baik, ialah pesanan baru nan sedikit mengalami kenaikan. S&P mencatat perbaikan tersebut didukung oleh pasar domestik, lantaran pesanan ekspor baru menurun.
"Kabar baiknya adalah pesanan baru sedikit naik. Namun, bukti survei menunjukkan bahwa perihal ini sering terjadi lantaran pengguna melakukan pembelian di muka sebelum kemungkinan gangguan akibat bentrok terjadi. Selain itu, optimisme menurun ke level terendah dalam lima bulan di tengah ketidakpastian tentang lamanya perang,” terangnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·