ilustrasi(Antara)
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, memperkirakan Bank Indonesia (BI) bakal mempertahankan suku kembang referensi alias BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026. Keputusan resmi RDG tersebut dijadwalkan bakal diumumkan pada Rabu (22/7) sore.
Rizal menilai langkah menahan suku kembang merupakan pilihan nan logis mengingat Bank Indonesia telah melakukan pengetatan moneter secara garang dalam waktu singkat. Sepanjang tahun 2026, BI tercatat telah meningkatkan suku kembang secara kumulatif sebesar 100 pedoman poin (bps) alias 1,00% melalui tiga tahapan penyesuaian.
"BI telah meningkatkan suku kembang secara garang sebesar 100 pedoman poin dalam dua bulan terakhir, sehingga langkah nan lebih logis adalah mengevaluasi terlebih dulu dampaknya terhadap Rupiah, inflasi, dan arus modal," ujar Rizal kepada Media Indonesia, Rabu (22/7).
Risiko Tekanan Ekonomi Domestik
Menurut Rizal, tambahan kenaikan suku kembang saat ini belum tentu efektif meredam tekanan terhadap Rupiah jika aspek utamanya berasal dari eksternal dan ketidakpastian global. Sebaliknya, kenaikan lanjutan justru berisiko memberikan tekanan tambahan pada sektor riil, terutama pada penyaluran kredit, investasi, dan daya beli masyarakat.
Sebagai alternatif, BI diprediksi bakal lebih mengoptimalkan instrumen stabilisasi lainnya. "BI kemungkinan memilih menahan suku kembang sembari memperkuat intervensi valas dan instrumen stabilisasi lainnya. Namun, jika tekanan Rupiah kembali meningkat tajam dan akibat inflasi impor membesar, ruang kenaikan 25 pedoman poin tetap terbuka pada RDG berikutnya," tambahnya.
Rekam Jejak Kenaikan BI-Rate 2026
Langkah pengetatan moneter nan dilakukan BI sepanjang tahun ini bermaksud sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah gejolak global. Berikut adalah rincian kenaikan BI-Rate secara kumulatif hingga Juli 2026:
| 20 Mei 2026 | 50 bps (0,50%) | 5,25% |
| 9 Juni 2026 | 25 bps (0,25%) | 5,50% |
| 17-18 Juni 2026 | 25 bps (0,25%) | 5,75% |
Dengan total kenaikan 100 bps dalam dua bulan terakhir, pasar sekarang menantikan apakah otoritas moneter bakal mengambil jarak (pause) untuk memantau transmisi kebijakan tersebut terhadap perekonomian nasional alias tetap memberikan kejutan di tengah ketidakpastian pasar finansial global. (Ant/E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·