Ikan di Sungai Terkontaminasi Opioid dan Antidepresan akibat Limbah Manusia

Sedang Trending 5 bulan yang lalu
Ikan di Sungai Terkontaminasi Opioid dan Antidepresan akibat Limbah Manusia Ilustrasi(Environmental Pollution )

PENELITIAN terbaru di Kanada mengungkapkan temuan mengkhawatirkan pada ekosistem air tawar. Ikan liar nan hidup di hilir instalasi pengolahan air limbah ditemukan mengandung residu obat-obatan terlarang dan farmasi, termasuk opioid dan antidepresan, di dalam jaringan tubuh mereka.

Riset nan dilakukan di wilayah aliran sungai Grand River, Ontario selatan ini menunjukkan bahwa sistem pengolahan limbah saat ini belum bisa menyaring seluruh jejak penggunaan obat-obatan manusia secara sempurna.

Zat Berbahaya Masuk ke Jaringan Tubuh

Dr. Diana M. Cárdenas-Soracá, peneliti pascadoktoral dari University of Waterloo, sukses membuktikan bahan kimia tersebut tidak hanya mencemari air, tetapi telah beranjak ke dalam jaringan hidup ikan. Berdasarkan hasil skrining, zat-zat nan konsisten ditemukan meliputi fentanyl, methadone, venlafaxine, serta produk sampingan dari venlafaxine.

Penelitian ini menggunakan ikan darter sebagai subjek lantaran jenis ini condong menetap di satu wilayah kecil, sehingga menjadikannya "spesies sentinel" alias parameter nan jeli untuk mendeteksi perubahan lingkungan lokal.

Molekul Obat Lolos dari Pengolahan Limbah

Sebagian besar sistem pengolahan air limbah dirancang untuk menyaring limbah manusia, nutrisi, dan kuman. Namun, molekul obat nan mini sering kali tetap terlarut dan dilepaskan ke sungai setiap hari.

"Penelitian ini menunjukkan pentingnya mengembangkan metode analitis nan sensitif untuk memantau kontaminan baru dan meningkatkan keahlian kita dalam menilai akibat potensial pada ekosistem perairan," ujar Cárdenas-Soracá.

Perbedaan Dampak pada Spesies dan Jenis Kelamin

Data nan dikumpulkan pada Mei 2024 menunjukkan adanya pola akumulasi kimia nan berbeda. Ikan jantan ditemukan membawa konsentrasi obat nan lebih tinggi dibandingkan betina. Peneliti menduga perihal ini terjadi lantaran ikan betina baru saja melepaskan telur nan kaya lemak, nan kemungkinan besar ikut membawa keluar bahan kimia nan sebelumnya tersimpan di jaringan lemak tubuh mereka.

Selain itu, jenis fantail darter tercatat mempunyai tingkat fentanyl dan venlafaxine tertinggi di antara jenis lainnya. Perbedaan langkah hidup dan kediaman di dasar sungai diduga memengaruhi seberapa besar paparan kimia nan diterima setiap ikan.

Peringatan bagi Ekosistem

Meskipun studi ini belum menguji secara langsung apakah obat-obatan tersebut membikin ikan sakit alias mengubah perilaku reproduksi mereka, para intelektual memberikan peringatan keras. Senyawa neuroaktif seperti antidepresan dalam penelitian lain telah dikaitkan dengan perubahan langkah makan, pergerakan, dan respons stres pada ikan.

Temuan nan telah diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution ini diharapkan mendorong otoritas mengenai untuk meningkatkan pemantauan terhadap kontaminan baru nan masuk ke lingkungan demi menjaga kesehatan ekosistem air tawar. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑