
IHSG Sesi I Anjlok Nyaris 5 Persen ke 5.889, Dipicu Pelemahan Rupiah hingga MSCI (Foto: Okezone)
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,49 persen ke level 5.889 pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu (3/6/2026). IHSG menyentuh level terendah 5.876.
Sebanyak 752 saham tercatat melemah, 169 saham stagnan, dan hanya 38 saham nan menguat hingga paruh pertama perdagangan.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu oleh kombinasi aspek eksternal dan domestik, mulai dari pelemahan nilai tukar Rupiah, penantian keputusan MSCI mengenai status pasar modal Indonesia, hingga sentimen negatif dari penurunan outlook PT Danantara Investment Management oleh Moody's Ratings.
Menjelang penutupan sesi I perdagangan, IHSG terkoreksi lebih dari 4 persen, koreksi ini membawa indeks masuk level 5.900, dan meneruskan lebih dalam hingga akhir sesi siang.
Dari sisi domestik, Moody's Ratings menetapkan ranking Baa2 untuk Danantara Investment Management dengan outlook negatif. Keputusan tersebut dinilai menambah kekhawatiran penanammodal terhadap prospek investasi dan stabilitas pasar finansial nasional dalam jangka menengah.
Tekanan juga datang dari pasar kurs asing. Nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata duit Garuda tersebut dipicu oleh kembali menguatnya nilai minyak bumi nan meningkatkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta kenaikan inflasi.
Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong nilai minyak kembali naik setelah sebelumnya sempat terkoreksi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap peningkatan tekanan inflasi dunia maupun domestik.
Data menunjukkan inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08% secara tahunan (year-on-year). Meskipun tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5%-3,5%, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan inflasi lebih lanjut andaikan nilai minyak memperkuat tinggi dalam periode nan panjang.
"Potensi kenaikan BI Rate tetap terbuka di tengah akibat peningkatan inflasi dan berlanjutnya depresiasi rupiah. Tren kenaikan suku kembang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·