IHSG Sesi I Anjlok 1,25% ke 6.099, Pasar Was-was soal Perang dan Agenda MSCI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Warga mengawasi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Senin (22/6) di area merah. Berdasarkan info Stockbit, indeks komposit tergelincir 1,25% dan parkir di level 6.099,93. Total nilai transaksi mencapai Rp 7,62 triliun dengan volume 13,43 miliar saham dan gelombang 1,11 juta kali.

Top Gainers

  • EMDE (Megapolitan Developments) naik 16 poin (28,07%) ke 73

  • ZONE (Mega Perintis) naik 135 poin (24,77%) ke 680

  • HDFA (Radana Bhaskara Finance) naik 17 poin (20,24%) ke 101

  • DPUM (Dua Putra Utama Makmur) naik 20 poin (19,05%) ke 125

  • MLPT (Multipolar Technology) naik 2600 poin (15,93%) ke 18.925

Top Losers

  • GMTD (Gowa Makassar Tourism Development) turun 175 poin (12,64%) ke 1.210

  • BINA (Bank Ina Perdana) turun 400 poin (11,11%) ke 3.200

  • SMMT (Golden Eagle Energy) turun 225 poin (10,47%) ke 1.925

  • LUCY (Lima Dua Lima Tiga) turun 150 poin (9,97%) ke 1.355

  • UDNG (Agro Bahari Nusantara) turun 180 poin (9,60%) ke 1.695

Top Value

  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa) senilai Rp 957,13 miliar

  • BBCA (Bank Central Asia) senilai Rp 634,68 miliar

  • TPIA (Chandra Asri Pacific) senilai Rp 591,84 miliar

  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia (Persero) senilai Rp 389,47 miliar

  • ANTM (Aneka Tambang) senilai Rp 321,85 miliar

Top Volume

  • BUMI (Bumi Resources) sebanyak 13,30 juta lembar

  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa) sebanyak 11,28 juta lembar

  • KOTA (DMS Propertindo) sebanyak 5,87 juta lembar

  • SDMU (Sidomulyo Selaras) sebanyak 4,05 juta lembar

  • ESIP (Sinergi Inti Plastindo) sebanyak 3,71 juta lembar

Bursa Asia

Warga melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Pergerakan bursa di area Asia terpantau bervariasi pada siang ini. Dihimpun dari info Stockbit dan Yahoo Finance, berikut pergerakannya:

  • Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 1,72% ke 72.474,22

  • Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,98% ke 23.690,86

  • Indeks SSE Composite di China naik 0,18% ke 4.098,01

  • Indeks Straits Times di Singapura turun 0,18% ke 5.183,57

Di pasar kurs asing, rupiah juga tertekan. Berdasarkan info Bloomberg, rupiah turun 25 poin (0,14 persen) ke Rp 17.829 per dolar AS.

Investor Was-was, Picu Tekanan Aksi Jual

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Mydral Gunarto, mengatakan anjloknya IHSG hari ini merupakan akibat dari pertama kembali memanasnya tensi geopolitik, terutama mengenai dengan perkembangan antara Iran dengan Amerika Serikat nan mana genjatan senjata ataupun juga proses perdamaian.

"Jadi penuh dengan ketidakpastian," katanya kepada kumparan.

Menurut dia, situasi tersebut mendorong penanammodal menerapkan strategi risk averse terhadap aset-aset di negara berkembang. Selain itu, pasar juga tetap merespons perkembangan terbaru mengenai Morgan Stanley Capital International (MSCI) nan menjadi referensi banyak penanammodal asing dalam menentukan alokasi investasi.

Sentimen eksternal tersebut membikin arus biaya asing condong lebih berhati-hati sehingga menekan pergerakan indeks domestik sepanjang perdagangan.

Myrdal menilai pelemahan IHSG tetap tergolong wajar mengingat pasar menghadapi kombinasi akibat geopolitik dan sentimen mengenai pertimbangan indeks global.

“Mungkin itu aja sih jadi jika selama selat hormuz ditutup lagi kondisi geopolitik memanas lagi terus juga kita ada aspek mengenai dengan MSCI sisa-sisa nan kemarin jadi ya wajar jika IHSG nya negatif sih,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pelaku pasar dunia dan domestik saat ini condong mengambil sikap wait and see menjelang pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 serta proses peninjauan ulang alias rebalancing indeks FTSE Russell.

“Para pelaku pasar dunia dan domestik condong menahan diri alias wait and see menjelang agenda krusial pekan ini, ialah MSCI Annual Market Classification Review nan dijadwalkan pada 24 Juni 2026, serta peninjauan ulang alias rebalancing indeks FTSE Russell. Ketidakpastian hasil tinjauan ini membikin volatilitas pasar meningkat dalam jangka pendek,” kata Nafan.

Menurut dia, ketidakpastian mengenai hasil pertimbangan MSCI dan FTSE Russell membikin penanammodal memilih menunggu kejelasan sebelum meningkatkan eksposur pada aset berisiko. Kondisi tersebut turut membebani pergerakan IHSG nan sudah tertekan oleh meningkatnya akibat geopolitik global.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan