IHSG Pekan Ini Hadapi Ujian Berat, Cek Rekomendasi Saham Pilihan

Sedang Trending 47 menit yang lalu

IHSG Pekan Ini Hadapi Ujian Berat, Cek Rekomendasi Saham Pilihan

IHSG Pekan Ini Hadapi Ujian Berat, Cek Rekomendasi Saham Pilihan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal menghadapi pergerakan dengan katalis nan condong variatif (mixed) pada perdagangan pekan 14-18 September 2026. Arah pergerakan IHSG bakal sangat dipengaruhi oleh pengumuman kebijakan moneter dari dua bank sentral utama dunia, ialah The Fed dan Bank of Japan (BoJ).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menjelaskan bahwa konsensus pasar memproyeksikan Bank Sentral AS (The Fed) bakal mengerek suku kembang referensi sebesar 25 pedoman poin akibat kenaikan inflasi, sementara BoJ diperkirakan turut meningkatkan suku kembang sebesar 25 pedoman poin menjadi 1,25 persen.

"Kenaikan suku kembang kedua bank sentral berpotensi menekan appetite terhadap aset berisiko, terutama andaikan komunikasi keduanya lebih hawkish dari ekspektasi," ujar Imam dalam keterangannya, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Secara kajian teknikal, Imam menerangkan bahwa IHSG memang mengalami pelemahan jangka pendek setelah ditutup di bawah MA20 di sekitar 6.623. Namun, kondisi tersebut belum mengonfirmasi pembalikan arah menjadi bearish.

Pada pekan 7-11 September 2026, IHSG ditutup di level 6.541,37 alias terkoreksi -1,43 persen secara mingguan akibat kombinasi tindakan ambil untung (profit taking) dan meningkatnya ketidakpastian global.

"Hal nan menarik justru terlihat pada candle terakhir. IHSG sempat turun hingga 6.462, tetapi sukses ditutup kembali di 6.541, sehingga membentuk lower shadow nan relatif panjang. Pola ini menunjukkan adanya rejection terhadap tekanan jual di area bawah," jelasnya.

Imam menambahkan bahwa penembusan level MA20 tetap berpotensi merupakan false break alias liquidity grab andaikan indeks sanggup rebound ke atas MA20 pada perdagangan pekan ini.

Koreksi pasar pada pekan sebelumnya dipengaruhi oleh penguatan nilai minyak bumi dan eskalasi geopolitik. Keputusan OPEC+ menahan kenaikan produksi minyak di tengah gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb berbanding lurus dengan New Delhi Declaration dari KTT BRICS 2026 nan menyerukan penolakan hukuman sepihak, dedolarisasi pragmatis melalui mata duit lokal, serta pengamanan jalur energi.

Dari sisi makroekonomi, lonjakan inflasi produsen dan konsumen terjadi di AS (PPI 5,4 persen YoY) serta China (PPI 3,8 persen YoY), nan kian mengonfirmasi arah pengetatan moneter global.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com