IHSG Anjlok, Analis Sebut Lebih Banyak Akibat Faktor Domestik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
IHSG Anjlok, Analis Sebut Lebih Banyak Akibat Faktor Domestik Ilustrasi.(Antara Foto)

KOREKSI tajam indeks nilai saham campuran alias IHSG menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026 perlu menjadi perhatian. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan nan cukup serius. 

"Jika dilihat dari data, penurunan ini bukan semata-mata dipicu oleh aspek eksternal seperti memanasnya kembali bentrok AS-Iran nan mendorong nilai minyak bumi mendekati US$100 per barel, tetapi juga diperberat oleh beragam sentimen domestik nan belum menemukan titik terang," kata Hendra dalam keterangan nan diterima, Kamis (4/6).

Pelemahan Rupiah

Ia menyebut pelemahan rupiah terhadap dolar AS, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta terus berlanjutnya arus keluar biaya asing membikin penanammodal memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.

"Di tengah bursa Asia nan kebanyakan justru menguat, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari aspek internal dibandingkan eksternal," ujarnya.

Hendra mengingatkan bahwa pasar pada dasarnya tidak bergerak berasas pidato alias pernyataan optimistis semata, melainkan berasas persepsi terhadap akibat dan prospek ke depan.

"Ketika pemerintah menyampaikan bahwa esensial ekonomi tetap kuat, namun pada saat nan sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan keahlian terburuk di bumi tahun ini, dan penanammodal asing terus melakukan tindakan jual, maka muncul kesenjangan antara narasi dan realitas pasar," ungkapnya.

Kepercayaan Investor 

Menurutnya, kepercayaan penanammodal merupakan aset nan sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, penanammodal condong memilih menunggu alias apalagi memindahkan dananya ke negara lain nan dianggap lebih stabil.

Hendra menyebut info arus modal asing juga memperlihatkan kondisi tersebut. Pada perdagangan kemarin (3/6), asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp864 miliar. Sementara secara akumulatif sejak awal tahun biaya asing nan keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp67 triliun.

Menurutnya, nomor tersebut tergolong sangat besar dan menjelaskan kenapa tekanan jual terus terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar nan selama ini menjadi penopang indeks.

"Selama arus keluar asing tetap berjalan dan belum ada katalis positif nan bisa mengembalikan kepercayaan penanammodal global, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan," jelasnya.

Menarik untuk Investasi Jangka Panjang

Meski demikian, Hendra menyebut kondisi saat ini tidak serta-merta kudu disikapi dengan kepanikan. Dari sisi valuasi, banyak saham unggulan sebenarnya sudah mengalami koreksi nan sangat dalam sehingga mulai memasuki area menarik untuk investasi jangka panjang.

Namun, katanya, penanammodal juga perlu menyadari bahwa pasar nan sedang mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak logis dalam jangka pendek.

"Oleh lantaran itu, kemungkinan IHSG tetap dapat mengalami tekanan lanjutan dan menguji area psikologis berikutnya di sekitar 5.800 hingga 6.000 sebelum akhirnya menemukan keseimbangan baru dan berkesempatan melakukan pemulihan secara bertahap," ujar Hendra. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia