Ibu Hamil Terpapar Asap Kebakaran TPA Jatiwaringin

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Sementara itu, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah II menyatakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang susah dilakukan dalam waktu dekat, mengingat potensi pertumbuhan awan diprakirakan rendah.

Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II, Hartanto dalam keterangan tertulis diterima di Tangerang, Rabu, menyampaikan bahwa potensi pertumbuhan awan pada periode awal Juli 2026, tetap dalam kondisi rendah.

Kendati operasi penanggulangan kebakaran melalui skema TMC berpotensi tetap jauh dari kesempatan terjadinya hujan secara masif.

"Sampai beberapa hari ke depan peluangnya tetap kecil, sehingga dilakukan upaya lain untuk pemadaman di lokasi," katanya.

Ia menjelaskan berdasarkan dari hasil monitoring kondisi dinamika atmosfer cuaca, maka potensi hujan tetap rendah dalam beberapa hari ke depan.

Namun, kondisi tersebut bakal terus dimonitor secara rutin setiap hari. Sehingga, modifikasi cuaca bisa dilakukan jika potensi pertumbuhan awan itu meningkat dan memungkinkan untuk dilakukan operasi.

"Alternatifnya dengan langkah lain melalui penyiraman secara konvensional dan bombing dari helikopter," kata dia.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan dua unit helikopter water bombing untuk mengatasi pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang nan terjadi sejak Selasa (30/6/2026).

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi pada BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan menyampaikan dua helikopter jenis MI-8AMT dengan registrasi RA-22834 direposisi dari Provinsi Jambi saat ini dikerahkan ke letak dalam operasi pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin.

Dimana, katanya, dari salah satu helikopter nan dikerahkan mempunyai kapabilitas angkut air hingga 4.000 liter untuk menjatuhkan air langsung ke titik-titik api.

"BNPB saat ini diperbantukan dua unit heli water bombing yang saat ini sudah ada di Bandara Pondok Cabe, dan nan satu lagi sejenak lagi sampai perjalanan dari Jambi," ujarnya.

Ia mengatakan dari ke dua unit helikopter ini bakal beraksi melalui teknik pelepasan peledak air tepat di gunungan sampah. Dimana, konsentrasi penyiraman dilakukan pada puncak sampah nan tetap mengeluarkan api dan kepulan asap dengan diduga di dalamnya terdapat titik-titik api.

"Jadi, di sebelah TPA terdapat waduk kecil. Nanti kita ambil air dari situ, jadi, bisa cepat. Mudah-mudahan ini dalam waktu dekat bisa bergeser ke letak untuk penindakan," ujarnya.

BNPB berbareng Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bakal menyiapkan satu armada pesawat unik nan digunakan dalam operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna membantu percepatan pemadaman, sehingga situasi kedaruratan kebencanaan ini dapat terkendali.

"Saya perlu ada awan untuk menyirami garam. Jadi, langkah-langkah pusat maupun daerah, kita tidak bakal membiarkan begitu saja. Kita kudu sigap tanggap," kata dia.

Tanggap Darurat

Hingga saat ini luasan kebakaran di TPA Jatiwaringin telah mencapai kurang lebih 15 hektare. Sebelumnya, pada Selasa (30/6/2026) akibat kebakaran itu mencapai lima hektare, sehingga ini mengalami perluasan.

Pihaknya sekarang telah meningkatkan status penanggulangan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk dari siaga menjadi tanggap darurat sebagai mengoptimalkan upaya penanganan di lapangan.

"Kita tetapkan bahwa ini sudah masuk kategori darurat. Karena ini menyangkut masalah kesehatan masyarakat, menyangkut juga akibat daripada api nan terus menjalar begitu kita tetapkan," ucapnya.

Peningkatan status itu ditetapkan berasas hasil rapat pertimbangan penanggulangan musibah kebakaran TPA, berbareng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) serta lembaga terkait.

Sehingga, lanjutnya, sejak 30 Juni 2026, melalui surat keputusan (SK) Bupati Tangerang tentang penanggulangan kebencanaan ditingkat menjadi tanggap darurat.

"Ini menjadi pertimbangan, lantaran akibat pastinya ada asap. Asap ini terbawa oleh angin dan dekat sekali ke permukiman," katanya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑