Di era sekarang, dengan perkembangan teknologi nan canggih, orang-orang mempunyai akses nan lebih banyak untuk berkomunikasi dan memandang konten lebih mudah dan sesuka hati mereka. Tidak hanya antar sesama kawan alias kerabat, tetapi juga terhadap public figure seperti selebriti alias influencer.
Yang dimana pada era dulu, hubungan dengan public figure itu bisa disebut sangat rumit. Orang-orang pada era itu hanya bisa berinteraksi dengan pujaan favorit mereka melalui surat fans alias berjumpa secara langsung. Itu pun jika mereka ditanggapi.
Setiap hari, jutaan orang membuka sosial media untuk memandang postingan terbaru dari influencer, penyanyi, aktor, pembuat konten, alias streamer favorit mereka.
Tidak sedikit fans nan merasa ikut berbahagia ketika pujaan favorit mereka mendapat sebuah penghargaan, merasa sedih alias tersinggung ketika pujaan mereka mendapat kritik, apalagi rela menghabiskan waktu dan duit mereka hanya untuk mendukung pekerjaan seseorang nan belum pernah mereka temui secara langsung.
Jika kalian pernah memandang hal-hal seperti ini di sosial media, pasti kalian berpikir dan bertanya ke diri sendiri, kira-kira ini kejadian apa sih? Kenapa seseorang bisa meluangkan waktu dan pikiran mereka ke seorang public figure nan apalagi tidak tahu keberadaan mereka, seakan-akan mereka ini adalah kawan dekat?
Fenomena ini dalam kajian ilmu jiwa disebut sebagai hubungan parasosial (parasocial relationship). Menurut Theraphy Group of DC, hubungan parasosial adalah kejadian hubungan sepihak di mana seseorang merasa mempunyai ikatan nan sangat kuat terhadap public figure, seperti selebriti alias influencer, tanpa adanya hubungan secara langsung.
Fenomena hubungan parasosial ini kemudian mendorong terbentuknya komunitas- komunitas fans nan biasa disebut sebagai 'Fandom'. Menurut Wikipedia, fandom adalah sebuah subkultur nan terdiri dari para fans nan disatukan oleh rasa kebersamaan dengan sesama perseorangan nan mempunyai minat nan sama. Para fans biasanya tertarik apalagi pada detail-detail sekecil apa pun mengenai dengan objek fandom mereka, serta meluangkan sebagian besar waktu dan daya mereka untuk memenuhkan minat tersebut.
Lalu, gimana hubungan seperti ini bisa terbentuk? Salah satu penyebabnya adalah perkembangan media dan teknologi nan membikin public figure terasa lebih dekat dengan para penggemarnya. Melalui sosial media, seorang influencer dapat membagikan aktivitas sehari-hari, pemikiran pribadi, hingga momen-momen emosional mereka sendiri nan membikin pengikutnya merasa mengenal mereka secara lebih intim. Meskipun hubungan tersebut umumnya tidak berkarakter timbal balik, paparan nan terus-menerus dapat menciptakan ilusi kedekatan dan pertemanan.
Pengalaman hubungan sosial nan dialami seseorang saat masa mini (seperti interaksi dengan personil family dan teman) juga mempunyai peran krusial dalam bagaimana langkah seseorang bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan orang lain di sekelilingnya. Cara seseorang membangun kepercayaan, mencari rasa kenyamanan, dan memenuhi kebutuhan emosional sering kali dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman tersebut.
Selain itu, pandemi COVID-19 nan terjadi beberapa tahun nan lampau menjadi salah satu aspek nan memperkuat kejadian hubungan parasosial. Ketika pembatasan sosial diberlakukan dan hubungan tatap muka menjadi terbatas, banyak orang terpaksa kudu melakukan semua aktifitas mereka di rumah dan menghabiskan lebih banyak waktu di internet dan media sosial. Streamer, influencer, dan konten pembuat sedang naik dalam populeritas dan mereka menjadi salah satu sumber utama intermezo bagi banyak orang pada masa ini.
Oleh lantaran itu, hubungan parasosial tidak selalu muncul semata-mata lantaran pengaruh media alias teknologi, tetapi juga dapat berangkaian dengan kebutuhan emosional, pengalaman sosial, serta kondisi nan sedang dialami oleh setiap individu.
Hubungan parasosial ini tidak sepenuhnya negatif alias positif, lantaran dalam pemisah tertentu kejadian ini dapat memberikan hiburan, sumber inspirasi, dan rasa kenyamanan bagi seseorang. Fandom juga dapat menjadi tempat nyaman bagi seseorang nan berkeinginan sama untuk membangun pertemanan baru. Tetapi, hubungan ini juga dapat berpotensi menimbulkan akibat jelek andaikan berkembang secara tidak sehat, seperti mengabaikan kebutuhan diri sendiri, merasa tersakiti ketika pujaan mereka dikritik, dan mulai mengabaikan lingkungan sosial di sekitar mereka.
Ada satu perihal nan menarik dengan topik ini, hubungan parasosial tidak hanya dapat terjadi terhadap public figure nan betul-betul ada di bumi nyata. Banyak orang juga dapat membangun ikatan emosional nan kuat dengan karakter-karakter fiksi dalam sebuah film, novel, video game, maupun anime. Seseorang dapat merasa sedih ketika karakter favoritnya meninggal, alias menjadikan karakter tersebut sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian fans apalagi membayangkan dirinya mempunyai hubungan nan sangat dekat dengan karakter favoritnya. Bagi banyak orang, perihal tersebut merupakan corak intermezo dan ekspresi imajinatif nan tidak berbahaya. Namun, dalam beberapa kasus, keterikatan terhadap karakter fiksi nan terlalu kuat dapat menyebabkan seseorang mengalami reaksi emosional nan sangat intens ketika alur sebuah cerita tidak sesuai dengan angan ekspektasi mereka, misalnya ketika karakter favorit mereka dipasangkan dengan tokoh lain. Seakan-akan mereka mempunyai karakter tersebut.
Kesimpulannya, mempunyai keterikatan emosional pada public figure alias karakter fiksi tertentu itu wajar. Namun, kita juga perlu ingat bahwa kesukaan nan berlebihan itu tidak sehat. Kita kudu sadar pemisah antara intermezo dan realitas, lantaran kesukaan nan berkembang secara berlebihan dapat memberikan akibat nan kurang sehat bagi diri sendiri maupun hubungan sosial kita di bumi nyata.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·