HNW Ajak Pesantren Gaungkan Resolusi Jihad Era Baru Sambut Hari Santri

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mendorong pesantren dan santri berkedudukan aktif menghadapi beragam tantangan kebangsaan, mulai dari narkoba dan gambling online hingga korupsi dan kerusakan lingkungan. Ia membujuk pesantren menggaungkan semangat "Resolusi Jihad Era Baru" untuk meneruskan perjuangan menjaga kemerdekaan dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

"Kalau santri di DPR tak bersuara saja, tidak ada itu nan namanya Undang-Undang Pesantren, tidak ada Dana Abadi Pesantren, tidak ada Ditjen Pesantren," ujar Hidayat dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

Hidayat, nan dikenal dengan sapaan HNW, menyampaikan perihal tersebut saat menjadi narasumber Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Tematik menyambut Hari Santri Nasional 2026 di Aula Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (21/10).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut HNW, keterlibatan santri di parlemen turut mendorong lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, penetapan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober, serta pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.

Ia menilai keterlibatan santri di lembaga negara membuka ruang bagi aspirasi pesantren untuk diterjemahkan menjadi kebijakan. Karena itu, peran tersebut perlu terus diperkuat.

Meski demikian, HNW menyoroti pendanaan bagi pesantren nan dinilainya belum proporsional. Ia menyebut Dana Abadi Pendidikan mencapai Rp 148 triliun, sedangkan Dana Abadi Pesantren baru sebesar Rp 250 miliar.

Menurutnya, penguatan kelembagaan pesantren perlu diikuti support pendanaan nan setara agar pesantren dapat menjalankan perannya secara optimal.

HNW Ajak Pesantren Lanjutkan Semangat Resolusi Jihad

HNW mengaitkan peran santri saat ini dengan sejarah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Ia menjelaskan, seruan nan dipelopori KH Hasyim Asy'ari tersebut merupakan respons ustadz dan santri terhadap ancaman kembalinya kolonialisme Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Menurut HNW, peristiwa tersebut menunjukkan peran ulama, umat Islam, dan negara dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ia juga mengingatkan pentingnya memegang prinsip "Jas Merah", ialah jangan sekali-kali melupakan sejarah, serta "Jas Hijau", jangan sekali-kali menghilangkan jasa para ulama. Baginya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya berkedudukan dalam pendidikan agama, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan pembangunan bangsa.

Dalam konteks saat ini, HNW membujuk pesantren menggaungkan "Resolusi Jihad Era Baru" untuk menghadapi beragam persoalan, seperti narkoba, gambling online, korupsi, kejahatan terhadap anak, kerusakan moral, dan kerusakan lingkungan. Ia juga menyoroti akibat negatif media sosial serta beragam tantangan nan dinilai dapat menghalang terwujudnya Indonesia Emas 2045.

HNW mengatakan aktivitas tersebut dapat diwujudkan melalui seruan berbareng untuk memperkuat pendidikan, memberantas kejahatan, menjaga lingkungan, serta melindungi sumber daya manusia dan sumber daya alam Indonesia.

Ia menilai semangat pengabdian santri perlu menjangkau beragam bagian kehidupan, termasuk sosial, ekonomi, politik, dan kenegaraan, dengan tetap berpegang pada sejarah serta kecintaan terhadap Tanah Air.

Dalam kesempatan itu, HNW mengapresiasi aktivitas menyambut Hari Santri Nasional dan mendorong penguatan Forum Organisasi Santri Dai Indonesia (FOSDI) nan diinisiasi Pondok Pesantren Husnul Khotimah.

Ia berambisi santri tidak hanya berkedudukan sebagai pendakwah, tetapi juga menjadi penggerak kebaikan nan berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa. Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober, menurutnya, dapat menjadi momentum untuk meneruskan semangat Resolusi Jihad dalam menjaga kemerdekaan, memperkuat persatuan, dan membangun masa depan Indonesia.

(ega/anl)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑