Pertemuan Koordinasi Konselor HIV Tahun 2026 nan diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali di UPTD Bapelkesmas Provinsi Bali, Rabu (3/6/2026).(MI/Arnoldus Dhae)
INFEKSI Human Immunodeficiency Virus (HIV) sekarang tidak lagi dianggap sebagai "vonis mati". Kemajuan signifikan dalam pengobatan Antiretroviral (ARV) telah mengubah paradigma medis, menempatkan HIV sebagai penyakit kronis nan dapat dikendalikan.
Dengan terapi nan tepat, Orang dengan HIV (ODHIV) sekarang mempunyai kesempatan untuk hidup sehat, produktif, apalagi membangun family tanpa akibat menularkan virus kepada pasangan maupun anak.
Hal tersebut ditegaskan oleh dr. Oka Negara, master sekaligus aktivis kesehatan reproduksi, dalam Pertemuan Koordinasi Konselor HIV Tahun 2026 nan diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali di UPTD Bapelkesmas Provinsi Bali, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, pemahaman ini merupakan titik awal krusial untuk menghapus stigma dan diskriminasi nan selama ini menghantui ODHIV.
Transformasi Medis: Dari Era 80-an hingga Konsep U=U
Oka mengenang gimana pada awal epidemi tahun 1980-an, pemeriksaan HIV nyaris selalu berhujung dengan kematian lantaran ketiadaan terapi. Namun, saat ini situasinya telah berbalik 180 derajat. Salah satu terobosan paling revolusioner adalah konsep U=U (Undetectable = Untransmittable).
"ODHIV nan menjalani terapi ARV secara rutin dan sukses mencapai tingkat viral load tidak terdeteksi, tidak bakal menularkan HIV melalui hubungan seksual. Ini memberikan angan besar bagi mereka untuk menjalani kehidupan normal," jelas Oka.
Selain itu, pengobatan sekarang jauh lebih sederhana. Jika dulu pasien kudu mengonsumsi banyak obat dengan pengaruh samping berat, sekarang kebanyakan pasien hanya memerlukan satu tablet per hari dengan regimen berbasis Dolutegravir nan lebih efektif dan minim akibat resistensi.
Data Global HIV (Hingga Akhir 2024):
| Total Orang Hidup dengan HIV | 40,8 Juta |
| Infeksi Baru (Tahun 2024) | 1,3 Juta |
| Kematian Terkait AIDS (Tahun 2024) | 630 Ribu |
| Total Kematian Sejak Awal Epidemi | 44 Juta |
Tantangan Menuju Target 95-95-95
Meski secara medis telah maju, tantangan sosial dan akses jasa tetap membayangi. UNAIDS menetapkan strategi dunia 95-95-95 untuk mengakhiri epidemi pada tahun 2030. Namun, info tahun 2024 menunjukkan bumi tetap kudu bekerja keras untuk mencapai sasaran tersebut.
| 95% ODHIV mengetahui status HIV mereka | 87% |
| 95% ODHIV nan tahu statusnya mendapat terapi ARV | 77% |
| 95% ODHIV nan terapi mencapai supresi virus | 73% |
Peran Konseling dan Kepatuhan Terapi
Puji Astuti, pemegang Program HIV/AIDS Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya Denpasar, menekankan bahwa keberhasilan pengobatan sangat berjuntai pada kepatuhan pasien dan kualitas jasa konseling. Ia menyoroti pentingnya empati dari para konselor agar pasien merasa didukung, bukan dihakimi.
"Kepatuhan minum ARV adalah kunci untuk mencegah kegagalan supresi virus, meningkatkan kekebalan tubuh (CD4), dan mencegah resistensi obat. Saat ini, kebijakan Test and Treat memungkinkan siapa pun nan positif HIV segera mendapatkan terapi tanpa menunggu kondisi bentuk menurun," papar Puji.
Visi Three Zero 2030
Pertemuan ini kembali menegaskan komitmen Indonesia, khususnya Bali, dalam mencapai sasaran Three Zero pada tahun 2030:
- Nol jangkitan baru HIV.
- Nol kematian akibat AIDS.
- Nol stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.
Dengan kerjasama lintas sektor, penguatan penemuan awal di akomodasi kesehatan, serta edukasi masyarakat nan masif, diharapkan mata rantai penularan dapat diputus dan kualitas hidup ODHIV di Indonesia terus meningkat menuju eliminasi AIDS di masa depan. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·