Hipertensi adalah kondisi tekanan hipertensi nan sering tidak dosadari lantaran tidak menimbulkan gejala, padahal dapat berujung pada komplikasi serius. Banyak orang merasa tubuhnya baik-baik saja, tidak ada keluhan, tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi siapa sangka, di kembali kondisi nan tampak “sehat” bisa saja seseorang menyimpan penyakit serius tanpa disadari. Salah satunya adalah hipertensi.
Para mahir Kesehatan menyatakan bahwa penyakit ini sering dijuluki sebagai silent killer alias “pembunuh diam-diam". Bukan tanpa alasan, hipertensi kerap tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat berujung pada komplikasi berbahaya.
Apa Itu Hipertensi?
Menurut World Health Organization (2025), Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah dalam pembuluh darah berada di atas normal, ialah sekitar 140/90 mmHg alias lebih. Meskipun cukup umum terjadi, kondisi ini dapat menjadi rawan jika tidak ditangani dengan baik.
Sebagian besar penderita tidak merasakan gejala, sehingga pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi satu-satunya langkah untuk mendeteksinya. Risiko hipertensi dapat meningkat seiring bertambahnya usia, aspek genetik, kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi garam, serta konsumsi alkohol berlebihan.
Penerapan style hidup sehat, seperti menjaga pola makan, berakhir merokok, dan rutin berolahraga, dapat membantu mengontrol tekanan darah, meskipun dalam beberapa kasus tetap diperlukan pengobatan. Tekanan darah sendiri terdiri dari dua angka, ialah sistolik nan menunjukkan tekanan saat jantung berkontraksi dan diastolik saat jantung beristirahat. Diagnosis hipertensi ditegakkan jika hasil pengukuran menunjukkan nomor tinggi secara konsisten pada waktu nan berbeda.
Kenapa Disebut Silent Killer?
Menurut dr.Wirawan Hambali, Sp.PD,FINASIM (2025), hipertensi alias tekanan hipertensi merupakan kondisi medis ketika tekanan darah di dalam arteri meningkat secara terus-menerus. Tekanan darah sendiri adalah dorongan nan dihasilkan oleh aliran darah saat melewati pembuluh arteri.
Kondisi ini kerap dijuluki sebagai silent killer lantaran biasanya tidak menimbulkan indikasi nan unik pada penderitanya. Meski demikian, hipertensi dapat memicu beragam gangguan serius pada pembuluh darah dan organ vital, seperti jantung, otak, mata, dan ginjal, terutama jika tidak ditangani dalam jangka waktu lama.
Bisa Terjadi di Usia Muda
Dulu, hipertensi identik dengan orang lanjut usia. Tapi sekarang, kondisi ini semakin sering ditemukan pada anak muda.
Gaya hidup modern jadi salah satu penyebab utamanya. Pola makan tinggi garam, kebiasaan begadang, stress, hingga kurang aktivitas bentuk berkontribusi besar terhadap meningkatnya akibat hipertensi.
Penyebab Hipertensi
Menurut dr. Meva Nareza T (2023), Penyebab hipertensi bisa beragam, apalagi dalam beberapa kasus tidak diketahui secara pasti. Berdasarkan penyebabnya, kondisi ini dibagi menjadi dua jenis, ialah hipertensi primer dan sekunder.
Hipertensi primer merupakan jenis nan paling sering terjadi. Penyebabnya tidak diketahui secara jelas dan biasanya berkembang secara perlahan dalam jangka waktu nan lama, apalagi hingga bertahun-tahun.
Sementara itu, hipertensi sekunder adalah tekanan hipertensi nan muncul akibat kondisi medis tertentu. Berbeda dengan hipertensi primer, jenis ini bisa terjadi secara tiba-tiba, apalagi pada anak-anak.
Beberapa kondisi nan dapat menyebabkan hipertensi sekunder antara lain penyakit ginjal, hipertiroidisme, serta penyakit jantung bawaan. Selain itu, kelainan pembuluh darah sejak lahir juga dapat menjadi pemicu. Faktor lain nan turut berkedudukan meliputi penyalahgunaan NAPZA, konsumsi obat-obatan tertentu seperti dekongestan, pil KB, alias kortikosteroid, serta gangguan tidur seperti sleep apnea. Tidak hanya itu, kebiasaan mengonsumsi alkohol secara berlebihan juga dapat meningkatkan akibat terjadinya hipertensi sekunder.
Selain itu, aspek emosional juga dapat memicu peningkatan tekanan darah. Salah satu contohnya adalah white coat hypertension, ialah kondisi ketika tekanan darah meningkat lantaran rasa resah alias takut saat menjalani pemeriksaan kesehatan. Menariknya, tekanan darah biasanya bakal kembali normal ketika pasien berada di rumah.
Gejala nan Sering Diabaikan
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hipertensi dikenal sebagai silent killer lantaran dapat menyerang siapa saja tanpa menimbulkan tanda-tanda nan jelas pada tubuh. Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh penderitanya hingga akhirnya menimbulkan komplikasi.
Meskipun umumnya tidak bergejala, beberapa keluhan tidak spesifik tetap bisa muncul, seperti sakit kepala, mimisan, gangguan penglihatan, nyeri dada, telinga berdengung, sesak napas, hingga aritmia. Pada kondisi nan lebih berat, indikasi nan dirasakan dapat semakin serius, seperti kelelahan, mual dan muntah, kebingungan, rasa cemas, nyeri dada, tremor otot, hingga ditemukannya darah dalam urine.
Cara Mencegah Hipertensi
Menurut dr. Gracia Fensynthia (2025), Meskipun aspek keturunan dan usia tidak dapat dihindari, akibat hipertensi tetap bisa dikendalikan melalui perubahan style hidup. Upaya pencegahan dapat dimulai dengan mengonsumsi makanan sehat rendah lemak dan tinggi serat, serta membatasi asupan garam agar tidak berlebihan. Aktivitas bentuk secara rutin juga krusial untuk menjaga berat badan tetap ideal dan membantu menstabilkan tekanan darah.
Selain itu, pengelolaan stres dan tidur nan cukup turut berkedudukan dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Menghindari kebiasaan merokok, membatasi konsumsi alkohol dan kafein, serta rutin memeriksa tekanan darah juga menjadi langkah krusial dalam mencegah hipertensi. Dengan menerapkan kebiasaan hidup sehat secara konsisten, akibat terjadinya hipertensi dan komplikasinya dapat diminimalkan.
Hipertensi bukan hanya penyakit orang tua. Siapa pun bisa mengalaminya, termasuk anak muda nan merasa dirinya sehat. Justru lantaran sering tidak bergejala, kondisi ini kerap terabaikan.
Mulai dari sekarang, krusial untuk lebih peduli terhadap Kesehatan tubuh. Jangan menunggu indikasi muncul, lantaran saat itu terjadi bisa jadi semuanya terlambat.
\
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·