Hilirisasi dan Pariwisata Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi NTT

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Hilirisasi dan Pariwisata Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi NTT Capacity Building Media 2026 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT di Kalabahi, Kabupaten Alor, Kamis (15/10).(MI/PALCE AMALO)

EKONOM Yunior Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Ahmad Akhirul Fatoni mengatakan NTT mempunyai sumber daya alam dan potensi pariwisata nan besar. Namun, pengembangannya tetap menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan industri pengolahan, konektivitas antardaerah, dan akses pasar.

Hal itu disampaikan Fatoni saat membawakan materi tentang Perkembangan PDRB, Inflasi, dan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) dalam aktivitas Capacity Building Media 2026 nan digelar di Kalabahi, Kabupaten Alor, Kamis (15/10).

Menurut Fatoni, salah satu persoalan mendasar dalam pengembangan ekonomi NTT adalah tetap terbatasnya pengolahan komoditas unggulan di dalam daerah. Sejumlah produk lokal dikirim keluar NTT dalam corak bahan mentah untuk diolah lebih lanjut di wilayah lain sehingga potensi pembuatan nilai tambah belum sepenuhnya dinikmati masyarakat setempat.

Komoditas seperti rumput laut, kelapa, porang, dan garam berkesempatan dikembangkan menjadi produk olahan berbobot tambah. Padahal, rumput laut, misalnya, dapat diproses menjadi bahan baku industri makanan dan kosmetik. Sementara itu, kelapa dapat dikembangkan menjadi beragam produk turunan, mulai dari sabun hingga arang berbahan tempurung.

Menurutnya, pengembangan industri pengolahan di wilayah diharapkan dapat memperpanjang rantai nilai ekonomi, membuka lapangan usaha, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya berjuntai pada penjualan komoditas primer, tetapi juga pada keahlian wilayah menghasilkan produk olahan nan mempunyai daya saing.

Selain hilirisasi, Fatoni menyoroti kesempatan perdagangan NTT dengan negara-negara tetangga, terutama Timor-Leste dan Australia. Posisi geografis NTT nan berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan relatif dekat dengan Australia dinilai menjadi kelebihan untuk memperluas jangkauan pasar produk unggulan daerah.

Selama ini, pengedaran peralatan dari NTT tetap banyak berjuntai pada jalur perdagangan melalui wilayah lain di Indonesia. Karena itu, akses perdagangan langsung ke pasar regional perlu dikaji sebagai pengganti untuk meningkatkan efisiensi pengedaran dan memperluas kesempatan pemasaran produk lokal.

Salah satu opsi nan disampaikan dalam pemaparan tersebut adalah pengembangan Free Trade Zone (FTZ). Gagasan itu memerlukan kajian mendalam, persiapan, dan proses kebijakan sebelum dapat direalisasikan. Fatoni menyebut kesempatan pengembangannya telah menjadi bahan pembahasan berbareng pemangku kepentingan daerah.

Di sisi lain, kesiapan daya menjadi aspek krusial dalam pengembangan industri. NTT mempunyai potensi daya baru terbarukan (EBT), antara lain tenaga surya, angin, dan panas bumi, serta potensi daya laut nan tetap perlu dikaji lebih lanjut.

Menurutnya, pengembangan daya bersih nan andal dapat mendukung kebutuhan industri pengolahan sekaligus meningkatkan daya tarik investasi. Ketersediaan daya dan prasarana pendukung lainnya menjadi prasyarat agar pengolahan komoditas lokal dapat berkembang secara berkelanjutan.

Dengan keterhubungan antara sektor energi, industri pengolahan, dan perdagangan, NTT berkesempatan membangun struktur ekonomi nan lebih kuat. Produk unggulan wilayah tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk berbobot tambah nan menjangkau pasar lebih luas.

Sektor pariwisata juga menjadi bagian krusial dalam strategi pengembangan ekonomi NTT. Potensi destinasi tersebar di beragam wilayah, mulai dari Labuan Bajo dan area Flores, Alor, Timor, hingga Sumba.

Menurut Fatoni, potensi tersebut perlu dioptimalkan agar bisa mendatangkan visitor sekaligus menggerakkan beragam aktivitas ekonomi masyarakat. Pariwisata mempunyai keterkaitan dengan sektor transportasi, akomodasi, kuliner, perdagangan, dan upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Namun, pengembangan pariwisata tetap menghadapi tantangan berupa keterbatasan konektivitas dan akomodasi di sejumlah destinasi. Karena itu, lanjutnya, promosi perlu melangkah beriringan dengan peningkatan aksesibilitas, pengembangan infrastruktur, dan kualitas jasa wisata.

Dia menyebutkan, penguatan keterhubungan antara destinasi wisata dan produk lokal juga krusial agar faedah ekonomi pariwisata menjangkau masyarakat.  

Dalam konteks ini, kata Dia, pengembangan pariwisata perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi ekonomi wilayah nan lebih luas. Potensi alam dan budaya menjadi modal utama, sedangkan konektivitas, kualitas layanan, promosi, dan keterlibatan UMKM menjadi aspek nan menentukan besarnya faedah ekonomi nan dapat dihasilkan.

Pertumbuhan Ekonomi Dihadapkan pada Tantangan

Fatoni menyebut pertumbuhan ekonomi NTT tercatat sebesar 5,01% triwulan II 2026 (yoy), lebih rendah dibandingkan TW II 2025 5,32% (yoy  

Sektor bangunan dan perdagangan menjadi sejumlah penopang pertumbuhan, sedangkan sektor akomodasi dan makan minum turut berkontribusi seiring meningkatnya aktivitas pariwisata.

Menurutnuya, proyeksi pertumbuhan ekonomi NTT pada 2026-2027 berada dalam kisaran 3,9% hingga 5,9%. Rentang tersebut tetap perlu dikonfirmasi berasas periode proyeksi dalam materi resmi BI.

Fatoni juga menyinggung musibah nan terjadi di wilayah NTT sebagai salah satu aspek nan berpotensi menahan aktivitas ekonomi. Karena itu, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi dinilai krusial untuk memulihkan aktivitas masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan.

Di tengah tantangan tersebut, penguatan sumber pertumbuhan baru menjadi krusial bagi perekonomian NTT. Hilirisasi komoditas, ekspansi pasar, pengembangan daya terbarukan, dan pariwisata dapat saling melengkapi dalam mendorong aktivitas upaya dan memperluas kesempatan ekonomi.

Media Memperkuat Narasi Potensi Daerah

Konsultan Media Komunikasi Gatot Widakdo mengatakan media mempunyai peran strategis dalam membangun pemahaman publik terhadap kebijakan pemerintah sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi daerah. Di NTT, peran tersebut krusial untuk mengangkat sektor pariwisata, UMKM, dan beragam potensi unggulan agar semakin dikenal masyarakat luas.

Menurut Gatot, di era digital media tidak cukup hanya menyampaikan info secara cepat. Media juga dituntut menghadirkan narasi nan kuat, menarik, dan mudah dipahami, dengan pengemasan cerita serta unsur visual nan bisa memperkuat pesan pemberitaan.

Kemampuan wartawan mengolah potensi lokal menjadi karya jurnalistik nan informatif dan inspiratif dapat membantu memperluas perspektif publik terhadap kesempatan ekonomi di daerah. Pemberitaan nan baik tidak hanya memperkenalkan suatu destinasi, tetapi juga menjelaskan keterkaitannya dengan mata pencaharian masyarakat, perkembangan UMKM, dan kesempatan investasi.

Gatot berambisi aktivitas *Capacity Building Media 2026* nan diselenggarakan Kantor Perwakilan BI Provinsi NTT dapat memperkuat kompetensi jurnalistik sekaligus mempererat kerjasama antara BI, narasumber, organisasi pers, dan media mitra.

Selain sesi obrolan dan pembelajaran, kunjungan lapangan dalam aktivitas tersebut diharapkan memberi pengalaman langsung kepada wartawan untuk memandang potensi wilayah nan dapat dikembangkan menjadi karya jurnalistik berkualitas. Pengalaman tersebut diharapkan menghasilkan pemberitaan nan informatif dan berakibat luas bagi masyarakat, khususnya dalam memperkenalkan potensi pariwisata dan ekonomi di NTT.

Melalui kerjasama antara BI, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan media, potensi ekonomi NTT diharapkan semakin dikenal serta memperoleh perhatian nan lebih luas. Pada saat nan sama, pengembangan komoditas unggulan, industri pengolahan, energi, dan pariwisata perlu melangkah beriringan agar pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan nilai tambah dan faedah nan lebih besar bagi masyarakat. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑