Hati-hati Cosmeticorexia, Obsesi Tak Sehat untuk Punya Kulit Sempurna

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Ilustrasi cosmeticorexia. Foto: Shutterstock

Memiliki kulit sehat dan glowing adalah kemauan banyak perempuan. Berbagai langkah pun dilakukan untuk meraih tampilan kulit itu, mulai dari skin care hingga prosedur medis. Namun, jika angan itu menjadi obsesi nan berlebihan, perihal tersebut justru dapat berakibat negatif.

Dua peneliti dari Italia, ialah Dermatolog Prof. Giovanni Damiani dan Psikolog Alberto Stefana, menggunakan istilah baru untuk mendeskripsikan obsesi tersebut. Namanya adalah “cosmeticorexia”. Istilah ini mereka gunakan dalam tulisan ilmiah terbaru nan diterbitkan di jurnal Dermatology and Therapy pada Maret 2026.

Dalam jurnal tersebut, Damiani dan Stefana mendeskripsikan cosmeticorexia sebagai obsesi tak sehat untuk mempunyai kulit sempurna nan bisa berujung pada pemakaian produk alias prosedur kosmetik nan tidak sesuai dengan usia.

Ilustrasi skincare berkolagen halal. Foto: colnihko/Shutterstock

Istilah ini banyak diperbincangkan usai bumi mulai mencatat meningkatnya jumlah remaja wanita alias anak-anak nan menggunakan produk kosmetik, seperti makeup dan skin care, di usia nan sangat muda. Dikutip dari The Guardian, salah satu rumor nan banyak disorot adalah menjamurnya tren ‘Sephora Kids’ di luar negeri, di mana gerai-gerai kosmetik sekarang semakin diserbu oleh anak dan remaja perempuan.

Menurut Damiani, sebagai master ahli dermatologi, dia mencatat tingginya jumlah pasien usia 8–14 tahun nan mempunyai keluhan kulit seperti dermatitis kontak alergi. Dilansir Healthline, ini merupakan kondisi kulit wajah nan mengalami peradangan alias ruam akibat alergi substansi tertentu, salah satunya bahan-bahan dalam produk kosmetik.

“Mereka semua memakai produk kosmetik nan serupa, termasuk produk eksfoliasi kimiawi seperti retinoid dan alpha hydroxy acid tanpa resep medis nan tepat,” ujar Damiani. Bahan-bahan aktif tersebut memang tidak disarankan untuk dipakai di usia terlalu muda.

Tak hanya itu, Damiani juga memandang adanya perubahan perilaku pada para pasien tersebut, seperti menolak untuk pergi keluar alias berjumpa orang lain tanpa makeup, memakai produk kosmetik secara berlebihan, hingga menonton video-video mengenai kosmetika secara berlebihan.

Ilustrasi skincare. Foto: Shutterstock

Stefana pun mengatakan, media sosial diduga menjadi salah satu aspek nan mendorong terjadinya obsesi terhadap kulit mulus sejak dini.

“Anak-anak nan terobsesi dengan skin care condong terdorong oleh apa nan mereka lihat di media sosial. Jadi, kepercayaan diri mereka tergantung oleh berapa banyak ‘like’ nan mereka dapatkan alias apa nan diucapkan netizen di kolom komentar,” kata Stefana, sebagaimana dilansir BBC.

Hal senada diungkapkan oleh Program Manager Butterfly Foundation, Grace Collinson. Di yayasannya, nan berfokus pada penyuluhan orang-orang dengan gangguan makan dan gambaran tubuh, Grace mencatat adanya peningkatan jumlah pasien nan mengalami stres akibat penampilan, terutama pada anak-anak. Mereka condong berfokus pada mencapai “kesempurnaan”.

Lewat tulisan ilmiah terbaru mereka, Damiani dan Stefana menegaskan bahwa mereka tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut soal kejadian cosmeticorexia serta dampaknya terhadap kesehatan bentuk dan mental.

Ilustrasi Skincare. Foto: Shutterstock

Damiani menjelaskan, dia mau memandang apakah cosmeticorexia pada anak dan remaja wanita dapat dikategorikan sebagai aspek akibat body dysmorphia. Ini merupakan kondisi kekhawatiran dan fiksasi berlebih terhadap perihal nan dianggap sebagai “kekurangan” pada tubuh

“Kedua, kami juga tertarik untuk memahami apakah pemakaian kosmetik di usia nan sangat muda dapat berakibat pada gelombang dermatitis kontak,” kata Damiani.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan