(MI/Seno)
HASIL PISA 2025 membawa berita nan patut diapresiasi bagi pendidikan Indonesia. Skor membaca meningkat dari 359 pada 2022 menjadi 365 pada 2025. Adapun skor sains naik dari 383 menjadi 389. Kenaikan enam poin pada dua bagian tersebut memberi sinyal positif bahwa upaya memperbaiki mutu pembelajaran mulai menunjukkan hasil.
Pada matematika, skor turun tipis dari 366 menjadi 364. Bidang ini jelas tetap menuntut kerja nasional nan lebih keras dan strategi nan lebih tajam. Secara keseluruhan, capaian Indonesia memang tetap berada di bawah rata-rata OECD. Akan tetapi, membaca PISA hanya sebagai daftar kekurangan bakal membikin kita kehilangan pelajaran krusial dari kemajuan nan sudah terjadi (OECD, 2026).
Arah positif itu juga sejalan dengan info nasional. Rapor pendidikan menunjukkan proporsi siswa nan mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari 59,49% pada 2022 menjadi 70,03% pada 2024. Pada numerasi, kenaikannya apalagi lebih besar, dari 45,24% menjadi 67,94% (Kemendikdasmen, 2025). Data ini krusial lantaran menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran tidak melangkah di tempat. Tantangannya sekarang adalah menjaga konsistensi, memperluas dampak, dan memastikan kemajuan tersebut menjangkau seluruh golongan siswa.
CERITA DI BALIK SKOR
Justru di sinilah karakter PISA 2025 menarik untuk dibaca. Laporan ini tidak hanya menyediakan skor, tetapi juga memperlihatkan cerita di kembali skor: gimana siswa belajar, gimana mereka menghadapi kesulitan, dan gimana pembimbing mendampingi proses belajar. Sebanyak 80% siswa Indonesia menyatakan mau tahu terhadap banyak hal, lebih tinggi daripada rata-rata OECD 73%. Sebanyak 74% mengatakan mereka menambah upaya ketika pekerjaan menjadi sulit, dibandingkan 60% rata-rata OECD. Hanya 9% nan menganggap sekolah sebagai pemborosan waktu, jauh di bawah rata-rata OECD 24% (OECD, 2026).
Modal belajar itu semakin kuat ketika dilihat dari keahlian mengatur diri. Sebanyak 90% siswa meminta support pembimbing ketika memerlukan dan 92% meminta support kawan ketika belum memahami sesuatu. Dukungan pembimbing juga menggembirakan: 82% siswa menyatakan pembimbing sains menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa, 85% mengatakan pembimbing terus mengajar sampai siswa memahami, dan 80% memperoleh support tambahan saat membutuhkannya (OECD, 2026). Dengan kata lain, ada fondasi sosial-pedagogis nan cukup baik untuk mempercepat peningkatan mutu hasil belajar.
GROWTH MINDSET
Namun, cerita positif tersebut sekaligus membawa pertanyaan kebijakan: kenapa modal belajar nan relatif kuat itu belum sepenuhnya terkonversi menjadi capaian akademik nan tinggi? Salah satu jawabannya terlihat pada growth mindset. PISA 2025 mencatat baru 30% siswa Indonesia mempunyai growth mindset, bandingkan dengan 69% rata-rata OECD. Di Indonesia, siswa dengan growth mindset memperoleh skor sains sekitar 17 poin lebih tinggi daripada siswa dengan fixed mindset setelah memperhitungkan latar belakang sosial-ekonomi siswa dan sekolah (OECD, 2026).
Angka itu tidak boleh dibaca sebagai stigma baru terhadap siswa Indonesia. Sebaliknya, dia menunjukkan ruang intervensi nan sangat konkret. Growth mindset bukan talenta bawaan, tetapi kepercayaan bahwa keahlian dapat berkembang melalui usaha, strategi nan tepat, umpan balik, latihan, dan kemauan untuk terus belajar. Ketika siswa percaya bahwa keahlian bisa berkembang, kesalahan tidak lagi dipahami sebagai vonis, melainkan sebagai info untuk memperbaiki langkah belajar.
Di sinilah pembelajaran mendalam (PM) memperoleh relevansi strategis. PM dapat menjadi jembatan untuk mengubah rasa mau tahu menjadi keahlian menyelidiki, ketekunan menjadi keahlian memecahkan masalah, support pembimbing menjadi kemandirian belajar, dan refleksi menjadi kesadaran untuk terus bertumbuh kembang. Prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan kudu datang dalam pengalaman memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Dengan demikian, PM bukan tambahan administratif, melainkan langkah untuk memperdalam proses belajar nan sebenarnya sudah mempunyai banyak modal positif.
PISA 2025 juga menunjukkan 53% siswa Indonesia menggunakan AI chatbot untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu, lebih tinggi daripada rata-rata OECD 46% (OECD, 2026). Ini membuka kesempatan besar, tetapi juga menuntut arah pedagogis nan jelas. Tanpa PM, AI mudah menjadi jalan pintas dan karbitan untuk memperoleh jawaban secara instan. Dengan PM, AI dapat dipakai untuk bertanya, membandingkan argumen, mencari bukti, menguji gagasan, dan memperdalam penalaran.
PENDIDIKAN BERMUTU
Semua temuan ini relevan dengan misi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu'ti: Pendidikan Bermutu untuk Semua, nan menekankan pemerataan akses sekaligus agunan mutu (Kemendikdasmen, 2025). Kata ‘bermutu’ menuntut peningkatan capaian, sedangkan ‘untuk semua’ menuntut agar kemajuan tidak hanya dinikmati sekolah elite dan/atau golongan siswa tertentu. Karena itu, keberhasilan ke depan tidak cukup diukur dari naiknya capaian rata-rata nasional, tetapi juga dari keahlian sistem pendidikan mengangkat siswa nan paling tertinggal.
PISA 2025 memberi kita argumen untuk optimistis sekaligus bekerja lebih keras. Skor membaca dan sains meningkat, literasi dan numerasi nasional membaik, rasa mau tahu serta ketekunan siswa kuat, serta support pembimbing menunjukkan fondasi nan menjanjikan. Matematika tetap memerlukan perhatian serius, sementara growth mindset perlu diperkuat secara sistematis di kalangan siswa dan guru.
Tugas kebijakan sekarang adalah mengonversi seluruh modal positif itu menjadi hasil belajar nan lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih merata. Jika PM bisa memainkan peran tersebut, PISA tidak lagi sekadar laporan tiga tahunan tentang posisi Indonesia, tetapi juga menjadi kompas untuk semakin mendekatkan kita pada cita-cita Pendidikan Bermutu untuk Semua.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·