Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim Jadikan Peternak Lokal Pemasok Utama Makanan Bergizi Gratis

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Harga Telur Anjlok, Pemprov Jatim Jadikan Peternak Lokal Pemasok Utama Makanan Bergizi Gratis Ilustrasi(Dok Istimewa)

DI tengah ambruknya harga telur di sejumlah wilayah di Jawa Timur, Pemprov Jatim mengambil langkah berani dengan menggandeng puluhan asosiasi dan koperasi peternak di seluruh Jatim sebagai pemasok utama telur untuk Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur. 

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, mengumpulajn semua asosaisi dan peternak di Jatim, di di Dinas Peternakan Jatim Surabaya. Mereka juga menandatangani kesepakatan pemasok telur sebagai salah satu komponen untuk MBG.

“Ini sebagai salah satu respon kami terhadap turunnya nilai telur di Jatim. Kami membujuk  bicara semua asosiasi dan peternak untuk mencari solusi,” kata Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak di Surabaya, Sabtu (6/6). 

Dalam pertemuan itu disepakati bahwa Pemprov Jatim dan Badan Gizi Nasional (BGN) telah sepakat menyusun tiga strategi dalam merespon anjloknya nilai telur ayam ras nan membikin ribuan peternak di Jatim merugi, Jumat 5 Juni 2026.

Pertama, soal penggunaan menu telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) minimal tiga kali dalam seminggu. Langkah tersebut dibuat untuk mempercepat penyerapan surplus telur Jatim nan membikin nilai anjlok. BGN, kata Emil telah setuju dengan syarat minimal menu telur tiga kali seminggu tersebut. 

Kedua, asosiasi alias koperasi peternak telur rakyat di Jawa Timur bersedia menyediakan supply telur dan mengantar ke letak Dapur Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jatim sesuai dengan standar kualitas nan telah disepakati.

Ketiga, transaksi jual beli telur dilakukan langsung ke asosiasi alias koperasi petelur dengan nilai minimal Rp24.000 per kilogram. ”Dan bakal dinaikkan secara berjenjang sesuai dengan nilai referensi pemerintah,” terang Emil. 

Di tingkat peternak, nilai telur saat ini berkisar Rp20.000- Rp20.500 per kilogram. Padahal di tingkat konsumen, nilai telur saat ini bisa tembus hingga Rp27.500 hingga Rp30.000 kilogram. Sementara di tingkat SPPG, telur dibeli dari supplier seharga Rp25.000 per kilogram. ”Untuk itu, kami mendorong agar SPPG membeli langsung ke peternak alias koperasi,” kata Emil. 

Cara ini sebagai salah satu solusi agar telur di peternak tetap terserap dengan nilai nan dianggap wajar. “Ini bagian intervensi pemerintah agar mereka tetap eksis,” katanya.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia