Harga Solar Non Subsidi Melejit, Pengamat Sebut Bisa Dorong Peralihan ke PHEV

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi mobilPlug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Foto: Dok. Motor1

Kenaikan nilai BBM solar non subsidi dinilai berpotensi mengubah perilaku konsumen di segmen menengah ke atas. Lonjakan biaya operasional membikin pengguna kendaraan diesel mulai mempertimbangkan pengganti nan lebih efisien dalam jangka panjang.

Pengamat otomotif sekaligus akademisi dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai kondisi ini bisa menjadi momentum peralihan ke teknologi elektrifikasi seperti hybrid maupun plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

Terlebih, karakter PHEV dinilai tetap relevan dengan kebutuhan konsumen nan menginginkan performa sekaligus efisiensi.

“Kenaikan nilai BBM diesel non subsidi secara logis bakal meningkatkan total cost of ownership (TCO) kendaraan diesel sekitar 1,25–1,4 kali dari sebelumnya,” kata Yannes kepada kumparan, Selasa (22/4/2026).

Ilustrasi solar. Foto: brodin/Shutterstock

Ia menjelaskan, kenaikan biaya operasional tersebut sudah cukup signifikan untuk memicu perubahan preferensi konsumen. Dalam teori ekonomi, lonjakan nilai pada komponen utama seperti bahan bakar bisa mendorong peralihan ke teknologi lain nan lebih efisien.

“Ini cukup signifikan untuk mengubah perilaku konsumen, lantaran dalam teori ekonomi, kenaikan lebih dari 20 persen pada komponen dominan sudah cukup mendorong substitusi teknologi misalnya beranjak ke hybrid alias PHEV,” katanya.

Wuling Eksion PHEV di IIMS 2026. Foto: Sena Pratama/kumparan

Lebih lanjut, dia menilai biaya per kilometer kendaraan diesel sekarang menjadi kurang kompetitif dibandingkan teknologi elektrifikasi. Hal ini membikin kendaraan hybrid maupun PHEV mempunyai daya tarik lebih, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.

“Ketika nilai solar non subsidi naik, biaya per km kendaraan diesel meningkat, sementara hybrid alias PHEV menawarkan biaya daya per km lebih rendah, menggunakan listrik dan efisiensi mesin,” ujarnya.

Pengisian daya baterai mobil listrik Toyota Prius PHEV. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Menurutnya, dalam jangka menengah, konsumen logis bakal mulai menghitung ulang total biaya kepemilikan kendaraan. Jika selisih biaya semakin besar, maka peralihan ke teknologi baru menjadi pilihan nan masuk akal.

“Sehingga secara logis menjadi substitusi nan lebih efisien dalam jangka menengah bagi mereka nan tingkat operasionalnya tinggi,” tutupnya.

Artinya, kenaikan nilai solar tak hanya berakibat pada biaya perjalanan, tetapi juga berpotensi mempercepat transisi pasar otomotif menuju kendaraan elektrifikasi, khususnya di segmen konsumen nan sensitif terhadap biaya operasional.

Pengisian daya baterai mobil Toyota Prius PHEV. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan