Harga Pelumas Mulai Beterbangan, Ternyata Ini Biang Keroknya

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan nilai oli nan belakangan naik gila-gilaan menekan inflasi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pelumas alias oli mesin mengalami inflasi sebesar 3,85% pada Mei 2026 dengan andil 0,01% terhadap inflasi bulanan. Kenaikan itu terjadi di tengah lonjakan biaya transportasi nan juga dipengaruhi oleh naiknya nilai bahan bakar minyak (BBM).

Di tengah sorotan tersebut, Corporate Secretary Pertamina Lubricants Rika Gresik Wahyudi menjelaskan, dinamika nilai pelumas tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar global, terutama mengenai pasokan dan nilai bahan baku utama pelumas, ialah base oil.

"Base oil merupakan bahan baku utama dalam produksi pelumas dan sebagai turunan produk minyak bumi kondisi nilai dan supply base oil terdampak dinamika geopolitik bumi saat ini. Kendala tersebut tentunya menjadi salah satu aspek penyesuaian nilai jual produk pelumas. Sebagai perusahaan nan menjunjung tinggi good corporate governance kami senantiasa melakukan analisa, evaluasi, dan mempertahankan daya saing produk pelumas karya anak bangsa," kata Rika kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (5/6/2026).

Tekanan dari pasokan dunia memang menjadi tantangan nan tidak bisa dihindari oleh industri pelumas. Meski demikian, perusahaan memastikan upaya menjaga keberlanjutan pasokan tetap menjadi prioritas agar kebutuhan pasar domestik dapat terpenuhi.

"Tidak dapat dipungkiri situasi dunia saat ini mempengaruhi pasokan bahan baku. Namun kami terus berupaya memberikan pelayanan nan terbaik kepada seluruh mitra upaya dengan tetap mengedepankan kualitas dan kesiapan produk-produk pelumas kami," ujarnya.

Rika menegaskan, pasar pelumas nasional saat ini tetap sangat kompetitif. Banyaknya merek dan jenis nan beredar membikin konsumen mempunyai keleluasaan untuk memilih produk sesuai kebutuhan kendaraan maupun keahlian shopping masing-masing.

Lebih lanjut, dia mengakui kenaikan nilai berpotensi memengaruhi perilaku konsumen, termasuk dalam menentukan gelombang penggantian oli alias memilih produk dengan rentang nilai nan lebih rendah. Namun, Pertamina mengingatkan agar aspek perawatan kendaraan tidak diabaikan hanya lantaran pertimbangan biaya.

"Tentunya potensi perubahan pola konsumsi pelumas tidak dapat dihindari. Tapi kami mengimbau agar konsumen selalu jeli melakukan perawatan mesin kendaraan bermotornya, termasuk melakukan service berkala, mengganti oli sesuai anjuran, dan menghindari penggunaan oli palsu," kata Rika.

Sebelumnya, BPS mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 0,28% secara bulanan. Kelompok transportasi menjadi salah satu penyumbang utama inflasi dengan kenaikan sebesar 0,61%.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan, selain bensin dan tarif pikulan udara, kenaikan nilai pelumas turut menjadi aspek nan mendorong inflasi pada periode tersebut. Pelumas alias oli mesin tercatat mengalami inflasi 3,85%, sementara jasa pemeliharaan alias servis kendaraan naik 0,70%.

Kondisi ini menunjukkan biaya kepemilikan kendaraan bermotor semakin meningkat, mulai dari pengisian bahan bakar hingga kebutuhan perawatan rutin kendaraan.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News